
"Bagaimana kabarmu hari ini, sayang?" tanya Alden melalui telepon.
"Aku baik-baik aja, kok. Walaupun semua badanku rasanya remuk," kata Floretta. Wajahnya sedikit memerah mendengar panggilan sayang dari sang suami. Dia masih belum terbiasa dengan panggilan itu.
"Huh! Bisa-bisanya Kak Raven mengerjaimu, saat aku nggak ada di istana. Mereka nggak berbuat macam-macam padamu, kan? Kalau mereka udah keterlaluan, bilang aja sama aku," balas Alden lagi.
"Eh? Kak Raven nggak ngapa-ngapain, kok. Dia beneran melatih dan mengujiku supaya bisa bertahan di istana sebagai calon ratu," jawab Floretta.
"Hah? Serius? Kamu nggak bohong, kan? Apa mereka mengancammu? Nggak usah takut untuk cerita sama aku." Alden meragukan cerita dari istrinya.
"Iya, beneran. Dia juga membelaku, waktu para pelayan hendak membully-ku," ungkap Floretta dengan wajah serius. "Besok aku bukan pelayan gudang dan dapur lagi, tetapi pelayan pribadi Kak Raven," imbuhnya.
"Aku jadi penasaran. Gimana caranya dia melatihmu jadi calon ratu, dengan menjadikanmu seorang pelayan?" tanya Alden dengan bingung.
Floretta pun menceritakan semuanya, sampai mereka berdua mengantuk dan tertidur.
...🦇🦇🦇...
"Kenapa terlambat? Bukannya aku sudah memintamu untuk datang ke sini jam enam pagi?"
Raven memarahi Floretta yang kini resmi menjadi pelayan pribadinya. Wanita itu terlambat dua belas menit dari waktu yang telah dijanjikan. Sementara pria itu telah rapi dengan kemeja sutra berwarna cokelat tua, dan rambut ditata rapi.
"Maaf, Yang Mulia. Aku ..."
"Sibuk video call sama suami sampai tidur kemaleman?" sela Raven, memotong ucapan Floretta.
Floretta mengangkat wajahnya, dengan kedua mata terbuka lebar. "Dari mana Yang Mulia tahu?" gumam wanita itu.
"Aku bisa melihat lingkar mata di wajahmu. Tetapi wajahmu terlihat semringah," jelas Raven. "Huh! Dasar bucin! Itu makanya aku belum mau menikah," gerutu Raven mendengus kesal.
"Ma-maaf. Lain kali aku nggak akan terlambat," ucap Floretta.
"Ayo ikut aku!" perintah Raven dengan dingin.
__ADS_1
Floretta mengikuti langkah kaki pria itu dengan dada berdegup kencang. Mereka memasuki ruang pribadi Raven, yang tanpa sengaja didatangi oleh Floretta kala itu.
Langkah kaki Floretta terhenti di depan pintu. Dia ragu untuk memasuki ruangan yang dikatakan terlarang itu.
"Ayo masuk! Kali ini aku mengizinkanmu untuk menginjakkan kaki di sini," ucap Raven yang mengerti keraguan hati sang putri dari dunia manusia tersebut.
Floretta pun melangkahkan kaki memasuki ruangan itu dengan napas tertahan. "Semoga dia nggak berbuat macam-macam padaku," doa Floretta dalam hati.
"Tolong buatkan sarapan untukku. Pagi ini aku mau sneem black puding, dari darah domba dan kelinci. Lalu dua porsi wicklow pancake dengan daging ham sapi di dalamnya. Jangan lupa teh melati juga. Dapurnya ada di sebelah sini," perintah Raven.
"Baik, Yang Mulia," ujar Floretta. "Ah, ternyata dia makan makanan normal juga? Ku pikir dia hany meminum darah untuk memenuhi nutrisinya," batin Floretta sembari melangkahkan kaki, ke arah yang ditunjuk sang pangeran.
Seperti dalam kamar miliknya, Raven ternyata juga memiliki dapur sendiri di ruangannya. Sepertinya pria ini suka memasak sendiri di kala senggang.
Lima belas menit kemudian, sarapan pagi untuk sang pangeran pun sudah tersedia di meja makan. Aroma daging sapi yang dipanggang, berpadu dengan aroma teh melati yang diimpor khusus dari negara kepulauan di wilayah tropis.
"Silakan, Yang Mulia," ujar Floretta.
"A-apa?" tanya Floretta tak percaya.
"Apa kau tuli? Aku menyuruhmu duduk di hadapanku," ucap Raven dengan intonasi tinggi.
"Ba-baik," jawab Floretta buru-buru. Meskipun bingung, tetapi wanita itu terpaksa menuruti perintah sang pangeran.
"Ini, makanlah," ucap Raven sembari menyodorkan sepiring wicklow pancake ke hadapan adik iparnya tersebut.
"Eh?" Floretta semakin tidak mengerti dengan sikap Raven Black, yang bisa berubah menjadi baik dan jahat hanya dalam hitungan detik.
"Aku tahu, kamu pasti belum sarapan. Jadi isilah perutmu dulu. Aku nggak mau menggotong manusia, yang pingsan karena belum sarapan. Pekerjaan kita hari ini masih banyak," kata Raven tanpa senyum sedikit pun di wajahnya.
"Baik, Yang Mulia. Terima kasih banyak." Floretta tak bisa menyembunyikan senyumannya, melihat sikap sang tsundere sang kakak ipar.
Mereka lalu sarapan pagi, tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikit pun. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar di ruangan mewah tersebut.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, pagi ini tidak terlihat segelas darah segar di meja sang pangeran. Dia mengganti menu sarapan darahnya dengan sneem black puding, yang terbuat dari darah domba dan kelinci, yang dicampur dengan tepung gandum dan rempah lainnya sebelum di panggang. Lalu sepiring wicklow pancake untuk menu penutup sarapannya.
Apa dia sengaja, karena menghormati Floretta yang sedang sarapan pagi bersamanya?
"Kamu tahu, kan? Perayaan ulang tahun Raja akan dilaksanakan dua hari lagi. Apa kamu sudah siap untuk melihat para vampir meminum darah manusia bersama-sama?" tanya Raven tiba-tiba.
"A-apa?"
Floretta yang sedang menuangkan hangat dari teko kristal, hampir saja menuangkan semua isinya ke dalam cangkir milik Raven.
"Kamu nggak akan bisa menghindar dari hal itu selamanya, jika tetap tinggal di sini," sambung Raven lagi.
Floretta menelan ludah, sebelum merespon kalimat sang pangeran. "Aku sudah siap, Yang Mulia. Lagipula darah manusia itu kan diperoleh secara legal tanpa menyakiti manusia," jawab Floretta dengan tenang.
Raven tersenyum kecil mendengar jawaban wanita di hadapannya. "Benar-benar nekat manusia satu ini. Tapi dia tetap bisa menjawab dengan bijak," batin Raven.
"Baiklah kalau begitu. Aku cuma mau mengingatkanmu aja. Tapi jangan sakit hati, jika nanti Alden belum mengenalkanmu pada publik di hari ulang tahunnya. Karena waktunya belum tepat," ujar Raven mengingatkan.
"Aku mengerti, Yang Mulia," jawab Floretta dengan sopan. Tidak ada gurat emosi sedikit pun di wajahnya yang ayu.
"Kau sudah selesai sarapan, kan?" tanya Raven. Floretta pun mengangguk. "Kalau begitu ayo ikut aku," sambungnya lagi.
"Tapi ini?" Floretta menunjuk ke arah meja makan yang masih berserakan.
"Pelayan di sini bukan cuma satu. Biarkan mereka membereskannya. Sekarang kamu ikut aku.'
Raven mengajak Floretta memasuki sebuah pintu yang cukup kecil. Keduanya lalu berjalan di sebuah lorong sempit yang berkelok-kelok dan hanya diterangi oleh beberapa lampu dengan cahaya redup. Dindingnya tidak diplester, seperti bangunan tua yang pernah Floretta lihat di kawasan wisata sejarah.
"Rupanya ada tempat seperti ini juga di istana," guma Floretta takjub. Dia tak menyangka ada tempat unik seperti ini di istana yang modern.
"Tapi dia mau membawaku ke mana? Bukan mengajakku ke tempat sepi, lalu membunuhku, kan?" Pikiran liar mulai memenuhi kepala Floretta.
(Bersambung)
__ADS_1