Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 88. Rahasia Besar Istana


__ADS_3

Floretta menatap langit-langit bercorak klasik. Dia baru saja terjaga setelah transfusi darah, dan mendapati dirinya telah berada di dalam kamar istana. Ternyata baru dua jam berlalu, sejak dia mendonorkan darahnya untuk sang pelayan.


Wanita itu tak mengingat, bagaimana proses transfusi darah dilakukan. Karena dia benar-benar terlelap, dan tak menyadari kapan dia dibawa pulang ke istana.


Drrtt!


Baru saja wanita itu hendak mengecek ponselnya, sebuah pesan dari Alden pun masuk. Floretta pun mengambil benda elektronik itu di bawah bantalnya.


"Apa kamu sudah bangun? Keadaan Lily berangsur membaik setelah menerima transfusi darah dari darimu." Tulis Alden dalam pesannya.


"Kamu istirahat saja di dalam kamar. Aku sedang ada rapat dengan dewan penasehat istana. Kalau butuh apa-apa, hubungi aja Bu Magenta," pesan Alden lagi, sebelum Floretta sempat membalasnya.


"Uh! Rasanya aku malas ketemu siapa-siapa hari ini."


Floretta meletakkan HP-nya kembali, setelah membalas pesan dari sang suami. Kedua tangannya menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian wajah. Perasaannya benar-benar buruk, setelah mendengar ucapan Lilac yang keceplosan tadi.


"Pasti ada suatu rahasia besar yang disembunyikan mereka dari aku. Waktu itu Erlina juga pernah bilang, kan? Apa aku yang terlalu lugu karena udah menerima Alden gitu aja?"


Floretta kembali bimbang dengan keputusannya, untuk tetap berada di kerajaan ini. Alden tak pernah terbuka dengannya. Dan semakin hari, misteri kematian kedua orang tuanya dan kerajaan ini semakin mencuat.

__ADS_1


"Nggak, jangan berpikir yang bukan-bukan. Jelas-jelas yang mau membunuhku adalah Erlina, dan yang menyelamatkanku itu Alden. Sekarang lebih baik aku memikirkan, apa yang bisa kulakukan untuk menjadi ratu di sini."


Floretta kembali mengumpulkan semangatnya. Dia lalu menuju ke ruang baca di salah satu sudut kamar itu, dan mengambil beberapa buku di dalam rak buku. Wanita itu hendak belajar untuk ujian calon ratu.


"Eh, kok aku nggak pernah melihat buku ini? Apa Kak Raven yang meminjamkannya padaku kemarin?"


Floretta melihat sebuah buku bersampul hitam, terselip di antara buku-buku lainnya. Menariknya, buku itu tampak berkilauan dan memiliki kulit sampul yang cukup tebal.


"Buku apa sih ini? Gak ada judulnya malah bikin penasaran banget," ujar Floretta mengambil buku tersebut.


Ternyata sampul tebal tersebut merupakan sebuah kotak yang memiliki kunci rumit diluarnya. Buku di dalamnya baru busa dikeluarkan, dengan memecahkan teka-teki rumit yang terletak di sampul buku tersebut.


Floretta berpikir demikian, karena teka-teki tersebut merupakan kombinasi perhitungan fisika dan aljabar matematika. Wanita yang terlanjur penasaran itu pun memutar otakknya, supaya bisa memecahkan teka-teki tersebut. Dia menggali ingatannya tentang pelajaran SMA, yang pernah dia pelajari dulu.


"Susah banget sih, pecahin teka-tekinya? Semakin susah, artinya isi buku ini semakin rahasia, kan?"


Wanita itu tak menyerah untuk memecahkan teka-teki dengan simbol ilmiah itu. Empat puluh menit kemudian, Floretta akhirnya menyelesaikan dari teka-teki tersebut. Itu pun dengan bantuan internet.


Sudah tak sabar, sang calon ratu itu pun membuka menekan pin berupa simbol ilmiah itu, sesuai dengan hasil teka-teki yang dia dapatkan. Trak! Kunci itu terbuka. Floretta berhasil. Dia lantas mengambil buku dan membacanya.

__ADS_1


Semula tak ada sesuatu yang aneh. Buku itu hanya berisi curahan hati Alden Black yang ditulis dengan tinta hitam, dan tulisan acak-acakan. Sepertinya itu buku diary sang raja saat masih kanak-kanak.


Namun perlahan semuanya berubah saat tulisannya mulai terlihat rapi, dan Alden berulang kali menuliskan kata maaf. Lembar berikutnya dia kembali menuliskan kata maaf, dan menyebutkan kesalahannya.


"Maafkan aku telah ikut membunuh Tuan Aldric Blue dan Nyonya Zinnia Blue. Semoga Dewa mengampuni kesalahanku," tulis Alden dengan jelas.


"A-apa ini?"


Air mata Floretta meleleh, membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di dalam buku tersebut. Napasnya sesak, mengetahui kenyataan pahit itu. Bayangannya terhadap wajah kedua orang tuanya yang pucat pasi dan terbujur kaku itu, kembali tergambar jelas di kepalanya.


Ceklek!


"Sayang udah bangun? Aku bawain ..."


"Apa maksudnya ini, Al? Jadi benar kamu dan Kak Raven membunuh kedua orang tuaku?" Floretta menyambut kedatangan Alden dengan sebuah omelan, dan memotong kalimat pria itu.


"Apa maksudmu?" Alden terkejut mendengar ucapan sang istri.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2