
Floretta Blue melangkah anggun memasuki aula istana bersama sang suami, Alden Black. Wanita itu mengenakan gaun putih yang terbuat dari bahan satin dan sutra terbaik. Gaun dengan model ballgown dress tersebut dihiasi dengan lambang bunga, disulam menggunakan benang emas, perak dan sutra pastel.
Kemewahan gaun kerajaan itu semakin ditunjukkan dengan taburan mutiara, manik-manik dan kristal, yang menandakan menandakan kemakmuran kerajaan tersebut. Bagian pinggang dan dada yang dihiasi dengan motif bunga berwarna perak, juga menunjukkan kedamaian negeri vampir tersebut.
Senyuman manis terukir di bibir mungil wanita berkulit putih itu. Rambut hitamnya ditata low twist updo. Sebuah headpiece perak bermotif daun dan floral, menambah anggun tampilan putri dari dunia manusia tersebut.
Sementara sang suami mengenakan pakaian militer resmi kerajaan vampir yang gagah dan elegan. Keseluruhan seragam militer itu terdiri dari mantel hitam lengan panjang, celana hitam, selempang kerajaan yang disulam dari benang emas dan perak, sarung tangan putih serta sabuk abu-abu di bagian pinggangnya. Seluruh kaum hawa yang hadir di ruangan megah itu terpana dengan ketampanan raja vampir yang begitu sempurna. Tak lupa beragam bintang pernghargaan yang melekat di bagian dadanya.
“Kamu nggak lupa caranya bernapas, kan?” tanya Alden memecah keheningan.
“Hah, apa sih?” Hampir saja Floretta tergelak mendengar pertanyaan nyeleneh dari sang suami.
“Habisnya wajah kamu kaku banget kayak manekin,” kata Alden lagi.
“Ya mau gimana lagi? Aku nggak nyangka bakal ada di posisi ini. Padahal dua minggu yang lalu aku hampir membunuh seorang raja vampir,” balas Floretta sambil melirik tipis.
Floretta Blue tahu bahwa pria di sebelahnya itu memang tampan. Malah sepertinya Alden Black adalah lelaki paling tampan yang pernah dia temui selama hidup di dunia. Namun tetap saja dadaya berdegup kencang, saat bertemu pandang dengan raja vampir tersebut.
Lelaki itu memiliki hidung yang mancung, tulang pipi yang tinggi dan tegas berbentuk huruf L. Bibirnya penuh dan bagian bawahnya terbelah tengah. Dadanya bidang dan bahunya tegak, menunjukkan bahwa dirinya memiliki tubuh yang atletis.
“Kenapa lihatin aku kayak gitu? Terpesona sama ketampananku?” bisik Alden seraya mengedipkan matanya dengan nakal.
“Hilih, ge’er banget, sih?” Floretta melengos pelan, sambil memutar bola matanya ke arah lain.
Dada wanita itu semakin berdegup kencang. Tetapi kali ini bukan karena Alden, melainkan deretan para tetua vampir yang duduk berbaris di aula. Mereka semua telah menantikan kedatangan calon ratu mereka.
Ya, hari ini adalah penobatan Floretta Blue menjadi seorang ratu di negeri vampir. Dua minggu yang lalu setelah unjuk rasa di berbagai tempat, dewan penasehat istana serta anggota dewan istana yang masih tersisa mengadakan rapat terbatas. Mereka membahas kekacauan yang terjadi di negara tersebut.
Keputusan dari rapat tersebut adalah ujian ulang calon ratu bagi Floretta. Meskipun hasil voting seluruh rakyat menunjukkan bahwa hanya enam puluh tujuh persen yang setuju terhadap Floretta, tetapi hasil ujian yang begitu sempurna memutuskan, bahwa Floretta Blue dari dunia manusia layak menjadi seorang ratu.
__ADS_1
“Jangan berpikir untuk menjadi sempurna di acara ini. Berpikirlah untuk memberikan yang terbaik bagi dirimu sendiri.” Alden memberikan wejangan pada Floretta untuk meredakan rasa gugup wanita belahan hatinya tersebut. Dia lalu melepaskan genggaman tangannya pada wanita itu, agar acara penobatan ratu lekas di laksanakan.
Rangkaian demi rangkaian acara pun terlaksana dengan baik. Ini adalah kejadian yang sangat langka, karena biasanya penobatan seorang ratu dilakukan bersamaan dengan penobatan raja.
Hari itu, Floretta Blue pun resmi menjadi seorang ratu, ditandai dengan pemasangan bebuah tiara bernama wittelwasch blue yang dibuat tiga ratus tahun yang lalu. Mahkota kerajaan ini dihiasi lusinan berlian biru dan merah muda yang langka, serta berlian safir biru cerah yang berkilauan.
Tak hanya mahkota bertakhta berlian, The Robe of Estate alias jubah kerajaan juga dikenakan oleh Floretta. Jubah yang megah itu dibuat oleh dengan dua belas jenis sulaman, menggunakan delapan belas jenis benang emas yang berbeda. Pembuatannya pun membutuhkan lebih dari tiga ribu jam.
Floretta Blue secara resmi menyandang nama Floretta Black von Hiregald, gelar resmi penguasa tertinggi kerajaan vampir, sama seperti suaminya.
Tidak hanya Floretta yang naik tahta hari itu. Raven Black yang kini menyandang gelar Raven Black von Heitman juga dinobatkan sebagai Ketua Dewan Penasehat Istana yang baru. Dia dianggap oleh seluruh tetua vampir, telah mampu menyandang tanggung jawab yang lebih besar lagi. Raven bukanlah vampir buas seperti dulu lagi.
Sementara yang mengisi jabatan lama Raven sebagai Panglima Perang Kerajaan adalah Leon Hazel, yang telah banyak berkorban bagi keluarga istana. Edmund Grey von Stolberg yang telah berjasa menyelamatkan raja dan membongkar rahasia licik para bangsawan, dipercaya menjadi bendahara utama kerajaan. Jabatan ketua dewan istana pun kosong saat ini.
...🦇🦇🦇...
“Sialan! Seharusnya aku yang berada di sana. Bukan manusia rendahan itu.”
Erlina mengumpat kesal, sambil menendang dinding batu yang berlumut tersebut. Wanita berpendidikan tinggi itu dikurung, karena ketahuan mengatur rencana pembunuhan raja dan Floretta kala itu. Kekuatan sihirnya disegel, sehingga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Diamlah, bangsat!” bentak Novac yang berada di sel sebelah. Hukuman pria itu sedikit lebih ringan dibandingkan sang adik. Meskipun kekuatan sihirnya juga disegel, tetapi tiga puluh tahun lagi dia akan bebas dari penjara menyesakkan ini.
Sementara Russell Krimson, Daisy Krimson, Rose Fuchsia, Amber Geranium dan beberapa orang yang terlibat lainnya, menerima hukuman penjara selama dua puluh tahun penjara. Setelah keluar dari penjara nanti, mereka juga wajib mengabdi pada kerajaan di tempat-tempat sosial.
Artinya, masa depan dengan kehidupan mewah dan glamor yang mereka semua impikan, kini telah hancur akibat ketamakan mereka sendiri.
...🦇🦇🦇...
Malam semakin larut dan suasana yang tenang menghantarkan kantuk yang teramat kuat untuk Floretta. Rangkaian acara resmi kerajaan hari ini benar-benar melelahkan. Padahal itu hanyalah awal dari kesehariannya di kerajaan ini.
__ADS_1
Kelopak mata Floretta mulai terpejam, tatkala kepulan asap hitam pekat berembus masuk melalui sela-sela pintu. Asap tersebut melayang rendah, bergerak menuju ranjang di mana Floretta mulai terlelap. Asap itu perlahan berhenti bergerak di posisi tempat tidur yang kosong, tepat di samping tubuh Floretta dan berubah menjadi sosok seorang pria.
“Dia pasti lupa, kalau mulai malam ini kami harus tidur dalam satu kamar,” gumam Alden lirih.
“Umhh …”
Lenguhan lembut keluar dari bibir merah wanita itu, karena sentuhan halus dari jemari berkulit pucat yang mengusap pipinya. Kelopak matanya pun perlahan terbuka.
“Alden?” seru Floretta kaget.
Pria berkaus putih itu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan Floretta agar tidak berbicara. Tatapannya memuja tubuh memukau tanpa cela milik Floretta, yang hanya dibalut dengan dress mini berwarna putih transparan. Terlihat begitu seksi dan padat di area tertentu, namun langsing di area lainnya.
Menyadari suasana aneh itu, Floretta buru-buru menarik selimut dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Napasnya mulai sesak, saat Alden mengusap bahunya yang terbuka.
“Gak ada alasan bagimu, untuk menolakku malam ini,” bisik Alden serya menyeringai tipis.
Tenaganya yang lebih kuat, menyingkirkan kedua tangan mungil Floretta yang menutupi area dada. Selimut tebal dari wol dan beludru itu pun tersingkap dan terlempar ke lantai.
Floretta sedikit meronta. Namun hal itu justru semakin mempermudah gerakan Alden, melucuti kain yang menempel di tubuh sang ratu. Sekali hentakan, pita yang melingkar di pinggang wanita itu pun terlepas, memperlihatkan seluruh isinya yang menawan.
“Al,” seru Floretta sambil menatap tajam.
Alden tak menyahut. Dia membungkam bibir sang istri dengan kecupan manis, sementara tangannya bergerak liar di area lain.
“Umh …” Floretta kembali melenguh, saat dirinya mulai basah.
Jleb! Alden pun memasukkan sebagian kecil dirinya ke dalam raga sang ratu. Keduanya resmi bersatu.
(Bersambung)
__ADS_1