Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 52. Makan Malam Mengerikan


__ADS_3

“Hazel! Gawat!” Lily berlari mendekati pengawal tampan itu dengan napas terengah-engah.


“Ada apaan?” Leon yang sedang membawa setumpuk buku dari perpustakaan itu, memandang Lily dengan tatapan heran.


“Gawat! Ini gawat! Aku tadi lagi ke ruang laundry, mengantar pakaian Yang Mulia. Terus …”


“Terus?” Leon mengerutkan keningnya. Tak sabar menanti kelanjutan ucapan rekan kerjanya tersebut.


“Terus waktu aku balik lagi Yang Mulia Putri Floretta udah hilang! Pintu kamarnya terbuka lebar,” sambung Lily dengan wajah panik.


“Oh, soal itu … Gak usah panik. Tadi para pengawal lihat, kalau Yang Mulia Putri Floretta berlari ke arah kastil Pangeran Raven untuk mengejar kucingnya,” sahut Leon Hazel dengan santai.


“Apa? Justru itu lebih gawat lagi! Kastil Pangeran Raven kan terlarang untuk siapa pun. Apalagi Yang Mulia Putri Floretta yang seorang manusia,” ujar Lily.


“Hei, daripada kamu memusingkan hal itu, lebih baik bantu aku bawain buku-buku ini ke dalam kamar Yang Mulia Putri Floretta,” kata Leon seraya menyodorkan tumpukan buku itu ke hadapan pelayan berkulit pucat tersebut.


“Hei, aku nggak sedang bercanda, Hazel!” omel Lily seraya mengambil dua buah buku dari Leon Hazel.


“Aku juga nggak sedang bercanda, Lily. Yang Mulia baik-baik aja. Kalung yang digunakannya nggak mengirimkan sinyal bahaya. Sebentar lagi beliau pasti kembali,” balas Leon lagi.


“Apa kamu lupa? Apa yang terjadi terakhir kali, waktu salah seorang putri tersesat ke kastil Pangeran? Dia tewas mengenaskan. Aku nggak mau Yang Mulia Putri Floretta …”


“Ada apa dengan Floretta? Kenapa kalian ribut di lorong?” Alden yang baru saja datang, langsung menginterogasi kedua muda-mudi itu.


“Mampus aku! Setelah ini aku pasti dipecat, karena nggak bisa menjaga Putri Floretta dengan benar,” batin Lily resah.


“Kenapa diam? Aku tanya ada masalah apa?” Alden mengulang pertanyaannya.


“A-anu, Yang Mulia. Pu-putri Floretta menghilang, dan katanya beliau tersesat ke area kastil Pangeran Raven,” ucap Lily dengan wajah pucat pasi.


“Apa? Ke kastil Kakakku? Kenapa bisa?” tanya Alden dengan suara agak tinggi.


“Aku cuma mau mengejar Pillow, kok. Semuanya baik-baik saja.” Secara mendadak, Floretta muncul dari dalam lift yang terletak di dekat persimpangan lorong.

__ADS_1


“Kamu baik-baik aja, kan?” Alden langsung memeriksa seluruh tubuh istrinya.


“Iya, aku baik-baik aja, kok,” jawab Floretta seraya tersenyum manis.


“Apa kalian nggak saling bertemu tadi?” tanya Alden masih penasaran.


“Maksudnya kakak ipar? Kami bertemu, kok. Seperti biasanya, dia mengusirku dari istana. Tapi dia nggak melukaiku,” jawab Floretta.


“Haah, syukurlah kalau kamu nggak kenapa-kenapa. Maafkan aku, karena Leon yang seharusnya menjagamu, malah aku suruh ke perpustakaan mencari buku untukmu,” kata Alden. Tanpa mempedulikan semua orang di sana, dia memeluk Floretta dengan erat.


“Buku untukku?” Floretta mengernyitkan keningnya, lalu berupaya meloloskan dirinya dari pelukan sang suami.


“Iya. Kamu mau mengikuti ujian calon ratu, kan? Aku sudah mengumpulkan semua buku yang kamu perlukan. Karena hal ini tidak bisa diakses melalui internet secara bebas,” jelas Alden.


Kedua mata Floretta tampak berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya. Dia tidak tahu, raja vampir yang dulu sempat dia curigai, justru mendukungnya untuk menjadi calon ratu.


“Sudah, jangan menangis. Aku cuma ingin membuktikan, kalau janjiku untuk membahagiakanmu bukanlah isapan jempol belaka,” ucap Alden. “Sekarang, waktunya kita bersiap untuk makan malam,” imbuhnya.


“A-ada apa?” tanya Floretta dengan resah.


“Kak Raven mengajak kita makan malam bersama,” sahut Alden tanpa mengalihkan pandangannya dari layar HP.


“Lalu?”


“Ini momen langka. Rasanya ini pertama kalinya dia mengajak makan bersama secara pribadi, sejak ayah dan ibu meninggal,” ucap Alden. “Flo, kamu yakin tadi nggak membuat kesalahan di sana?” tanya Alden dengan wajah tegang.


“Ka-kayaknya sih gitu. Tapi aku juga nggak tahu,” jawab Flo ragu. “Memangnya kenapa?”


“Biasanya dia mengundang musuhnya untuk makan bersama, hanya untuk menghabisinya,” jawab Alden.


“Hah! Apa?” Wajah Floretta mendadak pucat.


“Sekarang ini aku nggak tahu, apa tujuan kita mengundangnya makan malam bersama?” ucap Alden setengah berbisik.

__ADS_1


Flo mengangkat wajahnya, dan menatap Alden dengan sendu. “Al, seperti yang kamu bilang tadi. Ini pertama kalinya dia mengajak kita makan malam, kan? mungkin aja dia nggak ada bermaksud apa-apa, dan hanya ingin makan bersama adiknya seperti dulu lagi.”


“Ya, mungkin aja begitu,” gumam Alden.


“Aku juga merindukan kehangatan dari keluargaku. Sejak ayah dan ibuku meninggal, aku nggak pernah merasakan hal itu lagi. Makanya aku senang berada di sini bersamamu,” ucap Floretta dengan sangat lirih.


Alden tersenyum kecil. Dia akhirnya mengetahui, apa alasan sebenarnya Floretta bertahan di kerajaan vampir.


“Baiklah, kita akan pergi makan malam bersama kakakku. Ah, apa kita juga harus membawa beberapa botol wine ke sana?” ujar Alden mendadak bersemangat.


“Hmm, idemu boleh juga,” sahut Floretta riang.


...🦇🦇🦇...


Floretta memang tidak pernah berada di sebuah acara makan malam para bangsawan sebelumnya. Namun ia merasa kalau keluarga Black ini sedikit aneh.


Saat ini dia dan kedua keluarga Black sedang berada di ruang makan utama dengan meja makan panjang berbentuk oval. Mereka duduk di antara kursi-kursi berukiran rumit yang berjejer di sekelilingnya. Jarak duduk mereka pun sangat berjauhan.


Meja makan mewah itu dipenuhi oleh makanan lezat yang melimpah dan terlihat menggugah selera. Namun hanya Floretta dan Alden yang menyantapnya. Sementara Raven hanya meneguk cairan merah yang mirip red wine, namun terlihat lebih kental. Tanpa diberitahu pun Floretta sudah tahu, kalau cairan dalam gelas itu adalah darah.


Berkali-kali Floretta melirik ke arah sang pangeran vampir yang keja. Sesekali keduanya bertemu pandang. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala Floretta, taka da satu pun yang keluar dari bibir mungilnya.


“Makanlah, Flo. Jangan hiraukan aku,” ujar Raven dengan suara lembut.


Floretta terkejut mendengar suara pria itu. Dia tak menyangka, jika sang kakak ipar yang selalu mengusirnya dari istana itu bisa bersuara lembut seperti itu juga. Sikapnya yang arogan, juga tidak terlihat sejak tadi.


Namun Floretta sadar, sejak tadi dia tidak luput dari perhatian Raven Black. Termasuk ketika dia sibuk mengunyah smoke beef, dengan saus kacang khas Irlandia yang lezat. Jujur saja, Raven sangat penasaran dengan aroma darah Floretta yang unik. Aroma itu sangat mirip dengan aroma darah keluarga Blue yang telah punah beberapa belas tahun lalu. Aromanya sangat wangi dan menggugah selera.


“Blue, kau pasti putri dari Zinnia Blue dan Aldric Blue, kan? Jangan bohongi aku lagi,” batin Raven sambil menikmati cairan merah kental dari gelasnya.


“Meskipun aku tak begitu ingat wajah mereka, tetapi kau mewarisi beberapa kebiasaan pasangan suami istri itu. Dan gen dari mereka berdua, mengalir kuat di dalam darahmu,” pikir Raven lagi.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2