Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 23. Benar, Kami Meminum Darah Manusia


__ADS_3

“Bukankah hari ulang tahunmu tinggal sebelas hari lagi? Dan saat itu istana akan membagikan darah manusia secara gratis, kan? Apalagi kalau bukan untuk dijadikan persembahan? atau tumbal?”


"Kamu juga melarangku untuk keluar dari ruangan ini sendirian, sampai hari H," sambung Floretta.


Alden terkejut mendengar semua pengakuan dari sang istri. "Dari mana dia mendengar semua ini? Apa ada pelayan yang melaporkannya?" pikir Alden gusar. Dia tidak mau, rencananya akan terbongkar dan gagal, sebelum hari H.


“Jadi itu alasanmu melarikan diri dari istana?” tanya Alden.


Floretta pun mengangguk. "Jelaskan padaku semuanya, Al. Aku siap menjadi tumbal persembahan di hari ulang tahunmu nanti. Anggap saja itu sebagai balas budiku, karena sudah membuatku bahagia dan menikmati hidup selama sebulan terakhir," ucap Floretta dengan suara bergetar. Jelas sekali dia sedang menahan rasa takutnya.


“Maaf aku membuatmu salah paham, Flo. Tetapi aku nggak pernah ingin menjadikanmu tumbal,” kata Alden dengan nada sangat rendah.


“Terus kenapa? Apa yang kamu maksud dengan rencana besar di hari H tersebut?” Floretta mendesak Alden untuk buka suara.


"Nanti saja kita bicarakan. Sekarang kamu harus makan. Sejak kabur dari istana, kamu belum ada mengisi perutmu, kan?" ujar Alden mengelak dari pertanyaan Floretta barusan.


"Jangan menghindar lagi, Yang Mulia." Floretta sedikit meninggikan suaranya karena merasa kesal.


"Aku janji akan jelaskan semua padamu, tetapi setelah kamu makan malam. Aku nggak mau kamu tambah sakit," bujuk Alden.


"Aku nggak percaya. Sudah terlalu banyak yang kamu sembunyikan dariku, sampai aku salah paham. Aku mau makan setelah kamu jelaskan semuanya," imbuhnya.


Alden menarik napas panjang, lalu nenghembuskannya secara perlahan.


"Bolehkah aku menggenggam tanganmu?" Alden berbicara dengan sangat lembut. Matanya yang indah, menatap sang istri penuh harap.


"Ya, silakan. Asalkan kamu ceritakan semuanya. Tapi hanya pegang tangan, ya. Nggak lebih," ucap Floretta dengan mata menyala.


"Iya, aku janji. Istriku galak banget, sih," balas Alden sambil tertawa kecil.


"Jangan tertawa. Kamu masih berhutang penjelasan padaku," omel Floretta.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia Putri Floretta. Aku akan jelaskan semuanya sekarang juga," sahut Alden dengan bahasa formal, yang mengundang tawa. Dia lalu meraih tangan wanita cantik di hadapannya, dan menggenggamnya dengan erat.


Wajah Floretta sedikit merona, saat Alden memanggilnya Yang Mulia.


"Jadi hari H yang aku maksud itu adalah hari pertemuan Yang Mulia Putri Floretta, dengan Anggota Dewan Istana secara resmi. Seharusnya pertemuan resmi ini dilaksanakan sehari setelah kedatanganmu ke istana. Tapi mereka sengaja menundanya tanpa alasan yang jelas," ungkap Alden.


"Kamu jujur, kan?" tanya Floretta masih tak percaya.


"Iya, sayangku. Aku sedang berkata jujur. Semua pihak istana marah, karena aku tiba-tiba menikahi manusia. Karena itulah, aku sengaja melarang siapa pun bertemu denganmu, untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin aja terjadi," jelas Alden.


"Tapi kan di istana ini ada banyak pengawal dan CCTV. Akan ada banyak bukti kalau mereka berbuat buruk padaku?" balas Floretta.


"Pengawal sekali pun tidak bisa kita percayai begitu aja. Apalagi CCTV yang hanya mesin buatan manusia. Terlalu banyak mata-mata dalam istana. Sampai aku sendiri nggak pernah merasa aman dan nyaman," jawab Alden.


Floretta tidak bisa menampik kalimat Alden barusan. Sudah sejak zaman dulu kala, semua yang berkaitan dengan urusan politik dan kekuasaan pasti akan membutakan mata seseorang.


"Maaf kalau perhatianku justru membuatmu terkekang di sini," ucap Alden dengan lirih.


"Itu memang benar. Sejak ratusan tahun yang lalu, sudah ada tradisi berbagi darah manusia secara gratis di hari ulang tahun raja." Tak disangka, Alden mengakui hal itu.


Wajah Floretta langsung berubah. Dia bergidik ngeri, mendengar pengakuan Alden barusan. "Berapa banyak manusia yang akan dibantai untuk berbagi darah gratis ke seluruh negeri?" pikir Floretta.


"Tapi darah yang dibagikan itu legal dan memiliki sertifikat. Jadi tidak ada satu manusia pun yang akan dibantai demi mendapatkan darahnya," jawab Alden, seakan-akan tahu isi pikiran Floretta saat ini.


"Beneran legal? Gimana kalian mendapatkannya?" selidik Floretta sambil menjauhkan tubuhnya dari Alden.


"Kami bekerja sama dengan rumah sakit tertentu dan yayasan amal di dunia manusia. Jadi sebenarnya ada para manusia yang mengetahui keberadaan vampir, seperti dokter dan para peneliti," ucap Alden lagi.


"Tapi kenapa kalian melakukan itu? Memangnya apa yang terjadi kalau kalian tidak meminum darah manusia?" Floretta masih tidak setuju dengan kebiasaan bangsa vampir tersebut.


"Bangsa kami akan terus merasa kelaparan, meskipun sudah meminum bergalon-galon darah hewan sekali pun," jawab Alden.

__ADS_1


Kedua mata Floretta membulat besar, mendengar hal tersebut. "Jadi kalian benar-benar memandang kami para manusia ini sebagai makanan?" ujar Floretta. Wanita itu bergerak semakin menjauh dari Alden.


"Maaf, itu sudah takdir kami sebagai vampir yang nggak bisa diubah lagi. Tetapi demi rasa kemanusiaan, sejak tiga abad yang lalu kami berhenti menyerang manusia, dan mendapatkan darah manusia secara legal," jelas Alden lagi. Pria itu merasa sedih, melihat sang istri semakin takut padanya.


"Bagaimana aku hidup di dengan bangsa yang menjadikan manusia sebagai makanan?" kata Floretta dengan suara bergetar. Rasanya malam itu juga, dia ingin pergi ke dunia manusia.


"Makanya aku serahkan semua keputusan padamu. Kalau kamu mau meninggalkan istana ini, aku akan segera mengantarmu kalau cuaca telah membaik," balas Alden sambil menatap wajah Floretta dengan sedih.


"Tetapi apa aku masih boleh berharap, kamu akan tetap mendampingiku sebagai ratu selamanya?" sambung raja vampir itu lagi.


"Apa kamu meminum darah manusia juga, Al?" tanya Floretta, tanpa merespon kalimat suaminya barusan.


Alden hanya tersenyum tipis, dengan kedua alis bertaut. Wajahnya benar-benar menunjukkan ekspresi sedih. Hatinya tak kuat, jika Floretta benar-benar meninggalkannya. Pria itu enggan menjawab pertanyaan Floretta.


"Sekarang kamu makan dulu, ya. Kamu harus mengisi tenaga, kalau mau melawan para vampir di sini." Alden kembali membujuk Floretta untuk mengisi perutnya.


"Aku nggak selera makan," tolak Floretta.


"Apa kamu mau makan pie apel dan daging domba asap kesukaanmu? Ayo kita masak sama-sama," bujuk pria itu lagi.


Floretta menatap wajah sang suami dengan rahang mengeras. "Dari mana kamu tahu kalau itu makanan kesukaanku? Padahal selama ini aku selalu makan telur dan kentang rebus di rumah bibiku," jawab Floretta.


"Dulu kamu pernah menceritakannya padaku," jawab Alden dengan lirih.


"Kapan? Di mana? Kamu pasti ngomong gini cuma ingin mendapatkan simpati dariku, kan?" ujar Floretta semakin nggak percaya.


"Beneran, kok. Bahkan kamu sering curhat padaku tentang banyak hal. Kita juga berteman baik dulu," jawab Alden penuh keyakinan.


"Masa sih? Kok aku nggak ingat sama sekali?" gumam Floretta.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2