Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 48. Floretta Sang Pelakor


__ADS_3

"Hei, Erlina! Cukup menakut-nakutinya!"


Suara berat dari seorang lelaki di belakang mereka, sontak membuat Floretta maupun Erlina menoleh ke belakang. Seorang pria dengan setelan celana berwarna hitam dan kemeja sutra berwarna putih bersih, berdiri di belakang mereka dengan beberapa buah buku di tangan kanannya.


"Apa maksudmu, Pangeran? Kamu membela manusia bau ini?" ucap Erlina tersinggung dengan ucapan Raven.


"Justru aku membelamu, Erlina," jawab Raven sambil melangkah mendekati kedua wanita itu. Para pelayan pun menyingkir, sebelum menjadi sasaran amukan Raven.


"Jangan buat Alden semakin membencimu, kalau kamu masih menginginkan posisi ratu. Alden pasti nggak suka melihat istrinya direndahkan seperti ini. Kalau dia melihatmu mengganggu istrinya, harapanmu menjadi ratu akan semakin tipis," ucap Raven dengan lantang.


Tentu saja Floretta juga bisa mendengar kalimat itu dengan jelas. Artinya, menjadi istri pertama raja, belum tentu menjadi seorang ratu.


"Huh! Aku tahu, pangeran. Aku kan hanya ingin memberi salam pada Tuan Putri baru kita ini," ujar Erlina mendengus kesal.


Rahang vampir cantik itu tampak mengeras, bersamaan dengan bola matanya yang melotot ke arah Floretta.


"Baiklah, pertemuan kita cukup sampai di sini saja. Lain kali kita bertemu lagi dalam acara resmi kerajaan," ucap Erlina pada Floretta, sebelum berlalu pergi.


"Lain kali berhati-hati saat berhadapan dengannya, dia memiliki sihir yang sangat kuat dibandingkan para vampir lainnya. Bisa bahaya kalau semua identitasmu diketahuinya," bisik Raven sambil melangkah perlahan di sisi Floretta.

__ADS_1


Wanita itu terperanjat mendengar ucapan sang pangeran yang seolah-olah melindunginya. Dia pun mengangkat wajahnya, dan bertatapan dengan Raven Black yang terkenal kejam.


"Jangan salah paham. Aku bukan melindungimu. Cuma aku yang boleh membunuhmu di sini. Kalau kau masih mau hidup, jangan muncul di hadapanku lagi," sambung Raven sambil melengos pelan.


"Apa, sih? Ternyata dia tahu isi pikiranku?" gumam Floretta dalam hati.


...🦇🦇🦇...


"Kasihan banget Duchees Erlina. Padahal dia sudah susah payah mempersiapkan diri menjadi ratu sejak umur tujuh tahun. Tapi posisinya malah digeser dengan mudah oleh manusia pelayan itu."


Para pelayan di dapur saling bergosip membicarakan Floretta dan Erlina.


"Heh, manusia serakah seperti dia mana punya hati. Dia cuma berpikir untuk mengumpulkan kekayaan," timpal pelayan lainnya.


"Aku justru khawatir dengan keadaan kerajaan, kalau sampai manusia itu jadi ratu. Keluarga Bangsawan Amethyst kan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kerajaan. Pasti batalnya pernikahan Black dan Amethyst bakal menimbulkan gejolak politik. Aku takut perang saudara akan terjadi seperti tiga ratus tahun yang lalu," ucap seorang pelayan senior.


Floretta yang bersembunyi di balik pintu dapur untuk mengecek makan malam raja, memegang dadanya yang terasa nyeri. "Ah, benar. Aku ternyata adalah pelakor," batin Floretta merasa sedih.


Wanita yang sebentar lagi genap berusia dua puluh tahun itu, tentu tidak pernah mau menjadi orang ketiga dalam hubungan suatu pasangan. Tetapi rupanya perjalanan hidup sangat tidak mudah ditebak. Pria yang melamarnya di depan semua orang, rupanya telah memiliki tunangan yang cantik jelita.

__ADS_1


"Pantas kalau Erlina sangat membenciku seperti tadi. Aku memang telah merusak hubungannya dengan raja. Tapi ini bukan sepenuhnya salahku, kan?" ucap Floretta berusaha menghibur dirinya sendiri.


"Yang Mulia jangan bersedih. Yang Mulia Raja hanya mencintai Anda, kok. Makanya beliau menikahi Yang Mulia Putri Floretta." Suara pria yang berat dan juga lembut, membuat Floretta tersentak kaget.


"Leon? Kamu bisa membaca isi pikiranku?" selidik Floretta, yang masih terkejut dengan kedatangan pengawalnya yang tiba-tiba.


"Siapa pun yang melihatnya pasti tahu. Wajah Yang Mulia mendadak sedih, setelah mendengar obrolan para pelayan itu," jelas Leon.


"Tapi kenapa kamu ada di sini?" ujar Floretta lagi.


"Yang Mulia Putri telah pergi ke dapur terlalu lama. Beliau jadi merasa khawatir. Katanya Pangeran Raven suasana hatinya lagi buruk. Jangan sampai Yang Mulia Putri bertemu dengannya," ujar Leon. "Ayo kita kembali. Makan malam Yang Mulia Raja biar Lily dan Bu Magenta saja yang mengurusnya," ajak pria muda itu.


Floretta pun kembali ke gedung utama, bersama Leon. Wanita itu duduk kaku di meja makannya tanpa sepatah kata pun. Kedua matanya menatap meja makan yang masih kosong.


"Kenapa, Floretta? Apa ada masalah?" tanya Alden dengan lembut.


"Erlina itu sangat cantik dan baik hati. Kenapa kamu nggak menikahinya?" ujar Floretta dengan lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


"Hah? Kamu bilang apa?" ucap Alden

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2