
"Gufo?" Floretta heran, melihat burung hantu teman mengobrolnya di dunia manusia datang menolongnya. "Ah, aku pasti berhalusinasi karena pengaruh racun ini," batinnya pasrah.
"Floretta, ini aku."
Suara lembut itu masih terus terdengar, meskipun Floretta memejamkan matanya.
"Iya, Gufo. Makasih udah datang dan menemani aku."
Wanita itu memaksa kelopak matanya untuk terbuka. Dia nggak menemukan burung hantu berwarna abu-abu tua di sana. Yang ada hanyalah sosok pria tampan yang menggunakan pakaian resmi kerajaan.
"A-alden?" gumam Floretta terkejut. Tak disangka, sosok burung hantu sahabatnya itu berubah menjadi seorang vampir tampan yang setiap hari selalu menemaninya.
"Iya, ini aku. Minumlah, kamu butuh air putih untuk menetralkan racun dalam tubuhmu." Raja vampir itu menyodorkan sebotol air putih kemasan pada sang istri. Dia juga membantu wanita itu untuk duduk dan minum.
Semula Floretta ragu meminumnya. Dia takut ini hanyalah ilusi sihir yang dibuat oleh para vampir jahat untuk menyingkirkannya.
"Ini aku, Flo. Suamimu. Kamu nggak perlu takut diracun menggunakan air ini. Minumlah, tubuhmu semakin lemah," ucap Alden meyakinkan sang istri. Seolah dia bisa membava isi pikiran sang manusia tersebut.
Floretta pun meminum air putih kemasan tersebut beberapa teguk. Rasa nyeri di seluruh tubuhnya mulai berkurang. Namun tubuhnya masih terasa sangat lemah.
"Pejamkan matamu. Kita akan keluar dari sini," pinta Alden.
Pria itu menarik Floretta ke dalam pelukannya. Dalam hitungan detik, mereka pun berpindah ruangan. Alden membawa Floretta kembali ke istana di ibukota. Tubuh Floretta yang tak mampu berteleportasi itu pun akhirnya pingsan.
"Alden? Apa yang terjadi? Ini di Kastil Ecarlatte?"
__ADS_1
Floretta yang baru saja sadar, langsung melemparkan pertanyaan pada sang suami. Pakaiannya telah berganti menjadi baju tidur yang nyaman. Meja di samping tempat tidur, terisi penuh oleh beragam buah.
"Iya, ini di istana. Lebih tepatnya lagi di dalam kamarku. Para dokter sudah mengeluarkan racun dari tubuhmu. Jadi nggak perlu khawatir lagi," jawab Ellard.
"Syukurlah. Ku pikir aku bakalan mati konyol karena memakai racun itu sendiri," balas Floretta lega.
"Aku juga lega bisa melihatmu lagi. Tadi ku pikir aku sudah kehilangan dirimu, karena auramu tak terlihat lagi. Apa saja yang sudah mereka lakukan padamu?" ucap Alden.
Tangannya yang halus, mengusap rambut Floretta dengan lembut. Pandangannya yang sayu, menatap sang istri dengan lekat.
"Mereka? Kamu sudah tahu siapa pelakunya?" ucap Floretta.
"Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan para anggota dewan istana itu?" balas Alden.
"Hm, kamu benar, Al. Aku sempat merekam semua pembicaraan mereka dengan pena biru milikku. Tapi di mana ya pena itu, sekarang?" kata Floretta.
"Iya, benar. Aku merekamnya di situ. Waktu itu aku sempat memodifikasi pena itu menjadi dua fungsi," sahut Floretta dengan mata berbinar. "Tapi ... Ada yang sedikit mengganjal hatiku," kata wanita itu.
"Mengganja? Apa itu?" tanya Alden penasaran.
"Sebelum mereka pergi, aku merasa seseorang menutup luka sayatan pisau di tanganku. Jadi pendarahannya berhenti. Aku nggak tahu siapa yang melakukannya. Kalau lukanya nggak ditutup, aku pasti udah mati kehabisan darah," ungkap Floretta.
"Hmm, iya juga. Harusnya mereka pergi gitu aja," gumam Alden manggut-manggut.
"Ah, kamu juga berhutang satu penjelasan sama aku. Apa benar kamu Gufo si burung hantu?" kata Floretta.
__ADS_1
"Aku memang bisa menjelma jadi seekor burung hantu, Flo. Sama seperti Kak Raven yang bisa berubah menjadi seekor gagak. Tapi bukan berarti aku temanmu si burung hantu itu," balas Alden, membantah ucapan Floretta.
"Aku yakin itu Gufo si burung hantu. Aku masih ingat banget sama corak bulunya yang berwarna abu-abu gelap. Matanya yang berwarna biru, dan ada corak biru dongker pada bulu di atas matanya," ungkap Floretta nggak mau kalah.
"Em, gimana kamu bisa mendeskripsikan sedetail itu?" gumam Alden takjub dengan ingatan sang istri.
"Karena kami bertemu setiap malam. Mengobrol sampai dini hari. Lalu dia selalu membawakanku buah pinus dari hutan," cerita Floretta.
"Bukan buah pinus. Tapi buah aprikot dan bunga rumput dari kebun Pak Malfino," celetuk Alden meralat ucapan Floretta.
"Aha! Benar kan kubilang? Kamu itu Gufo si burung hantu. Gimana kamu bisa cerita dengan sangat jelas, padahal aku gak pernah ceritain tentang Gufo padamu," ucap Floretta dengan kedua alis naik. Ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman sinis.
Alden menutup rapat bibirnya, dan menepuk jidatnya pelan. Dia terjatuh dalam jebakan sang putri. "Iya ... Aku mengaku, kalau aku adalah Gufo," ucapnya pasrah.
"Sekarang semuanya jadi masuk akal, gimana kamu bisa tahu semua kehidupan pribadiku selama ini. Ah, aku jadi menyesal sering curhat sama burung hantu," kata Floretta dengan bibir manyun.
"Ka-kamu nggak suka sama aku, gara-gara aku membohongimu?" kata Alden dengan alis bertaut.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Yang Mulia." Seorang pelayan mengetuk pintu kamar sang raja.
"Ya, ada apa?" Alden membuka sedikit pintu kamarnya dan menemui sang pelayan.
"Ada kabar buruk dari Provinsi Barat Daya. Lily Ivory sang pelayan Yang Mulia Putri ..." Pelayan itu menghentikan kalimatnya di tengah-tengah.
__ADS_1
"Dia kenapa? Lily baik-baik aja, kan?" Floretta berseru dan berlari mendekati pintu.
(Bersambung)