
Alden menekan bahu Floretta agar wanita itu berbaring di atas kasur yang empuk. Kedua mata mereka saling tatap. Jarak mereka saat ini kurang dari dua sentimeter, hingga Floretta mampu mencium aroma wangia dari rambut dan tubuh pria tampan itu
"Sejak menikah kita belum pernah melakukan 'ITU' kan? Kita lakukan sekarang aja, mumpung suasananya lagi mendukung," bisik Alden di telinga Floretta.
Saat itu di luar istana, butiran salju mulai turun. Udara pagi itu semakin terasa sejuk. Langit yang semula berwarna biru cerah, mendadak berubah menjadi abu keperakan.
Kedua mata Floretta mendadak terbuka lebar. Dia baru menyadari, apa yang ingin dilakukan oleh pria itu. Tangannya pun reflek mendorong tubuh Alden menjauh darinya.
"Tidak! Aku belum siap! Siapa pun, tolong aku!" Floretta menjerit sekuat tenaga dan melawan Alden yang memaksanya berbaring di kasur.
Klak! Pintu kamar itu terkunci semakin rapat. Tirai jendela pun bergerak menutupi jendela-jendela kaca yang lebar. Kamar sang raja pun menjadi gelap gulita
"Hei, percuma kamu teriak. Ruangan ini kan bisa dibuat kedap suara, dan terkunci otomatis dari dalam. Hanya sidik jariku yang bisa membukanya," ucap Alden sambil tersenyum jahil.
Jemari pria itu menjalar ke permukaan dada Floretta, lalu menurinkan risleting gaun itu dengan cepat. Tubuh Floretta yang menjulang tinggi pun terlihat dengan jelas, dibalik cup penutupnya.
"Alden, ku mohon. Aku belum siap melakukannya," tolak Floretta seraya memberontak dari Alden, yang berusaha menghimpit tubuhnya.
"Apalagi yang kamu takutkan? Kita sudah resmi menikah, dan ini kewajibanmu untuk melayaniku. Bukan hanya di meja makan saja," paksa Alden.
Drrrttr! Tiba-tiba HP milik Alden yang terletak di atas meja berdering. Pria itu berusaha mengabaikannya. Tapi HP itu kembali berdering berkali-kali.
"Duh! Siapa sih? Ganggu aja!" gerutu Alden, lalu mengangkat telepon tersebut.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Pagi ini ada rapat dengan delegasi negara tetangga, untuk membahas pembangunan jalan tol lintas negara," ucap Sekretaris Kerajaan mengingatkan sang raja vampir.
"Ya ampun! Hampir aja aku lupa. Terima kasih, Nic," ujar Alden.
"Kamu beruntung pagi ini, Flo. Aku ada rapat penting. Ayo bersiap untuk sarapan," ucap Alden dengan wajah sedikit kesal, karena aksinya gagal lagi.
__ADS_1
...🦇🦇🦇...
"Floretta, ngapain kamu lihatin aku kayak gitu dari tadi? Apa kamu masih marah soal tadi malam?"
Alden meletakkan sendoknya ke tepi mangkok, padahal bubur gandum dengan toping daging asap dan bawang putih goreng miliknya belum habis.
"Nggak, kok," jawab Floretta. Manusia satu-satunya di kerajaan vampir itu menghembuskan napasnya sekali, lalu menatap sang raja vampir dengan tajam.
"A-ada apa, sih? Kok tiba-tiba serem gini?" gumam Alden merasa gugup.
"Aku masih penasaran, apa benar kamu sakit kemarin gara-gara menghisap darah manusia? Jadi benar, rumor yang bilang kalau kamu sebenarnya nggak bisa menghisap darah manusia?"
Floretta melemparkan pertanyaan sensitif itu pada Alden, secara terang-terangan.
"Dari mana kamu dengar soal itu?" Raut wajah Alden yang ramah, berubah menjadi ketus. Rahangnya tampak mengeras, seperti menahan marah.
"Itu nggak benar! Kalau nggak percaya, ayo kita buktikan!"
Alden naik darah, mendengar tuduhan yang nggak mendasar itu. Dia merasa harga dirinya tercabik-cabik, disebut cacat dan tak pandai dalam hubungan suami istri.
"Tenanglah, Yang Mulia. Aku percaya, kalau untuk urusan r@nj*ng kamu nggak perlu diragukan lagi. Tapi ..."
"Oh, jadi karena itu kamu mau tetap tinggal di sini? Karena aku ini vampir cacat yang memalukan ini?" Alden yang keburu terbakar emosi, memotong ucapan Floretta yang belum selesai.
"Bukan. Aku di tetap tinggal di sini, karena udah terbiasa hidup mewah dan dimanjakan," jawab Floretta dengan cepat.
"Tapi kalau kamu beneran nggak bisa meminum darah manusia, aku justru merasa sedikit tenang. Ku pikir semua vampir itu mengerikan, ternyata kamu nggak," ucap Floretta lagi.
Selama beberapa detik, suasana meja makan itu cukup hening. Alden memandang sang istri dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Kamu beneran menganggapku seperti itu? Bukannya aneh, kalau vampir nggak bisa menghisap darah manusia?" tanya Alden.
"Justru menurutku itu keren. Nggak harus jadi vampir yang mengerikan untuk diakui jadi raja. Artinya kedua orang tuamu mengetahui kelebihanmu yang lain," puji Floretta.
Alden tersenyum kecil, mendengar ucapan dari wanita cantik di hadapannya. "Kamu emang paling pintar bikin aku deg-degan, ya?" ujar Alden.
"Emang sejak kapan aku begitu?" bantah Floretta.
"Sejak aku mengenalmu."
"Tapi aku nggak kenal sama kamu, tuh," balas Floretta lagi.
"Duh, iya ... Iya ... Jutek banget, sih," tawa Alden melihat tingkah istrinya yang kekanakan. "Pokoknya aku senang banget, kamu masih ada di sini," imbuh pria itu.
"Seperti kamu bilang, kita ini suami istri. Aku akan mendukungmu sepenuhnya. Tetapi dengan satu syarat, kamu harus terbuka padaku," ucap Floretta. Wanita itu memasang wajah garang pada sang suami.
"Maaf, tapi kita belum secara resmi jadi suami istri." Alden membantah ucapan Floretta dengan tegas.
"Maksudmu? Apa karena aku belum diterima jadi ratu di sini?"
Floretta mengerutkan keningnya cukup dalam. Dia heran dengan hukum di sarang para vampir ini. Bukankah pernikahan mereka telah terdaftar secara resmi di dinas kependudukan?
"Apa yang ingin kamu tahu dariku?" tanya Alden dengan sabar.
"Katanya, kamu nggak bisa meminum darah manusia. Lalu apa benar dua perempuan yang malam itu menggangguku, mati karena gigitanmu?"
"Hah?" Kedua mata Alden terbuka lebar, mendengar pertanyaan itu. "K-kok dia bisa ingat kejadian malam itu?" pikir Alden bingung.
(Bersambung)
__ADS_1