Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 49. Ratu Dihatiku


__ADS_3

"Huh, Erlina itu cantik banget. Dia juga wanita terpelajar. Jika dibandingkan denganku, aku hanyalah sebutir debu yang melekat di gaunnya."


Sejak pertemuannya dengan Erlina tadi pagi, Floretta banyak termenung dan berdiam diri. Pikirannya tak bisa mengenyahkan bayangan sang gadis cantik, calon ratu kerajaan vampir pilihan semua orang.


"Apa aku benar-benar akan tersingkir sebagai selir? Kalau memang gitu, kenapa Alden menikahiku? Katanya ayah Alden tidak punya selir, kan?" Floretta terus tenggelam dalam pikirannya yang kelabu.


"Flo? Hei, kamu kenapa? Ini pudingnya nggak di makan?"


Ini ketiga kalinya Alden menegur Floretta. Suasana meja makan terasa sepi, tanpa celoteh Floretta yang biasanya menanyakan seluk beluk istana vampir ini.


"Flo?" Panggil Alden sekali lagi. Tetapi wanita mungil berkulit putih itu tetap termenung dan menatap kosong ke depan.


"Lily, apa yang terjadi pada Floretta hari ini? Apa dia ada mengeluh sakit?"

__ADS_1


Alden akhirnya menemui pelayan pribadi sang putri, dan menanyakan keadaan Floretta yang tampak aneh.


"Tadi Yang Mulia Putri Floretta bertemu dengan Yang Mulia Pangeran Raven di perpustakaan. Lalu beliau juga bertemu dsngan Duchees Erlina, Tuanku," jawab Lily dengan lengkap.


"Astaga! Apa mereka menganggu dan mengancam Floretta?" tanya Alden.


Lily menggeleng. "Mereka berdua hanya mengatakan fakta-fakta di kerajaan ini, tetapi sepertinya Yang Mulia Putri Floretta terlihat shock. Yang Mulia sepertinya juga merasa rendah diri di hadapan Duchees Erlina," jelas Lily.


"Ah, ini pasti karena aku makan malam bersama Erlina kemarin. Seharusnya aku menolak ajakan Erlina untuk bertemu berdua malam itu," batin Alden merasa bersalah.


"Sayangku, kamu nggak usah khawatir. Aku nggak akan pernah menggangi kedudukanmu dengan wanita lain. Jadi semangatlah. Kamu satu-satunya ratu dalam hidupku," bisik Alden seraya mengecup kening sang istri.


"Aku percaya, kok. Aku hanya merasa nggak enak badan, karena cuaca di sini semakin dingin," sahut Floretta sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Alden membalas senyuman itu dengan belaian lembut di rambut Floretta. Meski demikian, dia tahu bahwa Floretta masih menyimpan sesuatu di dalam hatinya. Sinar mata wanita itu tampak redup. Dia juga berkali-kali menghindari tatapan mata sang suami.


"Aku rasa suhu di sini sufah mencapai minus dua puluh satu derajat celcius. Wajar kalau kamu merasa kedinginan. Vampir itu tahan dingin, tapi nggak tahan panas dan cahaya matahari," jelas Alden dengan lembut, tanpa mengorek permasalahan Floretta saat ini.


"Benarkah? Pantas waktu itu Lily mengenakan baju berlapis-lapis, padahal saat itu matahari bersinar redup," sahut Floretta.


"Ya, itulah perbedaan manusia dan vampir," sela Alden. "Apa kamu mau aku bikinkan susu jahe?" ujar Alden memberikan tawaran.


"Yang Mulia, maaf mengganggu kebersamaan bersama Putri Floretta. Tapi jam dua nanti kita ada jadwal menyambut mahasiswa baru di universitas, selasalah seorang asisten Alden.


"Astaga! Hampir saja aku lupa," ucap Alden aeraya menepuk jidatnya sendiri. "Maaf, Flo. Aku harus pergi. Nanti malam aku akan buatkan susu jahe untukmu," sambungnya.


"Nggak apa-apa. Aku juga bisa membuatnya sendiri, kok. Urusan kerajaan lebih penting. Aku hanya perlu istirahat siang ini," ucap Floretta.

__ADS_1


"Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Sampai jumpa nanti malam," ucap Alden.


(Bersambung)


__ADS_2