Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 40 - Keputusan Floretta


__ADS_3

"Bu Magenta, beneran nggak apa-apa kita sembunyikan masalah ini dari Yang Mulia Raja? Ibu tadi lihat, kan? Yang Mulia Putri Florett menandatangani surat pembatalan pernikahan itu?"


Beberapa saat setelah Floretta pergi bersama Leon, Lily mengungkapkan kegelisahannya pada Bu Magenta. Sejak tadi malam hatinya sudah bertanya-tanya, ada apa gerangan yang nembuat Putri Floretta mendadak minta didandani seperti ratu. Apakah ini pertanda terkahir kalinya dia mengenakan pakaian kebesaran kerajaan mereka?


"Aku juga berpikiran yang sama, Lily. Apalagi para anggita dewan itu bukan orang-orang yang bisa dipercaya," gumam Bu Magenta dengan wajah cemas.


"Sebaiknya kita laporkan hal ini pada Yang Mulia Raja, sebelum terjadi apa-apa pada Yang Mulia Putri Floretta," gumam Lily.


"Floretta, apa kau sudah bangun?"


Suara seorang pria yang berdiri di depan pintu, membuat Lily dan Bu Magenta terlonjak kaget. Rupanya Alden mendatangi istrinya, untuj mengajak makan seperti biasanya.


Lily segera membuka pintu, tanpa sempat mengatur napasnya yang tersengal.


"Y-yang Mulia Putri Floretta sudah pergi, Yang Mulia," jawab Lily dengan suara gemetar.


"Pergi ke mana sepagi ini?"


Alden memperhatikan arlojinya baik-baik, untuk memastikan dia tidak terlambat sarapan pagi. Tetapi rupanya saat itu memang baru pukul tujuh lebih sepuluh menit.


"Y-yang Mulia Putri Fl-floretta ada pertemuan dengan a-anggota dewan." Kali ini Bu Magenta yang menjawab dengan suara tertahan dan terbata-bata.

__ADS_1


"Pertemuan apa yang dilakukan pagi-pagi begini?" Alden mengerutkan keningnya karena keheranan. Terlebih dia tidak diberitahu, tentang pertemuan penting tersebut.


"Mohon ampun, Yang Mulia. Tadi Yang Mulia Putri Floretta membawa surat pembatalan pernikahan, yang diberikan oleh para anggota dewan ..."


"Apa? Surat pembatalan pernikahan?" Alden memotong kalimat Lily dengan nada tinggi.


"Benar, Yang Mulia. Yang Mulia Putri Floretta sudah menandatanganinya," jawab Bu Magenta.


"Gawat! Kenapa kalian nggak bilang dari awal? Itu jebakan! Leon saat ini sedang bersama Floretta, kan?"


Tanpa menunggu jawaban dari pelayan pribadi Floretta, Alden langsung mengayunkan kakinya menuju ke ruang rapat anggota dewan.


"A-anda menandatanganinya, Yang Mulia?" gumam Edmund tidak percaya. Dia melihat tanda tangan Floretta tertera di bagian bawah surat, dengan tinta berwarna biru.


"Aku udah memikirkan yang kalian bilang waktu itu. Dan memang benar, aku nggak pantas untuk menjadi ratu di sini," ucap Floretta sambil mengangkat wajahnya, dan menatap seluruh anggota dewan istana yang hadir di ruangan itu.


"Aku senang Yang Mulia menyadarinya dengan cepat."


Edmund menyeringai lebar, mendengar kalimat Floretta barusan. Ini artinya perjuangan mereka telah usai. Kemenangan ada di pihak mereka.


"Kalau begitu, Yang Mulia bisa segera memberikan surat itu kepada kami. Lalu kami akan memberikan kompensasi, seperti yang kita bicarakan kemarin," ujar Edmund lagi.

__ADS_1


"Tunggu dulu. Gimana aku bisa percaya, kalian membiarkanku keluar hidup-hidup dari tempat ini, setelah meenyerahkan suratnya?" Floretta memegang lembaran surat itu erat-erat.


Tatapan mata yang tajam, serta kalimat yang tegas membuat mereka tersentak kaget. Para bangsawan itu nggak menyangka, Floretta berani melawan mereka seperti itu.


"Percayalah, kami akan membiarkanmu keluar hidup-hidup, Yang Mulia. Kami tidak ingin membuat keributan di istana, karena membunuh seorang manusia," ucap Russel mewakili para bangsawan itu.


"Benar. Coba Yang Mulia pikirkan, kalau Yang Mulia batal menyerahkan surat itu, Yang Mulia akan terjebak di sini selamanya. Terjebak bersama vampir-vampir yang membenci manusia," sambung Daisy.


"Oh, jadi kalian semua membenciku? Aku jadi semakin nggak yakin, dengan janji-janji yang kalian ucapkan," ujar Floretta sambil tersenyum sinis.


Edmund geram, melihat Floretta yang mengulur waktu.


"Surat ini adalah solusi yang terbaik untuk Yang Mulia. Setelah ini Yang Mulia bisa hidup bebas, dengan identitas yang baru dan di tempat yang baru. Aku jamin itu," ucap Edmund sambil menatap Floretta penuh intimidasi.


Floretta membeku selama beberapa saat. "Baiklah," ucap Floretta.


Semua bangsawan di sana tersenyum, mendengar sepatah kata yang keluar dari bibir mungil Floretta.


"Floretta! Jangan lakukan itu!"


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2