
"Yang Mulia, aku bertanya bukan karena ingin pulang," ujar Floretta dengan nada manja. "Aku hanya memesan beberapa bahan makanan dari dunia manusia," imbuhnya.
"Memesan makanan dari dunia manusia? Kamu masih mau tinggal di sini?" ujar Alden masih nggak percaya.
"Iya, aku sudah membuat keputusan. Aku akan tinggal di sini bersamamu. Bukankah mendampingi suami di saat suka duka sudah jadi tugas istri?" ucap Floretta dengan wajah serius.
"Serius?" tanya Alden lagi.
"Iya, serius," jawab Floretta dengan mata menatap Alden tanpa berkedip. Wajahnya benar-benar menunjukkan ekspresi serius.
"Tapi gimana dengan para vampir lainnya? Kamu nggak takut?" ujar Alden meyakinkan dirinya dan juga sang istri.
"Aku harus berani, walau kadang-kadang masih takut. Tetapi aku ini istri dari raja vampir, kan? Jadi aku harus berani menghadapi rakyatku," kata Floretta dengan tegas.
Seulas senyum terlukis di wajah Alden. "Aku senang banget kamu memutuskan tinggal di sini. Semua keinginan kamu bilang aja, pasti akan aku penuhi," ucap Alden.
"Oh ya? Terima kasih. Aku sih cuma ingin cannel TV yang ada drama Asia aja, sama makanan lezat dari dunia manusia," ujar Floretta sambil menulis beberapa list makanan di kertas kecil.
"Hanya itu? Aku pikir kamu mau baju mewah, perhiasan, make up mahal atau hal lainnya," kata Alden.
"Ya, itu aku juga suka sih. Tapi kamu aja deh yang pilihkan untuk aku," jawab Floretta. "Sejauh ini barang yang kamu kasih, aku selalu menyukainya," imbuhnya.
"Tapi kenapa kamu berubah pikiran untuk tinggal di sini?"
"Aku cuma mau dekat denganmu aja, kok. Menemani kamu makan setiap harinya. Tadi udah aku bilang, kan? Bukankah mendampingi suami di saat suka duka sudah jadi tugas istri?" Floretta mengulang jawabannya.
Alden terdiam. Pria yang masih nengenakan setelan jas lengkap beserta dasi itu mendadak merasa kepanasan. Apakah ini karena pakaian yang digunakannya? Atau karena aliran darahnya meningkat dua kali lebih cepat?
"Kok kamu diam aja? Kamu nggak suka ya aku tetap di sini? Apa tunanganmu nanti akan marah?" tanya Floretta dengan bibir mengerucut ke depan.
"Udah jelas aku senang banget. Tapi ..." Alden kemudian berbalik badan dan menjauh dari Floretta.
"Tapi apa?" tanya Floretta dengan heran.
__ADS_1
"Kamu harus pakai kalung ini terus. Di dalamnya ada sebuah chips, yang bisa mendeteksi kalau kamu sedang diganggu," ujar Adlen, seraya memasang sebuah kalung mewah, dengan liontin berwarna biru safir di leher Floretta yang jenjang.
"Duh, aku sedikit kecewa, nih. Aku pikir di dalamnnya ada sihir gitu..." ujar Floretta.
"Hahaha, emangnya kita hidup di abad ke berapa? Udah nggak zamannya pakai sihir gitu," ucap Alden sambil tertawa hambar.
"Masa sih? Tapi aku kok merasa, ada beberapa barang yang memiliki sihir, ya? Contohnya aja syal dia kasih ke aku sebelum menikah dulu," batin Floretta penasaran.
"Ah, kamu nggak suka kalungnya, ya? Nanti aku bisa ganti dengan kalung lain yang kamu sukai," ujar Alden buru-buru, ketika melihat ekspresi Floretta yang tidak sesuai ekspektasinya.
"Aku suka, kok. Kalungnya cantik banget. Tapi kalung ini gak ada kamera tersembunyi, kan?" tanya Floretta.
"Ya nggak ada dong, sayang. Kamu tetap memiliki privasi, kok," jawab Alden. "Aku sengaja memberikan ini untuk melindungi ratu-ku, dari para vampir ganas di luar sana," sambungnya.
Telinga Floretta memanas, ketika Alden memangilnya 'ratu-ku'. "Termasuk Yang Mulia Raven?" tanya Floretta sambil menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Iya, termasuk kakakku," jawab Alden. "Tapi sebaiknya kamu jangan melawannya atau menghindarinya, jika kalian ketemu lagi nanti. Dia itu sebenarnya baik, kok. Cuma orang-orang selalu berpikiran buruk padanya," sambung pria itu.
"Terima kasih, sayangku. Aku berjanji, nggak akan membiarkan siapa pun mengganggumu selama aku masih hidup," ujar Alden seraya menggenggam kedua tangan Floretta.
"Duh, udah dong. Jantungku bisa meledak kalau kamu bersikap manis seperti itu terus," batin Floretta dalam hati.
"Oh, iya. Aku punya satu permintaan untukmu. Kamu harus mematuhinya." Wajah Alden terlihat begitu serius, saat mengatakan kalimat itu.
"Apa itu?" tanya Floretta dengan dada berdesir. Rasa takutnya yang tadi mulai terkikis, kini muncul kembali.
"Jangan pernah ungkapkan identitas aslimu pada siapa pun. Mereka hanya cukup tahu nama aslimu Floretta Blue. Nggak lebih dari itu," kata Alden dengan nada sangat rendah, namun terdengar mengerikan.
"K-kenapa?" tanya Floretta heran.
"Karena nama keluarga Blue sangat sensitif di istana ini. Kamu bisa dalam bahaya, kalau sampai mereka tahu siapa ayah dan ibumu sebenarnya," jelas Alden.
"Tapi sampai kapan aku harus menutupi identitasku? Ku pikir kembali menggunakan nama asliku, bisa membuatku mengungkapkan keluarga kandungku sebenarnya."
__ADS_1
Floretta protes, karena tidak diizinkan untuk mengungkap keluarga kandungnya yang telah lama tiada itu.
"Sampai semua keadaan kondusif. Aku juga ingin ayah dan ibumu dikenal di dunia vampir ini, karena telah memiliki anak yang secantik ini," ujar Alden menenangkan hati Floretta.
...🦇🦇🦇...
Sementara itu diruangan yang berbeda, Raven sedang membolak-balik beberapa lembar foto lama, sambil mengerutkan keningnya. "Tadi kamu bilang, siapa namanya?" ucap sang pangeran vampir.
"Nama aslinya Floretta Blue, Yang Mulia. Dia tamat sekolah sejak SMP. Lalu bekerja sebagai ..."
"Cukup! Floretta Blue? Bukankah marga Blue sudah punah sejak belasan tahun lalu?" balas Raven sambil melihat foto masa kecil Floretta berkali-kali.
Tak disangka, ternyata Floretta kecil di dalam foto itu tampak manis sekali.
"Benar, Yang Mulia. Di catatan sipil kota kelahiran Yang Mulia Putri, dia memang memiliki nama asli Floretta Blue," jawab seorang mata-mata, yang dibayar mahal oleh Raven.
"Ini aneh banget. Bocah bermarga Blue, dirawat oleh keluarga Green?" gumam Raven bingung. "Terus siapa orang tua kandung bocah pelayan itu?" Raven terus menggali infornasi tentang adik iparnya tersebut.
"Tidak ada data tentang orangtua kandungnya, Yang Mulia. Aku sudah mencari informasinya di beberapa tempat, tapi nihil," jawab mata-mata itu lagi.
"Ini lebih aneh lagi. Kenapa data bocah itu ada, tetapi data orang tuanya disembunyikan?" Raven menghembuskan napas dengan kasar.
"Yang aku tahu, dia dibesarkan oleh keluarga sederhana bernama Pak Jayden Green dan Bu Olive Green," lapor sang mata-mata sembari berbisik.
"Si-siapa? Pak Jayden dan Bu Olive?"
Raven terlihat sangat gelisah, setelah mendengar laporan tersebut. Dia lalu membolak-balik lembaran foto itu lagi.
"Ternyata benar, dia tinggal bersama Pak Jayden," batin Raven. "Apakah ini kebetulan? Atau bocah manusia itu memang anak dari keluarga Blue yang aku kenal?" pikir Raven dengan resah.
"Tapi kayaknya nggak, deh. Karena aroma darah bocah ini dan keluarga Blue dulu jauh berbeda," ucap Raven pada dirinya sendiri.
(Beraambung)
__ADS_1