
Hujan badai telah reda. Sinar mentari yang berwarna kuning keemasan kembali menyinari seantero ibukota kerajaan vampir. Tetapi itu bukan berarti semuanya telah usai.
Pohon tumbang merusakkan bangunan di mana-mana. Banjir tinggi masih menggenang di beberapa dataran rendah dan membuat warga terpaksa mengungsi. Anak-anak kecil kedinginan dan menangis ketakutan, akibat rumah mereka tergenang air.
"Kemarilah, Nak. Aku akan membawamu ke tempat yang aman."
Seorang wanita berparas bidadari, menjulurkan tangannya pada beberapa bocah kecil yang meringkuk kedinginan di bawah pohon. Sorot matanya yang hangat, mampu mencairkan rasa takut yang menguasai para bocah vampir yang belum memiliki taring itu. Orang tua mereka sibuk membersihkan puing-puing rumah mereka yang tersapu banjir.
Sayap putihnya yang bertabur debu perak mengepak dengan elegan. Membawa para anak-anak itu ke tempat yang lebih tinggi dan aman. Dia juga memberikan pakaian kering dan sosis darah untuk mengganjal perut anak-anak tersebut.
"Terima kasih, Nona Malaikat," seru anak-anak itu sambil memperlihatkan senyumnya yang lebar. Aneh rasanya melihat vampir tanpa gigi taring.
Wanita dengan perpaduan wajah yang sempurna, kulit seputih salju, dan tubuh ramping dengan sayap putih itu memang membuat sosok rupawan itu tampak seperti malaikat. Ditambah lagi senyuman tipisnya yang mampu melelehkan hati siapa saja.
"Aku bukan malaikat, tapi penyihir," ucap wanita itu sambil mengepakkan sayapnya dua kali. Debu perak beterbangan ke udara, bagaikan butiran kristal yang tertimpa cahaya matahari.
Anak-anak tadi terdiam sejenak. Senyum ceria di wajah mereka pun sirna. Dengan kompak mereka saling menatap, lalu memandang wanita jelita itu dengan intens.
"Terima kasih penyihir baik hati," seru anak-anak itu lagi sambil melambaikan tangan mereka.
Floretta tersenyum geli. Ya, mau gimana lagi. Anak-anak itu masih terlalu polos, untuk mengetahui perseteruan antara manusia dan bangsa vampir.
"Jaga diri kalian baik-baik. Jangan bermain di tengah arus deras," ucap Floretta sambil mengepakkan sayapnya, menjelajah sudut ibukota yang porak poranda terkena air bah.
"Yang Mulia Putri Floretta. Itu adalah Putri Floretta."
Warga pinggiran ibukota kerajaan vampir riuh berseru, saat Floretta membantu mereka membersihkan puing-puing rumah yang terkena ganasnya air dengan sihirnya. Mereka terdiri dari kalangan menengah. Profesi mereka pada umumnya adalah guru, pedagang, pegawai kantoran, hingga petugas medis.
"Ternyata aslinya cantik banget. Waktu ulang tahun raja saat itu, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan," celetuk salah seorang pemuda terpana.
"Ternyata dia nggak cuma cantik, tapi juga baik. Lihatlah, dia mau membantu kita, yang sudah mengejeknya dan mengusirnya dari kerajaan vampir," balas yang lainnya lagi.
__ADS_1
"Yang Mulia. Terima kasih sudah membantu kami. Tapi sebaiknya Yang Mulia kembali ke aula istana untuk melanjutkan ujian calon ratu," kata beberapa staf kerajaan yang turut mengatasi masalah banjir.
"Ah ..."
Floretta bergumam pelan. Dia datang ke sini terburu-buru, karena khawatir dengan keadaan penduduk yang terdampak banjir, sampai melupakan soal ujiannya. Matanya yang sebiru kristal, memandang ke bawah. Gaunnya tak lagi berwarna putih keperakan, melainkan cokelat karena bercak lumpur yang menempel.
"Aku nggak akan bisa ikut ujian dengan kondisi seperti ini, kan?" ucap Floretta seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Tapi kalau Yang Mulia gagal di ujian kali ini, nggak akan ada kesempatan lagi untuk ujian berikutnya. Yang Mulia terpaksa menyerah menjadi ratu," jelas para staf kerajaan itu.
Floretta sejenak merasa bimbang. Dia teringat permohonan Alden padanya tadi malam. Di saat yang sama, kedua alisnya bertaut melihat kekacauan di depan matanya.
"Mungkin saja aku bisa mengikuti ujian dengan baik. Tapi mana mungkin aku naik tahta dengan cara seperti ini?"
Kelopak mata Floretta basah. Ratusan orang sedang membutuhkan bantuan saat ini.
"Nggak, aku nggak akan kabur lagi. Kemarin aku membuat Alden sekarat karena aku mengikuti emosiku. Untuk apa aku menjadi ratu, kalau tak memiliki hati nurani?"
"Kamu bisa pergi, Flo. Aku akan mengurus tempat ini."
Seekor burung hantu bersuara berat dan berwibawa, muncul dari arah belakang. Tak lama kemudian, unggas berwarna abu-abu kehitaman itu mengubah wujudnya menjadi seorang pria tampan.
"Gufo? Ah, maksudku Yang Mulia Raja. Sejak kapan ada burung hantu di siang hari?" ucap Floretta menahan tawa.
"Jangan mengejekku!" sergah Alden.
"Bagaimana nasib para pembuat onar itu? Bukankah seharusnya sekarang Yang Mulia berada di istana untuk mengurus masalah itu?" tanya Floretta sambil membantu tim medis merawat lansia yang terluka.
"Eh, dari mana kamu tahu kalau bencana alam ini ulah mereka? Bahkan para tetua aja nggak mengetahuinya." Alden terkejut dengan kalimat yang meluncur dari bibir istrinya.
Sementara Floretta hanya tersenyum sambil berkata, "Yang Mulia lupa? Aku kan sekarang seorang penyihir."
__ADS_1
... 🦇🦇🦇...
Dua hari setelah banjir bandang. Keadaan pulih dengan cepat dan kembali berjalan seperti biasa. Floretta secara resmi dinyatakan gagal dalam ujian calon ratu. Alden pun diminta untuk mencari ratu lainnya, atau turun dari tahta.
"Ini nggak adil. Masa kamu dinyatakan gagal ujian karena kabur dari aula? Padahal kemarin itu kan karena ada masalah tak terduga," gerutu Alden sambil mondar-mandir dalam kamarnya.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Ini semua salahku. Tapi jika aku harus menjadi selir, bahkan dikembalikan ke dunia manusia, aku ikhlas," ucap Floretta yang duduk bersimpuh di hadapan sang raja.
"Aku yang gak ikhlas. Kamu kandidat terbaik untuk menjadi ratu. Yang salah itu justru mereka, para anggota dewan jstana yang saat ini dikurung di penjara khusus," kata Alden lagi.
"Aku akan mengajukan banding pada dewan penasehat istana untuk membuat ujian ulang," kata Alden sambil berdiri dari kursinya.
"Nggak perlu." Sesosok burung elang tiba-tiba muncul dari balik jendela dan menerobos masuk ke dalam kamar tanpa izin. "Apa kalian nggak lihat kericuhan di depan kastil?" sambungnya, setelah berubah wujud menjadi pria berbaju serba hitam.
"Kericuhan apa maksud kakak?" Alden mengernyitkan keningnya.
"Lihat aja sendiri," balas Raven.
Alden dan Floretta lalu kompak berjalan menuju ke balkon depan kastil. Mereka pun melihat ratusan warga yang sedang unjuk rasa. Mata Floretta berkaca-kaca, saat melihat kalimat yang tertulis di kain putih panjang.
"Kembalikan ratu kami! Seorang manusia lebih memiliki hati nurani dibandingkan para vampir," seru para pengunjuk rasa.
Rupanya kabar tentang keluarga Amethyst penyebab banjir bandang itu telah menyebar. Para rakyat yang tersiksa akibat bencana alam buatan itu pun murka. Rasa simpati mereka terhadap para bangsawan pun memudar. Mereka justru berbalik meminta seorang manusia yang telah bertansformasi menjadi penyihir agung, untuk menjadi ratu mereka.
"Kalian lihat, kan? Para rakyat telah berpihak pada Floretta. Dan ini bukan cuma di ibukota saja. Beberapa provinsi lain juga meminta Floretta naik menjadi ratu, karena kebaikan hatinya telah terbukti," ucap Raven tanpa senyum di wajahnya.
"Kakak beneran mendukung kami berdua?" tanya Alden dengan ragu.
"Entahlah. Sampai sekarang aku masih melihat Floregta sebagai makan malam yang sangat lezat," ucap pria itu sambil berlalu pergi.
(Bersambung)
__ADS_1