
"Jadi intinya, besok aku dan Floretta memiliki agenda yang berbeda?" tanya Alden pada Brayne Brown, asistennya.
"Benar, Yang Mulia. Karena jadwal cukup padat, jadi Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Putri dibagi-bagi," jelas sang asisten, yang biasanya mengurusi pekerjaan di dunia nyata. Kali ini dia datang membantu para asisten sang raja di dunia vampir, karena pekerjaan yang sangat menumpuk.
"Aku ini udah terlalu sabar menghadapi sikap kekanakan para anggota dewan itu. Tapi untuk permintaan seperti ini, udah kelewat batas. Aku curiga para vampir itu mengerjai Floretta."
Alden mengutarakan keluh kesahnya di hadapan sang asisten, dan para pelayannya.
"Tapi kita nggak bisa mengacaukan jadwal acara yang telah mereka buat, Yang Mulia. Itu malah membuat citra calon ratu kita semakin anjlok," kata Brayne.
"Ya, benar juga. Licik sekali mereka merencanakan hal seperti ini," kata Alden Black.
"Kalau sampai identitas asli Floretta dibongkar oleh para anggota dewan, gara-gara aku mengacaukan acara mereka, itu bisa lebih gawat lagi. Untuk sekarang, aku terpaksa mengikuti permintaan para bocah itu," batin Alden.
Pria bermata biru itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menghembuskan napas panjang. Keningnya membuat kerutan cukup dalam, memikirkan nasib calon ratunya besok.
"Leon, apa Lily sudah mahir beladiri dan menggunakan pistol?" tanya Alden pada pengawal pribadi sang istri. Diam-diam dia melatih pelayan pribadi sang putri, agar bisa melindunginya.
"Dia sudah memegang sabuk tertinggi karate dan taekwondo, Yang Mulia. Tetapi dia belum mahir menggunakan senjata api," jawab Leon.
"Yah, itu juga sudah lumayan. Kumpulkan anak buahmu, untuk menjaga Floretta besok," perintah Alden Black.
"Siap, Yang Mulia."
...🦇🦇🦇...
"Waaah, cantik banget. Aku baru tahu, ternyata negeri para vampir itu seindah ini."
Kedua mata Floretta tak lepas memandang lembah bunga yang dihuni kupu-kupu dan capung aneka warna, di sepanjang perjalanan menuju Provinsi Barat Daya. Bahkan keindahan alam di Skotlandia hingga Swiss pun kalah cantik.
"Kenapa aku baru menyadarinya, ya? Apa karena para vampir itu karnivora, jadi semua tumbuhan tumbuh subur di sini?" ujar Floretta sembari melemparkan pandangan ke arah sang suami.
"Eh, kamu bilang apa tadi?" tanya Alden berusaha untuk senyum.
"Kamu baik-baik aja, sayang? Dari tadi keningmu tampak berkerut. Kalau ada sesuatu bilang saja." Floretta menggenggam tangan suaminya dengan lembut.
__ADS_1
"Eh, aku nggak apa-apa, kok. Tadi malam cuma terlambat tidur karena menyiapkan pidato untuk hari ini," balas Alden buru-buru membuat alasan. "Aku malah merasa antusias, karena ini perjalanan dinas pertama kita setelah menikah.
Floretta menghembuskan napas perlahan. Kedua tangannya terangkat, dan menyentuh pipi sang suami dengan lembut.
"Lihat mataku. Sejak kapan pidato acara festival menyita waktumu? Itu sama aja dengan mengobrol bersama rakyat. Sudahlah, jangan sembunyikan masalahmu dariku, Al," ujar Floretta.
"Ah, jadi selama ini kamu sering memperhatikan aku? Senangnya ..." balas Alden mengedipkan sebelah matanya.
"Ish, bukan itu maksudku." Floretta memalingkan wajah dan memanyunkan bibirnya. Pak supir yang berada di balik kemudi, tersenyum melihat tingkah kedua sejoli tersebut.
"Udahlah, nggak usah dipikurkan anggap aja kita lagi berlibur. Lihatlah, kita udah hampir memasuki wilayah ibukota provinsi," kata Alden menunjuk ke atap Kastil Welwitschia, tempat tinggal para Marquess dan Marchioness Barat Daya yang menjulang indah.
"Dari ekspresinya, dia pasti menyembunyikan banyak hal dariku. Apa karena jadwal kami berbeda?" tanya Floretta dalam hati.
...🦇🦇🦇...
"Wow, cantik banget."
Bibir Floretta tak henti-hentinya berdecak kagum, melihat bangunan berusia hampir satu abad, yang tetap berdiri kokoh dan tertata rapi. Nuansa klasik dan modern berpadu dengan indah di sini. Floretta bahkan masih bisa melihat koleksi gelang manik-manik, yang dibuat dari tanah liat dan pasir silika.
Jika di tempat lain sebuah provinsi dipimpin oleh para Duke dan Duchees, maka di kerajaan ini para Marquess dan Marchioness yang memimpinnya, sekaligus memimpin wilayah perbatasan. Sementara para Duke dan Duchees yang jumlahnya sedikit, menduduki posisi penting di kerajaan.
"Selamat datang, Yang Mulia. Kami sudah menyiapkan kamar untuk tempat istirahat Yang Mulia Raja dan Putri Floretta. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum acara dimulai."
Para pelayan senior dan terlatih menyambut pasangan muda tersebut di kastil utama.
"Hei, bagaimana kalau kita berbulan madu dulu sebelum acara dimulai," bisik Alden. "Tiga puluh menit cukuplah," sambung Alden lagi.
"Astaga! Jangan bilang kayak gitu di depan semua orang, dong." Floretta mencubit pinggang Alden dan membelalakkan matanya.
"Lho, kenapa? Kita kan udah menikah," balas Alden tersenyum nakal.
"Ssshhh, sudah diam!" Wajah Floretta memerah bak buah apel di musim semi. "Katanya dia mau mengajakku berlibur dan menenangkan diri. Tapi baru aja datang, firasatku sudah buruk," gerutu Floretta dalam hati.
"Jangan menolak. Pokoknya kamu harus ikut denganku. Kamu pasti suka," kata Alden Black memaksa. Dia lalu menarik le gan sang istri dan melangkah semakin masuk ke dalam wilayah Kastil Welwitschia.
__ADS_1
"Yang Mulia ...!" pekik Floretta. Akan tetapi sang suami tetap melanjutkan langkahnya.
"Mari, lewat sini, Yang Mulia," ucap salah seorang pelayan memberi petunjuk arah. Seakan dia sudah tahu ke mana tujuan sang raja.
"Ayo masuk. Jangan takut, Flo. Aku yakin kamu pasti suka." Alden mempererat genggaman tangannya pada Floretta, agar wanita itu tak bisa kabur.
Setelah berbelok beberapa kali ke ujung lorong, akhirnya seorang pelayan membukakan sebuah pintu yang sangat besar. Cahaya terang yang sangat menyilaukan pun menyambut Floretta, hingga wanita itu menutup matanya.
"Sekarang bukalah matamu," pinta Floretta.
"Uwwaaaah..."
Floretta tak percaya, dirinya saat ini berada di tepi padang bunga yang sangat indah. Beragam jenis bunga dengan aneka warna, membentang luas sejauh mata memandang.
"Selama ini yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup di dunia yang keras ini. Sampai aku lupa untuk menikmati indahnya hidup," batin Floretta terharu.
"Provinsi Barat Daya adalah tempat paling indah di kerajaan vampir ini. Musim salju di sini juga sangat singkat, jadi bunga-bunga duluan mekar dari pada tempat lain," jelas sang raja dengan bangga.
"Sudah lama aku nggak merasakan ketenangan seperti ini. Padahal baru beberapa menit di sini, tetapi rasanya aku sudah betah. Apa karena aku di sini bersama Alden, ya?" pikir Floretta yang mulai merasa nyaman.
"Tadi kamu cuma bisa melihatnya, kan? Sekarang aku akan membawamu berbulan madu di taman bunga ini. Ayo, aku tunjukkan tempat yang lebih cantik lagi. Ada hutan dengan sungai yang jernih juga di sini," ucap Alden seraya menarik lengan Floretta, memasuki padang bunga itu.
"Ah, jadi bulan madu yang kamu maksud?" ucap Floretta lirih.
"Hmm? Memangnya kamu memikirkan bulan madu yang seperti apa?" Alden mendadak menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap Floretta.
Udara sejuk yang berhembus, membuat rambut hitam berkilau sang raja menjadi acak-acakan. Namun hal itu justru semakin menambah ketampanannya.
"Ah, itu ... Bukan apa-apa, kok," kata Floretta dengan cepat.
"Ngomong-ngomong masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum acara dimulai. Apa kamu mau melakukan bulan madu yang kamu inginkan tadi di sini?" tanya Alden sambil tertawa nakal. "Kau udah siap memberikannya padaku, kan?" bisiknya sambil mengusap pipi sang putri.
"A-apa? Jangan macam-macam kamu, Al! Kamu mau melakukannya di sini, dan dalam waktu sesingkat itu?" Floretta langsung mundur beberapa hasta dari suaminya.
"Oh, jadi kalau di tempat tertutup dan waktu panjang kamu mau, nih?" goda Alden.
__ADS_1
(Bersambung)