Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 74. Sang Ratu Pelakor


__ADS_3

Langit senja di taman istana Kastil Ecarlatte tampak indah, dengan warna jingga yang temaram. Salju di rerumputan sudah mulai mencair. Para kelinci dan tupai yang baru saja terbangun dari tidr panjangnya, telihat berlompat kegirangan menyambut awla musim semi di kerajaan vampir.


"Amber, lihat. Siapa yang mengenakan gaun cokelat norak itu," tunjuk Rose Fuchsia sambil mencibir.


"Aah, pelakor yang pengen naik tahta jadi ratu itu?" balas Amber Geranium.


Ekor matanya melirik ke arah Floretta, yang berjalan dari sisi berlawanan. Jarak mereka cukup dekat, sehingga Floretta bisa memdengar semua obrolan para marchiones itu.


"Haaah, mereka berdua bikin awal musim semiku seperti musim gugur penuh hujan badai. Kok bisa sih orang seperti kalian dipercaya mengelola taman istana?" balas Floretta, ketika mereka berpapasan. Dia sudah bosan diam dan mengalah saja, setiap para penghuni istana mengejeknya.


"Apa? Justru kau lah yang membuat kerajaan kami menjadi rusuh. Kalau kau nggak ada, kerajaan kami akan tetap tentram dan gak ada keributan antar anggota dewan istana," balas Rose tak terima.


"Dan keluargamu juga yang membuat Pangeran Raven dicopot dari calon raja," ucap Amber menambahkan.


"Hah? Keluargaku? Apa sih maksud mereka?" pikir Floretta bingung.


"Tapi sekarang malah kau yang menggoda Pangeran Raven, agar mendorongmu jadi seorang ratu. Hah! Dasar nggak tahu malu!" cibir Rose.


"Hanya karena Pangeran Raven memberi belas kasihan padamu, jangan pikir kami semua akan mengalah begitu aja," sambung Amber pula.


"Menggoda?" gumam Floretta. Keningnya membentuk kerutan dalam. Kedua matanya menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tajam. Dia tidak setuju dengan istilah yang dilontarkan Rose padanya.

__ADS_1


"Beberapa minggu sebelum kamu ditunjuk sebagai pelayan, kamu datang ke kastil Pangeran Raven dengan pakaian maid, kan? Para pelayan menjadi saksinya," kata Amber sambil mengangkat dagunya dengan angkuh.


Floretta mengepalkan kedua tangannya. Meskipun memiliki arti yang sama, namun 'maid' di kerajaan vampir memiliki makna negatif. Dia dianggap sebagai pelayan yang melayani majikannya dengan tubuh dan kecantikannya.


"Yang jelas, rayuanmu sepertinya cukup berhasil. Pangeran Raven yang dingin dan terkenal kejam pada wanita, akhirnya sedikit luluh padamu," tuduh Rose dan Amber.


"Huh? Kalian salah sangka. Aku datang ke sana karena kehilangan kucingku, Pillow. Lalu setelah itu aku dan Yang Mulia Raja makan malam bersamanya," jelas Floretta, membantah tuduhan tersebut.


"Haha, kau b*d*h ya rupanya? Itulah maksudku, sejak kapan Pangeran Raven mau makan malam bersama? Dia sudah hidup menyendiri sejak umur enam belas tahun," balas Amber mencibirkan bibirnya yang dipoles lipstik berwarna coral. "Ah, padahal sampai sekarang aku masih mengaguminya," sambung wanita bergelar marchiones itu.


"Terserah kalian, deh. Percuma aku menjelaskannya kalau kalian nggak percaya," kata Floretta hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Rose dan Amber.


"Ah, aku tadinya nggak mau bilang. Tapi semua pelayan tahu, kalau saat kau bekerja pada Pangeran Raven, tiba-tiba kalian berdua menghilang ke sebuah ruangan rahasia, kan?" Amber menahan Floretta untuk pergi dari sana.


"Kau menghilang di sana untuk menjual tubuhmu pada Sang Pangeran, kan? Dasar licik! Pangeran Raven itu dambaan hampir semua putri bangsawan di kerajaan ini," ucap Amber dengan seringai lebar.


"Sudah cukup, Amber! Ucapanmu itu udah keterlaluan," bentak Floretta.


"Kenapa kau marah? Bukankah itu kenyataannya? Kau berasal dari kalangan bawah bangsa manusia, yang tidak akan bisa menjadi seorang ratu. Jadi satu-satunya jalan yang tersisa adalah menggoda Sang Pangeran," bisik Amber di telinga Floretta.


"Harusnya kau sadar! Jika dibandingkan dengan Erlina Amethyst yang diberi anugerah oleh Dewa kami, kau itu nggak ada apa-apanya. Kau juga nggak mungkin ada di sini kalau bukan karena Yang Mulia Raja," kata Rose dengan gayanya yang angkuh.

__ADS_1


Floretta menarik napas panjang. Rasanya ingin sekali membalas mulut kotor para wanita ini, tetapi rasanya hanya membuang-buang energinya saja. Karena mereka tidak akan pernah berubah.


"Oh, aku lupa, Rose. Masih ada satu bakat lagi yang dimilikinya, yaitu menjadi ratu pelakor," tawa Amber dengan nada mengejek.


Tasss! Tali kesabaran Floretta pun putus. Dia mengangjat tangannya, hendak memberi pelajaran pada Marchioness Amber Geranium.


"Tahan, Flo." Tiba-tiba Alden datang dan menahan tangan Floretta, yang hendak menampar Amber.


"Y-yang Mulia?" gumam Floretta, Amber dan Rose bersamaan.


"Aku nggak mendukung kekerasan terjadi di dalam istanaku," ucap Alden sambil melepaskan genggaman tangannya di lengan sang istri. "Tetapi jika tujuannya untuk melindungi dirimu dan menegakkan keadilan, aku mendukungmu."


Tanpa diduga, Alden memberikan sebuah pistol pada Floretta. "Kau tahu cara memakainya, kan? Gunakan ini untuk memberi mereka pelajaran," bisik Alden sambil berdiri di belakang Floretta, dan membantu wanita itu mengarahkan ujung pistolnya ke arah yang tepat. Secara nggak langsung, mereka pun berpelukan.


"Y-yang Mulia? Apa yang Anda lakukan?" Amber mundur beberapa langkah, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan ragu, Flo. Seorang vampir gak akan mati, hanya karena terkena sebuah timah panas," kata Alden berbisik dengan lembut di telinga Floretta.


Dor! Floretta pun menarik pelatuk senjata api tersebut.


"Amber!" jerit Rose histeris

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2