
“Keluarga Blue adalah keluarga terhormat dari dunia manusia. Darahnya juga terkenal lezat. Tetapi aroma darahmu sama sekali nggak enak. Apa kamu sengaja memalsukan identitasmu, agar bisa menikahi raja kami?” Edmund Grey terus mendesak Floretta.
“Dari awal aku nggak pernah menggoda Alden. Dia yang tiba-tiba datang melamarku, lalu dia juga yang menyebut namaku menjadi Blue saat pernikahan,” jawab Floretta dengan lantang.
“Kau pikir kami bakalan percaya, hah? Mana mungkin raja kami tiba-tiba datang melamar pelayan sepertimu?” ejek Daisy sambil tertawa remeh, diikuti para vampir lainnya.
“Dilihat dari baumu, jelas sekali kau bukan keturunan ningrat dan konglomerat di dunia manusia. Kau hanyalah seorang p3lac*r berkedok pelayan. Menggoda raja kami dengan tubuhnya,” sambung Daisy lagi.
“Ucapan kalian sudah sangat keterlaluan. Apalagi semua ini dikatakan oleh para bangsawan yang berpendidikan tinggi seperti kalian,” balas Floretta tanpa rasa takut.
“Kalau begitu jelaskan, siapa dirimu sebenarnya?” desak Russel.
“Menurut kalian kenapa aku menggoda Yang Mulia, jika pada akhirnya aku kabur dari istana ini?” balas Floretta dengan sengit. Wanita itu menegakkan bahunya, dan mengangkat wajahnya agar terlihat lebih berani.
“Tentu saja karena ku mengira, bahwa raja kami itu adalah manusia. Tetapi saat kau tiba di sini, baru mengetahui identitas dia yang sebenarnya, kan?” tebak Novac seraya mengangkat sebelah alisnya.
“Sial! Tebakan mereka tepat banget!” batin Floretta dalam hati.
Sang putri kembali memutar otak, untuk memberikan jawaban yang tepat, tanpa terjebak oleh tipu muslihat para vampir ini.
“Menurutku hal ini hanya bisa dibicarakan, sewaktu Yang Mulia Raja ada di sini. Karena hanya dia yang tahu, kenapa memilihku sebagai istrinya,” ucap Floretta kemudian.
“Jadi kau mau mengelak dari kami?” bisik Edmund yang sedari tadi diam saja.
“Kalau aku mau mengelak dari kalian semua, sejak awal aku nggak akan datang ke pertemuan ini,” jawab Floretta. Wanita itu menyembunyikan kedua tanganny yang gemetar ke bawah meja, agar tidak terlihat oleh para vampir tersebut.
“Sepertinya rumor bahwa kau nggak penakut itu benar, ya? Dari tadi kau melawan kami, yang sewaktu-waktu bisa menghabisi nyawamu,” gumam Edmund dengan lembut, namun ekspresinya sangat mengintimidasi.
Floretta hanya menghembuskan napas secara perlahan, sambil mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
“Oke, kalau gitu aku langsung ke inti pertemuan ini saja. Kami merasa kau tidak pantas untuk menjadi ratu kami, karena kau tidak memenuhi persyaratan,” ucap Edmund seraya menatap Floretta dengan tajam.
Istri dari raja vampir itu tidak sanggup membalas tatapan dari Edmund. Wajahnya yang tampan dan nyaris sempurna, sangat kontras dengan tatapan matanya yang dingin bagaikan hendak membunuh siapa pun di hadapannya.
“Aku tahu soal itu. Tetapi aku tidak akan mundur begitu saja. Aku sudah mengikat janji dengan suamiku,” jawab Floretta setelah mengatur napasnya.
“Untuk menjadi istri raja, biasanya anggota dewan akan memilih para kandidat terbaik dan memberikan biodata mereka pada raja untuk diseleksi. Para kandidat itu adalah wanita bangsawan terbaik dalam hal kecantikan, pendidikan dan latar belakang keluarga.”
Novac membuka undang-undang kerajaan vampir melalui HP-nya, lalu membacanya dengan lantang.
“Nah, kau tidak memiliki semua kriteria itu,” ujar Edmund menyambung kalimat rekannya.
“Duchees Erlina Amethyst adalah wanita pilihan, yang telah melalui semua seleksi tersebut. Dia adalah kandidat yang paling tepat, untuk menjadi ratu kami,” kata Daisy menambahkan.
Florretta merasa cemburu dan kesal, karena dibanding-bandingkan oleh tunangan sang raja. Bahkan hingga saat ini, dia belum melihat foto calon ratu vampir tersebut.
“Jadi apa yang kalian inginkan dariku? Kalian ingin aku menghilang? Begitu?” balas Floretta dengan ekspresi datar dan nada bicara lembut. Hatinya yang berkecamuk, tidak dia tunjukkan di depan para vampir tersebut.
“Jadi?” gumam Floretta. Wanita itu sudah tidak sabar, untuk keluar dari ruang menyesakkan ini.
“Jadi kami akan memberikan ini padamu,” ucap Novac sambil melemparkan tersenyum manis pada sang putri. Dia memberikan selembar kertas pada Floretta.
“Apa ini?” gumam Floretta.
“Itu adalah jalan keluar terbaik bagimu. Dengan menandatangani surat ini, maka pernikahanmu dengan raja vampir itu akan dibatalkan. Baik di dunia vampir, maupun di dunia manusia,” ucap Edmund.
“Dibatalkan? Maksudnya berbeda dengan perceraian?” gumam Floretta sedikit bingung.
“Ya. Dengan itu kamu nggak perlu menanggung beban menjadi seorang ratu,” balas Edmund.
__ADS_1
“Kami akan memberikan kompensasi yang sangat besar padamu. Bahkan kamu boleh memilih tempat tinggal di luar negeri, beserta identitas baru. Semuanya akan kami siapkan,” ujar Russel menambahkan. Dia tampak bersemangat mengusir manusia itu dari kerajaan mereka.
“Dengan ini aku bisa hidup bebas? Apa mereka bisa dipercaya?” Floretta meragukan para vampir itu.
“Kamu nggak perlu takut kamu bohongi. Kamu bisa mendapatkan semua harta kompensasi itu hari ini juga. Asalkan kamu setuju untuk menandatangani ini,” ujar Novac yang mengerti isi pikiran Floretta saat ini.
Floretta menarik napas dalam dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Kedua matanya yang indah bagai permata, menatap surat pembatalan pernikahan itu dengan seksama. Dia membaca setiap butir isi perjanjian yang dibuat oleh para vampir tersebut.
“Kenapa kau masih ragu? Bukankah Yang Mulia Raja sudah menipumu? Dia tidak memberi tahu identitas aslinya, sebelum kalian menikah, kan? Ini jadi alasan yang tepat untuk membutuhkan hubungan pernikahan dengannya,” bujuk Russel.
“Benar. Statusmu tidak akan berubah menjadi janda. Lagian kalian berdua belum melewati malam pertama, kan?” bisik Novac di telinga Floretta, sambil tersenyum jahil.
“A-apa? Dari mana mereka tahu soal hal itu? Apa karena ini mereka melarang aku dan Alden tidur dalam satu kamar?” pikir Floretta menahan malu.
“Astaga, apalagi sih yang kamu pikirkan? Tinggal tanda tangan aja kok susah banget?” Daisy memberikan sebuah pena pada Floretta, dan mendesaknya untuk segera menandatangai surat pembatalan pernikahan itu.
“Ini adalah semua harta yang akan kami berikan untukmu. Jika kau menandatanganinya, maka semua harta ini akan diganti atas namamu. Dan kamu bisa hidup tenang di dunia manusia.” Kali ini Edmund sang ketua anggota dewan yang membujuk Floretta.
“Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan. Tetapi kata hatiku mengatakan, untuk nggak mengikuti permintaan mereka,” batin Floretta dalam hati.
“Jadi gimana?” tanya Russel tidak sabar.
“Sudah aku katakan, ini bukan hal yang bisa aku putuskan sendirian. Yang Mulia Raja harus tahu semua ini. Karena dia yang paling berhak untuk memilih pendampingnya?” ucap Floretta dengan tegas.
“Hah? Kau bodoh, ya. Mana mungkin Yang Mulia Raja bakal mengizinkanmu menandatangani ini. Kamu juga nggak tahu kan, apa yang akan dilakukannya padamu nanti?” kata Novac sambil mendengus kesal.
“Apa yang akan terjadi, kalau aku menolak untuk menandatanganinya?” tanya Floretta.
“Maka gelas-gelas kosong di sini akan menunggu, untuk diisi dengan darah dari mayatmu sekarang juga,” jawab Edmund sambil mengekuarkan gigi taringnya yang tajam.
__ADS_1
(Bersambung)