
"Apa benar aku terlalu egois, karena cuma memikirkan keadaan Alden? Tapi bukankah mereka juga egois, karena tidak membebaskan Alden memilih pasangannya sendiri?"
Floretta melangkah gontai menuju keluar perpustakaan. Kepalanya menunduk sangat dalam. Hati dan pikirannya berkecamuk, setelah mendengar ucapan dari sang kakak ipar tadi.
"Lalu dari mana juga dia tahu nama kedua orang tuaku? Apa keluarga Blue sangat terkenal di sini? Apa yang terjadi, kalau mereka tahu identitas asliku?" pikir Floretta resah.
"Jangan terlalu dipikirkan, Yang Mulia. Raja pasti sudah berpikir matang-matang, sebelum menikahi Yang Mulia," ucap Lily, yang memahami isi pikiran Floretta saat ini.
"Lily, apa yang terjadi kalau seorang manusia menikah dengan vampir? Apa anaknya akan mewarisi gen vampir? Atau sebaliknya?" tanya Floretta penasaran.
"Aku juga kurang tahu, Yang Mulia. Karena pernikahan campuran seperti itu, belum pernah terjadi sebelumnya," jawab Lily.
Seorang pelayan dari gedung utama, tampak berlari mendekati Floretta. Napasnya terengah-engah, seperti sangat terburu-buru.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Yang Mulia Putri," ujar pelayan bergaun cokelat tersebut.
"Siapa? Dia menunggu di mana?"
Namun belum sempat pelayan tersebut menjawab pertanyaan Floretta, suara langkah sepatu yang begitu nyaring, terdengar dari lorong di depan mereka. Sontak kedua bola mata Floretta pun menoleh ke arah sana.
Seorang wanita cantik berkulit seputih salju, memandang sambil tersenyum memukau, bahkan Floretta saja yang sama-sama perempuan ikut terpesona.
__ADS_1
Wajahnya yang mungil dan jernih. Hidung mancung, tubuh tinggi, bibir mungil tapi terlihat sensual, serta tubuhnya yang berlekuk sangat seksi. Ditambah lagi dengan rambut panjang berwarna hitam keperakan yang sangat unik.
"Siapa dia?" Floretta tidak bisa menebak-nebak, siapa kiranya wanita cantik yang berdiri di hadapannya saat ini.
Make up yang digunakan wanita itu sangat tipis, bahkan hampir tidak ada. Semua keindahan di setiap inchi tubuhnya itu asli. Namun, justru menambah kesan anggun dan elegan.
Wanita itu benar-benar perwujudan dari seorang Dewi, penggoda iman para lelaki.
"Halo, Floretta Blue," sapa wanita itu.
Dagunya yang tirus terangkat ke atas, seakan memberitahukan posisinya yang lebih tinggi dibandingkan Floretta.
Dia memandang ke arah Lily dan pelayan satu lagi untuk meminta jawaban, siapa wanita ini sebenarnya. Kenapa dia memanggil Floretta hanya dengan sebutan nama tanpa gelar "Yang Mulia?"
"Sudah lama sekali aku ingin bertemu denganmu. Aku sangat penasaran dengan gadia yang telah membuat tunanganku uring-uringan belakangan ini," ucapnya dalam tawa pelan. Namun entah kenapa, Floretta bisa menangkap nada mengejek dari intonasinya.
"Oh, gawat! Dia Erlina Amethyst! Tunangan Alden ini pasti cemburu padaku," jerit Floretta dalam hati. Kepalanya mendadak membeku, tak bisa berpikir jernih apa yang harus dilakukannya saat ini.
Walaupun Floretta tidak diterima oleh seluruh isi kerajaan ini, tapi tetap saja statusnya sebagai istri pertama sang raja tidak dapat dipungkiri.
"Hmmm."
__ADS_1
Erlina menggumam pelan, sembari melangkahkan kakinya memutari istri sang raja tersebut. Langkah kakinya seanggun penampilannya. Namun, Floretta merasa jengah diperlakukan seperti itu. Tetapi dia juga tidak berani melawannya.
"Aku heran, kenapa Alden bisa bertekuk lutut padamu. Padahal dilihat dari sisi mana pun, aku jauh lebih cantik darimu," ujar Erlina dengan angkuhnya.
"Huh, apa katanya? Kutarik lagi kata-kataku tadi, yang menyatakan kalau dia cantik dan elegan," batin Floretta merasa tersinggung.
"Kemampuanku juga nggak diragukan lagi, karena aku lulusan magister universitas terkemuka di luar negeri. Sedangkan kamu? Lulusan dari universitas mana?" sambung Erlina lagi sambil mencibir.
"Aku memang universitas ternama. Tetapi aku punya attitude, untuk nggak meremehkan orang lain seperti kamu," balas Floretta merasa geram.
"Ya wajar, sih. Memangnya apa yang mau kamu sombongkan? Cantik nggak, pintar dan kaya apa lagi?" cibir Erlina.
"Aku nggak berniat memintamu dari posisi ini. Tapi kamu harus bisa ikut semua peraturan dan tradisi di kerajaan ini, termasuk meminum darah manusia saat ulang tahun raja," kata Erlina. Kedua matanya yang indah bagai batu safir, tampak menusuk hingga ke relung jantung sang putri.
"Hei, Erlina! Cukup menakut-nakutinya. Jangan buat Alden semakin membencimu, kalau kamu masih menginginkan posisi ratu. Alden pasti nggak suka melihat istrinya direndahkan seperti ini."
Suara berat dari seorang lelaki di belakang mereka, sontak membuat Floretta maupun Erlina menoleh ke belakang.
"Apa maksudmu, Pangeran? Kamu membela manusia bau ini?" ucap Erlina tersinggung dengan ucapan Raven.
(Bersambung)
__ADS_1