
“Huff, kamu pasti bisa, Floretta. Alden sudah memberitahu garis besar dari keadaan kerajaan ini. Jadi seharusnya aku baik-baik aja, walau hanya ditemani oleh Leon Hazel.”
Floretta melangkahkan kakinya dengan gamang, menuju ke ruang pertemuan dengan Anggota Dewan Istana. Ruang tersebut berada di gedung terpisah, dari kediaman Raja, Pangeran Raven dan dirinya. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya Floretta berjalan keluar istana secara resmi, walau pun masih berda dalam satu kompleks.
Tap! Langkah kaki Floretta berhenti tepat di depan pintu besar yang memiliki ukiran bunga dengan lima warna. Itu adalah symbol dari lima bangsawan terkuat di kerajaan ini.
“Aku tidak takut. Aku tidak takut menghadapi mereka. Aku cuma perlu mengingat-ingat semua pesan yang diberikan oleh Alden kemarin.” Floretta berbisik pada dirinya sendiri, untuk memberikan keberanian pada hatinya.
Drrrk! Pintu kayu setinggi dua setengah meter dan lebar tiga meter itu pun terbuka. “Yang Mulia Putri Floretta memasuki ruangan,” ujar seorang pengawal, yang berdiri di sisi pintu.
Langkah kaki sang putri terasa gemetar, ketika memasuki ruangan berdesain klasik itu. Para nggota dewan sudah berkumpul di sana.
Dewan Istana, atau yang kadang juga disebut sebagai Dewan Kerajaan, adalah majelis bangsawan tertinggi di pemerintaan Kerajaan Vampir. Mereka memiliki kekuatan untuk membahas dan memutuskan hal-hal penting dalam kerajaan.
Keluarga bangawan tersebut merupakan klan yang sangat berpengaruh dalam sejarah pendirian Kerajaan Vampir. Mereka semua memiliki gelar Duke dan Duchess, kecuali keluarga Black yang memiliki gelar Putri dan Pangeran sebelum dinobatkan sebagai Raja dan Ratu.
Namun selain lima keluarga bangsawan tersebut masih ada delapan anggota bangawan lainnya, yang kedudukannya di bawah lima keluarga tadi. Mereka memiliki gelar Marquess dan Marchioness.
Hati Floretta sedikit lega. Ternyata di dalam ruangan itu hanya ada enam orang, yang sepertinya mewakili masing-masing nama keluarga mereka. Tetapi …
“Wah, aku kira anggota dewan istana hanya diisi dengan orang-orang tua, seperti di dunia manusia. Ternyata mereka semua kelihatan sangat muda,” gumam Floretta dalam hati.
Meskipun dia sudah melihat foto dari masing-masing anggota dewan tersebut, ternyata wajah mereka yang asli terlihat jauh lebih muda.
“Silakan duduk, Yang Mulia,” ujar salah seorang pengawal mempersilakan Floretta untuk duduk. Sementara Leon Hazel, pengawal pribadi Floretta, harus meunggu di luar ruangan.
__ADS_1
Floretta pun duduk di sebuah kursi, yang disediakan khusus untuknya. Tetapi wanita itu merasa bingung. Para anggota dewan tersebut terlihat acuh dengan kedatangannya. Mereka sibuk mengobrol hal nggak penting, tanpa melihat ke arah Floretta.
Wanita itu kemudian berdiri. “Perkenalkan, aku Floretta Blue. Ah, maksudku Floretta Black, dari bangsa manusia. Salam kenal.”
Wanita dari ras manusia itu berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya. Namun, para anggota dewan itu masih mengacuhkannya.
“Aku yakin mereka semua mendengarku. Apalagi jarak duduknya hanya sekitar satu meter. Tetapi bertindak seolah-olah aku nggak ada di sini.” Floretta mulai merasa kesal, dengan sikap para anggota dewan tersebut.
Wanita itu menunggu selama hampir sepuluh menit, hanya untuk mendengarkan ocehan gak berguna dari para vampir itu. Floretta merasa mereka sengaja melakukannya, untuk meremehkannya yang bangsa manusia ini.
“Sepertinya para anggota dewan sekalian sedang tidak ada urusan denganku. Sebaiknya aku undur diri, agar tidak mengganggu obrolan kalian,” ucap Floretta sambil menahan rasa kesal.
“Dia benar-benar udah gila! Bisa-bisanya raja kita itu menikahi manusia, dan menghianati adikku?”
Seorang pria dengan bross berwarna amethyst di dadanya, tiba-tiba berteriak kesal. Dia adalah Novac Amethyst. Anak laki-laki tertua dari keluarga Amethyst.
“Benar sekali, Novac. Manusia itu juga sepertinya nggak berniat menjadi ratu. Soalnya dia mencoba melarikan diri dari istana ini,” ujar seorang pria berambut kemerahan, yang bernama Russel Krimson.
Hati Floretta semakin panas, mendengar para vampir menyindirnya terang-terangan seperti itu. “Huh, kekanakan sekali mereka,” batin Floretta.
“Haaah … Mana ada ratu semacam itu. Belum apa-apa dia udah melarikan diri dari masalah istana. Gimana nanti kalau ada masalah yang lebih besar lagi di kerajaan,” cibir seorang wanita bernama Daisy, yang juga berasal dari keluarga Krimson.
“Jangan berkecil hati, Novac. Duchess Erlina berkali-kali lipat jauh lebih baik darinya,” ujar Russel lagi.
“Kenapa nggak kita musnahkan saja manusia lemah itu, selagi raja kita sedang dinas ke luar negeri? Aku rasa itu tindakan paling tepat, untuk mengamankan kerajaan kita,” ucap salah seorang wanita yang tidak dikenali Floretta. Mungkin dia berasal dari keluarga Russel atau Cyan, karena rambutnya yang berwarna merah kecoklatan.
__ADS_1
“Ini bukan rapat. Ini hanya ajang untuk membuktikan bahwa manusia itu kedudukannya jauh di bawah mereka,” batin Floretta kesal.
Tetapi Floretta memperhatikan seorang pria, yang sejak tadi hanya diam saja, tidak ikut mengobrol dan merendahkannya. Pria dengan bros berwarna abu-abu di dadanya. Dari foto-foto yang diperlihatkan Alden kemarin, Floretta pun bisa menebak bahwa dia adalah Ketua Dewan Istana periode ini.
“Padahal dia hanya diam. Tapi entah kenapa aku malah merasa lebih takut padanya, dibanding vampir lainnya?” pikir Floretta gelisah. Keberanian yang telah dikumpulkannya selama berhari-hari, seakan luntur karena tatapan pria itu.
Para vampir itu masih mengoceh, saling merendahkan Floretta. Telinga sang putri itu pun memanas. Perlahan-lahan dia kembali mengumpulkan keberanian, untuk melawan para vampir itu.
“Bisakah kalian bicarakan langsung padaku tanpa menyindir?” Tiba-tiba Floretta menyela obrolan para vampir itu.
“Wah, rupanya aku mendengar seekor tikus bau yang berbicara. Apa dia pikir kita akan takut padanya?” tawa Daisy Krimson.
“Sudahlah, hentikan. Sikap kalian itu sangat memalukan bangsa vampir di depan manusia ini. Apa kalian memang terbiasa bersikap kekanakan seperti ini?” ujar Edmund Grey dengan tatapan tajam.
“Apa? Kau menyindir kami di depan manusia itu? Kenapa kau membelanya?” ujar Novac Amethyst kesal. Dia menggebrak meja untuk menunjukkan kekuasaannya.
“Floretta Blue. Jadi itu benar namamu? Bukankah keluarga Blue sudah musnah belasan tahun lalu? Siapa kau sebenarnya?” Edmund Grey tidak membalas omelan Novac. Dia justru melemparkan pertanyaan pada Floretta.
“Ku rasa nama keluargaku nggak ada hubungannya dengan rapat ini, Duke Edmund,” jawab Floretta. Dia masih mengingat pesan Alden, agar tidak membeberkan siapa keluarga aslinya.
“Tentu saja ada. Kau berbohong soal identitas aslimu, supaya bisa menikahi raja, kan?” balas Edmund dengan cepat.
Putra satu-satunya dari keluarga Grey itu berdiri dari kursinya, lalu berjalan mengitari Floretta.
“Keluarga Blue adalah keluarga terhormat dari dunia manusia. Darahnya juga terkenal lezat. Tetapi aroma darahmu sama sekali nggak enak. Apa kamu sengaja memalsukan identitasmu, agar bisa menikahi raja kami?” Edmund Grey terus mendesak Floretta)
__ADS_1
(Bersambung)