
"Lily, tolong letakkan ini di kamar Yang Mulia Raja." Floretta memberikan perintah pada Lily, sambil menunjuk ke arah sebuah nampan yang tertutup rapat.
Lily mengalihkan pandangannya pada Floretta yang tampak berwajah masam. "Baik, Yang Mulia," jawab Floretta. Dia segera melakukan tugas yang diperintahkan dengan segera, meski hatinya bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi? Sepertinya wajah Yang Mulia Putri terlihat lebih kesal, dibandingkan saat dia baru nengetahui identitas kami?" pikir Lily cemas dan takut.
"Oh iya, Lily. Setelah mengantarkan itu, kamu langsung kembali ke sini, ya. Bawa Bu Magenta juga," perintah Floretta tanpa senyum sedikit pun. Nada suaranya terdengar sedikit ketus, berbanding terbalik dengan sikapnya biasanya.
"Baik, Yang Mulia," jawab Lily dengan hati berdebar. Floretta terlihat seram malam ini.
Beberapa saat kemudian.
"Yang Mulia memanggil kami berdua?" ucap Bu Magenta sambil memberikan salam.
"Ya, duduklah. Aku cuma ingin mengobrol dengan kalian, sambil memakan snack ini," ucap Floretta sambil mengguncang beberapa bungkus snack seraya tersenyum kecil.
Nada suara Floretta sudah kembali lembut seperti biasanya. Dia juga sudah mengganti gaunnya dengan baju tidur.
"Mengobrol?" tanya Lily dan Bu Magenta bersamaan.
"Iya. Memangnya aneh?" ucap Floretta sambil mengajak kedua pelayannya duduk bersama di sofa.
"Memang cukup aneh, sih. Mana ada pelayan yang nengobrol santai bersama majikannya, Yang Mulia," jawab Bu Magenta.
Floretta tidak serta merta membalas kalimat pelayan senior tersebut. Jemari kecil sang putri, membuka sebungkus snack keripik kentang, lalu meletakkannya di tengah-tengah meja. Dengan isyarat mata, dia menawarkan kedua pelayannya untuk memaksan snack penuh micin tersebut.
"Sebenarnya aku merasa sedih, karena Alden nggak terbuka padaku." Floretta memulai ceritanya, tanpa meminta persetujuan dari pelayannya lagi.
"Dia nggak pernah cerita tentang keluarganya dan kerajaannya. Aku jadi bingung, harus tetap bertahan di sini sebagai ratu, atau kembali ke dunia manusia. Lalu, aku juga nggak memiliki seorang pun untuk teman bicara," sambung Floretta lagi.
"Yang Mulia, kami mohon jangan tinggalkan Yang Mulia Raja. Sejak bertemu dengan Yang Mulia Putri, sikap Raja sudah banyak berubah." Bu Magenta buru-buru membalas kalimat Floretta.
__ADS_1
"Oh ya? Tapi aku sangat penasaran, seperti apa kedua orang tua Alden, sampai bisa memiliki dua putra berparas rupawan itu?" ujar Floretta, memancing para pelayan itu untuk berbicara.
"Yang Mulia Raja Adellard Black adalah raja yang agung dan bijaksana. Selama di bawah pimpinannya, kerajaan ini sangat makmur," jawab Bu Magenta.
"Lalu Yang Mulia Ratu Selene Blanche, adalah wanita yang sangat lembun dan santun. Sulit digambarkan bagaimana kepribadiannya, mungkin seperti malaikat," ujar Lily menambahkan.
"Oh ya? Selama ini aku cuma melihat mereka dari fotonya aja, sih. Yang Mulia Ratu terlihat sangat cantik. Aku setuju kalau dia dikatakan seperti malaikat," ucap Floretta.
Pipinya yang tirus tampak menggembung dipenuhi oleh keripik kentang. Sikap anggun dan lemah lembut yang seharusnya ditunjukkan oleh para wanita bangsawan, lenyap seketika. Wanita itu merasa sangat lapar, karena batal makan malam.
"Tetapi Yang Mulia Ratu sangat spesial karena ..." Bu Magenta memberhentikan ucapannya di tengah-tengah, membuat Floretta semakin penasaran.
"Karena dia manusia?" celetuk Floretta menebak-nebak.
Bu Magenta dan Lily kompak menggelengkan kepalanya.
"Bukan, tetapi karena Yang Mulia Ratu tidak bisa meminum darah manusia. Dia sempat dianggap vampir cacat, karena berbeda dengan bangsa vampir lainnya," Jelas Lily.
"Beneran?" Kedua mata Floretta membesar, ketika mendengar kalimat itu. Kini dia tahu, dari mana asalnya sifat Alden yang nggak bisa meminum darah manusia itu.
"Aku janji," sahut Floretta dengan cepat, sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Tetapi aku penasaran, kenapa yang ditunjuk sebagai raja itu justru Alden, dan bukannya Pangeran Raven?" Floretta mendekatkan tubuhnya ke arah Lily dan Bu Magenta, lalu bicara dengan nada sangat rendah.
"Sejak kecil, Yang Mulia Raven itu cukup arogan. Sifat buruknya itu semakin terlihat ketika remaja. Dia bahkan tak segan-segan membunuh manusia, hanya demi pamer kekuatan," bisik Bu Magenta, sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Dia takut seseorang mendengar atau merekam pembicaraan manusia.
"Astaga! Mengerikan! Jangan-jangan ancaman dia waktu di perpustakaan itu beneran?" seru Floretta.
"Yang Mulia tolong kecilkan suaranya. Kita bisa dalam bahaya, kalau seseorang mendengarnya," ujar Bu Magenta mengingatkan.
"Oke, maaf," jawab Floretta. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya wanita itu masih penasaran.
__ADS_1
"Setelah berunding dengan dewan penasehat istana, mereka terpaksa memutuskan agar posisi putra mahkota diberikan pada Yang Mulia Pangeran Alden. Padahal saat itu Yang Mulia masih berumur belasan tahun." Bu Magenta melanjutkan ceritanya.
"Mereka takut akan banyak terjadi pertumpahan darah dengan manusia, kalau Yang Mulia Pangeran Raven naik jadi Raja," kata Lily menambahkan.
"Hmm, jadi begitu? Tetapi aku masih bingung, apa alasan Alden memilihku?" gumam Floretta.
Lily dan Bu Magenta hanya saling berpandangan. Mereka jyga tidak tahu apa alasannya.
Drrrttt! Tiba-tiba HP Floretta menyala. Dia menerima sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
"Salam, Yang Mulia Putri Floretta. Ini Edmund, ketua dewan istana. Mewakili seluruh anggota dewan, kami menunggu surat persetujuan pembatalan pernikahan. Kami hanya memberi waktu satu minggu."
Setelah membaca pesan singkat tersebut, Floretta pun membuka lemari dan mengambil amplop berisi kertas di dalamnya. Dia termenung cukup lama, sambil menatap tinta hitam yang tercetak di kertas tersebut.
"Satu minggu terlalu lama. Aku akan menyerahkan kertas ini besok pagi, pukul tujuh tepat. Aku harap kalian tidak terlambat," balas Floretta beberapa saat kemudian.
Hanya berselang lima detik, pesan balassn dari Edmund Grey pun diterima Floretta.
"Apa Yang Mulia sudah memikirkannya baij-baik? Kesempatan ini nggak kami berikan dua kali," tulis Edmund dalam pesannya.
"Kamu nggak usah meragukanku. Aku udah memikirkannya baik-baik, dan membuat keputusan," balas Floretta lagi.
"Bu Magenta, apa Anda bisa mendandani saya layaknya seorang ratu?" tanya Floretta tiba-tiba.
"Eh, tentu saja bisa, Yang Mulia. Tetapi aku nggak tahu selera pakaian Yang Mulia," jawab Bu Magenta.
Dia terkejut, karena Floretta meminta hal yang tidak biasa.
"Itu nggak perlu. Pokoknya bebas menggunakan gaun dan aksesori mana saja. Yang penting aku terlihat cantik sebagai ratu," pinta Floretta. "Aku ada pertemuan penting besok pagi pukul tujuh," sambungnya.
"Baik, Yang Mulia," jawab Bu Magenta.
__ADS_1
"Huh, aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Sekarang yang aku butuhkan hanyalah sebuah pena untuk tanda tangan," gumam wanita itu dalam hati.
(Bersambung)