Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 67. Jebakan


__ADS_3

"Floretta! Apa yang terjadi?" Seru Alden panik, melihat wanita di sebelahnya ambruk seketika.


Sang raja vampir itu langsung meninggalkan acara perayaan ulang tahunnya yang belum selesai, dan mengantar Floretta yang dibawa oleh tim medis. Pimpinan perayaan pun diambil alih oleh Raven Black.


Para pengawal langsung mengamankan barang bukti, berupa gelas bekas Floretta. Mereka membawanya ke laboratorium untuk diperiksa.


"Kalian memberinya minuman apa, sih? Lalu mana pihak keamanan? Kenapa tidak diperiksa ulang, sebelum diberikan kepada Putri Floretta?" tanya Alden gusar.


Pelayan dan petugas lain yang bertugas menyiapkan minuman untuk sang putri pun terduduk lemas. Mereka tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi dan bisa lolos dari pengawasan mereka.


"Maaf, Yang Mulia. Ini kesalahan kami. Sesuai perintah Yang Mulia, kami menyiapkan jus buah naga dengan susu kambing segar untuk Yang Mulia Putri Floretta," kata pelayan senior yang bertugas di dapur.


"Kalian yakin, nggak mencampurkan bahan lain ke dalamnya? Atau seseorang yang menyuruh kalian?" selidik Alden.


"Kami bersumpah, Yang Mulia. Kami nggak melakukan hal seperti itu," jawab para pelayan sambil tertunduk lesu.


"Cek semua CCTV, jangan ada terlewat satu detik pun. Aku sendiri yang akan memutuskan, kalian bersalah atau tidak," perintah Alden dengan tegas.


"Baik, Yang Mulia."


...🦇🦇🦇...


"Hahaha ... Dari semua berita yang kudengar dari istana, ini berita yang paling bagus. Sekarang si raja cacat itu pasti sedang menangis kehilangan harapan, untuk menyembuhkan wanita itu," ujar Russel tak bisa menghentikan tawanya.


"Kau benar-benar jenius, Erlina. Aku tak menyangka akan melakukan hal itu dengan rapi," sambung Daisy pula.


Erlina yang sejak tadi menjadi pusat pembicaraan, hanya diam membisu. Padahal rencananya berhasil, tetapi wajahnya tak menyiratkan kebahagiaan sedikit pun.


Setelah acara ulang tahun raja yang berakhir kacau, para vampir itu meneruskan pesra mereka di Amethyst Castle, kediaman keluarga Amethyst. Beragam makanan berbahan dasar daging pun terhidang di meja makan mewah tersebut.


Para bangsawan kelas atas itu pun kembali bersuka ria menikmati hidangan mewah, sambil menertawai keadaan Floretta saat ini.


"Harusnya aku senang, tetapi kenapa aku merasa marah?" ucap Erlina dalam hati, pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Bayangan Alden yang membopong Floretta seorang diri, masih terekam jelas di kepalanya. Padahal Alden adalah tokoh utama dalam perayaan hari itu. Semua sikap Alden tersebut telah menunjukkan betapa tulusnya perasaan pria itu pada Floretta.


"Hei, Erlina? Kamu mikirin apa, sih?" Daisy mengguncang tubuh wanita itu, untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Ah, nggak ada, kok." Erlina menarik napas panjang.


"Kau hebat sekali, Erlina. Rencanamu sama sekali nggak tercium sama siapa pun," kata Edmund memuji keberanian wanita itu.


"Aku hanya menyuruh pelayan untuk menukar minuman yang telah mereka siapkan untuk putri kesayangan pria itu," sahut Erlina dengan gigi gemeretak menahan amarah.


"Yang jelas dia nggak akan selamat, karena selama ini nggak ada manusia yang selamat dari racun mematikan saat itu," sambung Erlina.


"Ah, lalu gimana dengan pelayan tersebut? Gimana kalau dia terekam CCTV, atau membocorkan semuanya?" tanya Daisy cemas.


"Jangan cemas soal itu. Sang pelayan tidak akan bisa buka suara, karena dia bahkan sudah melupakan kejadian itu. Jika seseorang berusaha membuka segel ingatannya, maka pelayan itu akan gila," jawab Erlina sambil tersenyum sinis.


"Wah, kau menggunakan sihirmu? Akhirnya sihir terkuat di kerajaan ini dipakai lagi," ujar Russel.


"Hahaha, bahkan level sihirku aja masih di bawahnya," celetuk Novac, saudara laki-laki Erlina Amethyst.


"Nggak sia-sia kau bertahun-tahun belajar di luar negeri. Kemampuanmu berkembang pesat," puji Edmund.


"Tapi semua itu percuma, karena hati Alden hanya menatap ke arah Floretta," batin Erlina masih merasa kesal. "Sekarang bahkan seluruh kerajaan sudah tahu, kalau sang raja sangat mencintai manusia itu," pikirnya lagi.


"Sekarang, kita hanya menunggu manusia itu mati perlahan. Setelah tersiksa dengan racun di dalam tubuhnya," ujar Novac tertawa puas.


...🦇🦇🦇...


"Sudah tiga hari Floretta nggak bangun. Nggak ada tanda-tanda kondisinya membaik. Apa yang harus aku lakukan?"


Alden bermuram durja di tepi tempat tidur, memandangi istrinya yang terbaring tak berdaya.


"Kenapa dia tak sadarkan diri hanya karena jus buah naga dan susu kambing segar itu? Apa dia memiliki alergi sama salah satu kandungan di dalam jus itu?"

__ADS_1


Alden masih belum bisa memecahkan misteri terhadap kejadian naas yang menimpa Floretta itu. Dia juga kini semakin di benci oleh rakyat, karena lebih mementingkan manusia dibandingkan acara sakral kerajaan.


"Gimana keadaannya?" tanya Raven yang berkunjung ke kamar Floretta.


"Masih belum ada perubahan," ujar Alden pada sang kakak. "Akhirnya menjadi seperti ini, ya. Aku membuatnya terluka dan terbaring di ranjang seperti ini," sambung sang raja, dengan suara sengau.


"Ini salahnya sendiri," celetuk Raven.


"Apa? Kenapa ini menjadi kesalahannya? Dia itu korban," protes Alden nggak terima.


"Aku udah mengingatkannya, supaya nggak percaya pada siapa pun di kerajaan ini. Tetapi dia malah meminum jus buah itu tanpa curiga sedikit pun," kata Raven.


Alden mengangkat wajahnya, lalu menatap wajah sang kakak. "Jadi itu yang Kakak ajarkan padanya?" tanya Alden.


Raven mengangguk. "Itu hal utama yang harus dia ingat, kalau mau tinggal di kerajaan ini. Selama ini kamu terlalu memanjakannya, Al," kata Raven.


"Tetapi itu hanya jus buah biasa. Wajar kalau dia nggak merasa curiga," ucap Alden lagi.


Namun, sedetik kemudian dia tersentak.


"Benar juga. Aku terlalu naif, Al. Aku lupa, kalau ada beberapa jenis racun yang tidak sulit untuk dideteksi," gumam Alden seakan bicara pada dirinya sendiri. "Apa kakak mau membantuku sesuatu?" tanya Alden kemudian.


"Aku nggak berada di pihak raja. Aku ini pangeran jahat yang hendak merebut tahtamu. Jadi hanya sejauh ini aku bisa membantumu, nggak lebih," tolak Raven mentah-mentah.


"Tapi kakak menyayangi Floretta, kan? Apa kakak mau melihatnya mati dengan cara seperti ini?" bujuk Alden.


"Bocah sialan! Dari mana dia tahu kalau aku mencintai, ah maksudku menyayangi manusia rendahan ini?" Jantung Raven hampir saja melompat keluar, karena tertangkap basah oleh adiknya sendiri.


"Aku udah mengenal kakak sejak kecil. Dari pandangan mata kakak ke arah Floretta aja aku udah tahu, kalau kakak menyayangi gadis ini," ucap Alden, seakan mengerti isi pikiran Pangeran Raven saat ini.


"Jangan sok tahu, kamu. Mana mungkin aku menyukai bangsa lemah seperti mereka." Raven menyangkal kalimat sang adik. "Aku bersikap seperti ini, karena ingin merebut kerajaan secara fair, bukan perang saudara," sambungnya lagi.


"Kakak pikir aku akan percaya hal itu? Untuk apa kakak susah-susah datang kemari dan menyadarkanku soal racun itu?" balas Alden lagi.

__ADS_1


"Su-sudah, jangan dibahas lagi. Kamu mau meminta bantuan apa? Asalkan itu nggak memintaku berhenti berkeinginan menjadi raja, aku akan coba memenuhinya," ucap Raven salah tingkah.


(Bersambung)


__ADS_2