
"Apa Yang Mulia Putri menikah dengan raja kami karena harta kekayannya?" tanya Leon secara Frontal.
"Itu nggak benar, Leon," bantah Floretta yang tidak terima dengan tuduhan itu.
"Atau jangan-jangan Yang Mulia memang menggoda raja kami dengan segala cara? Bahkan dengan ilmu hitam?" tanya Leon lagi.
"Tentu saja nggak. Aku nggak pernah menggoda lelaki mana pun. Dan aku nggak mengenalnya, sampai dia tiba-tiba melamarku," jawab Floretta dengan cepat. Dia merasa aanhat kesal, dengan tuduhan yang dilontarkan secara terang-terangan oleh pengawal pribadinya tersebut.
"Kalau begitu kenapa Yang Mulia memusingkan ucapan mereka? Kalau terlalu memperdulikan orang lain, hidup Yang Mulia Putri tidak akan pernah bahagia," ujar Leon sambil tertawa kecil.
"Tapi tetap saja aku merasa was-was," ujar Floretta dengan lirih.
"Kenapa Yang Mulia merasa was-was dengan para pelayan itu? Padahal melawan Pangeran Raven dan para preman saja Yang Mulia berani," ucap Leon menyemangati Floretta.
"Benar juga. Kenapa aku harus takut pada pelayan itu? Masalah yang akan aku hadapi bukan hanya dari para pelayan, tetapi seluruh negeri ini. Lagian kalau aku takut, aroma darahku akan semakin menarik perhatian," batin Floretta.
"Saya paham kondisi di istana saat ini sangat berat bagi Yang Mulia Putri. Tetapi saya yakin, Yang Mulia bisa melewati semua ini dengan baik," ujar Leon sambil melempar senyumnya.
"Dan yang terpenting, Yang Mulia Putri tidak sendirian nenghadapi semua ini. Ada Yang Mulia Raja, saya, Lily dan Bu Magenta, yang berada di pihak Yang Mulia Putri," ucap Leon Hazel lagi.
Floretta menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengenggam erat roknya yang berwarna biru pastel. Bahunya bergerak naik turun, seiring dengan hembusan napasnya yang terasa berat.
"Benar, Yang Mulia Raja selalu ada di sisiku. Tetapi aku nggak pernah percaya padanya. Pria seperti apalagi yang aku inginkan?" gumam Floretta.
"Dia juga bisa memasakkan makanan favoritku dengan sempurna," sambung Floretta dalam hati.
*
Suasana ruang rapat istana dengan menteri pertahanan terasa memanas. Agenda rapat yang semula membahas kekuatan militer dalam negeri, kini beralih menjadi pembahasan kehidupan pribadi sang raja.
"Aku mengerti, kalian tidak menyukai keputusanku untuk menikah dengan manusia. Tetapi Floretta adalah calon ratu negeri ini sekarang," ujar Alden menanggapi semua kritikan yang dilontarkan padanya.
"Tetapi kami nggak menyukainya, Yang Mulia. Seorang ratu itu sudah kodratnya harus disukai sama semua rakyat," celetuk salah seorang pejabat militer.
__ADS_1
"Tidak akan ada orang yang sesempurna itu, sampai disukai semua orang. Ibuku sendiri juga memiliki kelompok yang membencinya," balas Alden dengan nada datar.
Pandangan sang raja vampir itu beredar ke seluruh ruangan. Dia bisa melihat, semua mata menatapnya dengan remeh.
Sebelum menikahi Floretta, sang raja vampir memang sudah memprediksi bahwa hal-hal seperti ini akan terjadi. Dia telah mempersiapkan dirinya untuk mengadapi semua kritikan, karena menikahi seorang manusia.
"Suka atau tidak suka, dia sudah menjadi bagian dari anggota keluarga kerajaan. Jadi aku harap, kalian menghormatinya seperti para bangsawan lainnya," kata Alden setelah ruangan hening beberapa saat.
"Apa Yang Mulia tahu? Sikap Yang Mulia ini hanya membuat keluarga Amethyst sakit hati, karena Yang Mulia Raja tiba-tiba menikahi gadis lain yang bukan putri mereka," protes beberapa orang di sana.
"Benar, ini bisa menimbulkan perpecahan politik," timpal yang lain.
"Aku tidak melakukan semuanya serba tiba-tiba. Pertunangan kami sudah dibatalkan sejak lima bulan yang lalu. Dan Erlina Amethyst sudah menyetujuinya," ungkap Alden.
"Apa? Itu nggak mungkin. Jelas sekali pada saat pertunangan itu Putri Erlina menyukai Yang Mulia Raja. Nggak mungkin mereka mau membatalkannya begitu saja," sanggah beberapa orang tidak percaya.
"Itu faktanya. Kalian bisa menanyakan sendiri pada Erlina," ujar Alden meyakinkan.
"Meskipun begitu, hal ini nggak bisa dibiarkan, Yang Mulia. Kita nggak boleh membiarkan manusia tinggal di istana. Apalagi jadi ratu," ujar salah seorang jenderal.
"Aku tidak suka kekerasan. Tetapi aku juga nggak suka seseorang menyakiti istriku. Aku harap kalian semua memberinya kesempatan untuk beradaptasi di sini," ujar Alden dengan tegas.
"Dan soal pernikahanku, secara resmi akan dibahas pada pertemuan anggota dewan istana minggu depan," ucap Alden sembari mengakhiri pertemuan pagi itu.
...🦇🦇🦇...
"Sayang, maaf aku tinggal rapat. Kamu nggak apa-apa, kan?"
Setelah rapat, Alden buru-buru kembali ke kamarnya dan mencari sang istri. Dia merasa bersalah telah meninggalkan Floretta sendirian, padahal kemarin wanita itu baru saja kabur dari istana karena ketakutan dengan bangsanya.
"Aku nggak apa-apa, kok. Urusan kerajaan harus diutamakan, kan?" ucap Floretta yang duduk bersantai menghadap ke jendela. Kakinya terjulur ke depan, dan diletakkan di atas kursi kecil.
Lily dan beberapa pelayan lainnya yang sedang bersama Floretta, langsung undur diri dari kamar itu. Mereka meninggalkan sepasang suami istri itu berdua saja di dalam sana.
__ADS_1
"Iya, sih. Tapi kamu lagi ngapain?"
Kening Alden berkerut, melihat sikap sang istri yang nggak seperti biasanya. Baru kali ini Floretta terlihat bersantai, sejak pindah ke istana. Biasanya wanita itu hanya mengurung diri di kamar, atau menempel padanya seharian.
"Oh, aku lagi perawatan kuku. Rupanya menyenangkan juga memanjakan diri gini, sambil menonton drama asia," ujar Floretta sembari tersenyum riang.
Florta kemudian membalikkan tubuhnya."Lihat, kukuku cantik, nggak?" Wanita mungil itu memamerkan kuku tanggannya yang berwarna merah muda.
"Cantik, kok. Cocok banget sama kamu," puji Alden sambil mengusap rambut panjang Floretta.
Meskipun dia heran dengan sikap sang istri yang tiba-tiba berubah, tetapi dia bersyukur Floretta tampak baik-baik aja.
"Oh, iya. Apa jalan menuju perbatasan dunia manusia masih tertutup salju?" tanya Floretta dengan nada manja.
Wajah Alden yang tadi terlihat ceria, mendadak jadi muram dan sedih. "Cuaca di sana sudah mulai membaik, kok. Tetapi mungkin baru bisa dilalui dua atau tiga hari lagi," jawab Alden dengan memaksa senyuman palsu di wajahnya.
Dia berusaha ikhlas, jika sang istri memilih untuk berpisah darinya dan pulang ke dunia manusia.
"Aku akan meminta Brayne Brown membersihkan apartemen, sebelum kita datang ke sana," sambung Alden lagi.
"Apartemen? Untuk apa?" tanya Floretta kebingungan.
"Loh, kamu mau pulang ke dunia manusia, kan? Apa kamu nggak ingin kembali ke kotamu? Aku bisa kok mencari rumah di kota lain untukmu," ucap Alden.
"Yang Mulia, aku bertanya bukan karena ingin pulang," ujar Floretta dengan nada manja.
"Terus kenapa?"
"Aku hanya memesan beberapa bahan makanan dari dunia manusia. Seperti saus bulgogi, keju, dan buah-buah tropis," ungkap Floretta.
"Kamu masih mau tinggal di sini?" ujar Alden masih nggak percaya.
"Iya, aku sudah membuat keputusan. Aku akan tinggal di sini bersamamu. Bukankah mendampingi suami di saat suka duka sudah jadi tugas istri?" ucap Floretta dengan wajah serius.
__ADS_1
(Bersambung)