
"Alden, apa kau yakin mereka baik-baik aja?" Floretta berjalan tergopoh-gopoh, mengikuti sang raja vampir yang melesat dengan cepat.
"Sudah ku bilang, kan? Pistol itu hanya berisi peluru karet. Amber nggak terluka sama sekali. Dia cuma pingsan karena shock," ujar Alden menenangkan hati istrinya.
Grep! Floretta menggenggam tangan suaminya, dan meminta pria itu untuk berhenti.
"Bukan itu maksudku. Apa tindakan kita ini gak akan menimbulkan gejolak di antara anggota dewan istana? Gimana kalau mereka menyerang kita karena aku menyerang Amber seperti tadi?" ucap Floretta. Keningnya berkerut, menunjukkan wajahnya yang sedang cemas.
"Tanpa kamu berbuat seperti itu pun, mereka juga pasti akan berbuat dan merencanakan sesuatu. Di kerajaan ini, kalau kamu terlalu lemah karena takut menyalahi hak asasi, maka kamu yang akan duluan habis."
Alden menjalarkan jemarinya di permukaan pipi Floretta yang lembut. Wanita itu merasakan getaran yang tak biasa, dari seluruh tubuhnya. Napasnya juga terasa sesak.
"Bahkan aku sangat mendukung, kalau kamu menggunakan ilmu beladirimu untuk melawan para cicak itu," bisik Alden dengan lembut, di telinga Floretta. Aroma sunkist yang harum, mengaktifkan indra penciuman manusia itu.
"Ah, gawat! Kenapa aku malah merasa h*rn* di saat begini, sih? Apa sudah dekat masa datang bulan?" gerutu Floretta cemas.
Tetapi usapan tangan Alden di pipinya mampu menekan rasa cemas dan ketakutan yang tadi menggeluti dirinya. Perasaan Floretta pun menjadi sedikit lebih tenang.
"Yah, maksud Alden aku bukan orang jahat, kan? Aku cuma membela diri karena mereka menyerangku duluan," ucapnya pada diri sendiri.
"Ehm, menurutku kurang pantas seorang raja bermesraan di sini. Semua tamu istana bisa melihatnya. Apalagi Tuan Putri baru saja mencelakai salah seorang Marchioness."
Erlina datang bersama beberapa pelayan yang masing-masing membawa sebuah kotak berisi surat.
"Ratu nggak akan menyerang, kalau Amber nggak memulainya duluan, Erlina. Sepertinya dia harus kembali masuk ke akademi putri bangsawan bersama para calon duchees dan marchioness. Supaya dia bisa memperbaiki adabnya," kata Alden menggeram kesal.
__ADS_1
"Ratu? Kenapa Yang Mulia Raja yakin sekali, kalau dia bakal menjadi ratu? Padahal Parlemen Penasehat Kerajaan dan Anggota Dewan Istana belum menyetujuinya," cibir Erlina.
"Aku yakin Floretta mampu menjadi ratu," jawab Alden Black.
"Oh ya? Walau pun keluargamu dan keluarganya punya sejarah yang buruk? Aku yakin, kamu pasti belum cerita padanya," kata Erlina sambil menyeringai lebar.
"Apa maksudnya, Al?" tanya Floretta. Pikirannya langsung melayang kepada kasus kematian orang tuanya. "Apa benar rumor pembunuhan kedua orang tuaku itu?" pikirnya.
"Ehem! Lupakan Aku ke sini untuk memberikan undangan. Besok ada festival sains dan pendidikan di Provinsi Barat Daya. Ku harap kalian berdua datang."
Erlina memberikan surat undangan pada Alden. Wanita itu kemudian berlalu pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah, dia berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah sang raja.
"Ah, aku hampir lupa satu hal. Identitas asli wanita itu baru diketahui oleh beberapa anggota dewan istana. Apa jadinya kalau seluruh rakyat kerajaan ini nengetahuinya?"
...🦇🦇🦇...
"Selamat malam, Yang Mulia. Maaf saya libur terlalu lama."
"Lily! Bagaimana kabar ibumu?"
Floretta melompat dari tempat tidurnya, sambil melempar buku pinjaman yang sedang dia baca. Wanita itu melupakan statusnya, dan memeluk sang pelayan dengan erat.
"Uh, ibuku sudah nggak merasakan sakit lagi. Dia sudah di surga bersama para Dewa kami," kata Lily memaksakan senyum manis di wajahnya.
"Ah, aku turut berduka cita," ucap Floretta. Nada suaranya mendadak turun dan sangat lirih.
__ADS_1
"Iya, terima kasih, Yang Mulia," jawab Lily.
Wajahnya terlihat sayu dan kusut. Lingkar hitam di matanya, jauh lebih besar dibandingkan lingkar hitam milik panda. Pipinya juga terlihat lebih tirus dibandingkan dulu.
"Ah, dia pasti lelah menangis dan membereskan semuanya. Aku dengar dia anak pertama dan memiliki lima orang adik," batin Floretta merasa iba.
"Ly, kenapa kamu nggak mengabariku waktu itu? Aku kan bisa berkunjung ke tempatmu, untuk memberi penghormatan pada ibu temanku," kata Floretta.
"Eh? Teman? Jangan bicara seperti itu, Yang Mulia. Di kerajaan ini pelayan tidak boleh akrab dengan para bangsawan," kata Lily dengan sungkan.
"Huh? Siapa yang membuat peraturan seperti itu? Apa tertulis di dalam undang-undang?" protes Floretta tak setuju.
"Nggak ada, sih. Tapi biasanya begitu. Dan kemarin Yang Mulia Raja yang melarangku memberi tahu Yang Mulia Putri. Karena jika datang ke sana, Yang Mulia Putri bisa dalam bahaya," lanjut pelayan itu.
"Hmm, benar juga. Aku masih belum bebas bepergian di kerajaan ini. Tapi, kamu jangan menjauhiku seperti itu, Ly. Seperti kata para bangsawan itu, dulu aku hanyalah seorang pelayan. Status kita sama," ujar Floretta.
"Baiklah. Tapi itu hanya berlaku saat kita cuma berdua, Yang Mulia," kata Lily mengalah. "Lalu malam ini kita mempersiapkan perlengkapan Yang Mulia untuk pergi ke Provinsi Barat Daya."
"Nah, kebetulan. Aku membutuhkan sebuah benda yang sangat penting. Apa kamu bisa mencarikannya untukku?" tanya Floretta.
"Tentu. Apa itu, Yang Mulia?" tanya Lily. Floretta pun membisikkannya.
"Apa? No-nona mau membawa benda itu? Untuk apa? Nona nggak berniat membunuh seseorang, kan?" seru Lily terkejut.
(Bersambung)
__ADS_1