Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 83. Diselamatkan oleh Racun


__ADS_3

"Uh ... Mereka udah pergi semua apa belum, ya? Capek banget pura-pura pingsan begini."


Floretta membuka kelopak matanya secara perlahan, ketika telinganya sudah tak mendengar suara apa pun dari ruangan lembab dan bau itu. Seberkas sinar redup dari cahaya lampu cukup menyilaukan mata wanita itu. Dia lantas mengedip beberapa kali, sampai pupilnya beradaptasi.


Ketika pandangannya benar-benar pulih, Floretta mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruangan yang berukuran cukup besar, dengan dinding batu seperti bangunan kuno.


Satu sisi dindingnya terbuat dari jeruji besi yang cukup rapat, yang kemudian berlapis dinding batu lagi di sebelah luarnya.


Tidak ada benda apa pun di sana, selain beberapa buah kursi kayu yang terletak di luar jeruji, serta tetesan darah yang tak lain adalah miliknya. Bau tak sedap dari spora jamur di lantai dan seluruh dinding, berpadu dengan bau amis darah yang berceceran di lantai batu ini.


Floretta memperhatikan bekas sayatan di tangannya yang sudah mulai tertutup. Dia tadi sedikit terkejut, karena seseorang menutup luka sayatan di tangannya dengan mantra sihir. Floretta nggak tahu siapa yang melakukannya, karena tak berani membuka mata. Tapi sudah pasti, mereka ingin membuang Floretta ke dunia manusia dalam keadaan gila.


"Untunglah, rencanaku mengelabui mereka berhasil. Nggak sia-sia aku memakan roti yang hampir basi dan menyuntikkan cairan racun bunga Atropa belladona di tubuhku ini."


Floretta berbicara dengan dirinya sendiri, sambil menatap sekeliling dengan waspada. Sehari sebelum acara, Floretta sengaja memakan roti yang akan di sortir, serta buah-buah yang hampir busuk.

__ADS_1


Semula Lily tak mau mematuhi perintah dari sang putri. Tapi ketika Floretta membeberkan rencananya, sang pelayan pun langsung setuju dan mendukungnya.


Selama tinggal di dunia vampir, Floretta mempelajari bahwa makanan yang berkualitas baik akan membuat darah terasa lezat. Itulah sebabnya dulu waktu baru datang dari dunia manusia, darah Floretta terasa bau dan rasanya tidak enak. Karena wanita itu hanya bisa makan seadanya, asalkan kenyang.


Sementara zat racun dari bunga Atropa belladona yang berwarna ungu kebiruan itu membuat darahnya terasa semakin tidak enak. Namun, dalam jumlah yang banyak, racun itu bisa saja membunuh manusia.


Tetapi ada satu hal yang baru saja diketahuinya, tanaman beracun itu juga sedikit mampu menangkal sihir para vampir. Itulah sebabnya Floretta tak pingsan, saat diserang oleh para vampir di kastil menggunakan panah sihir. Tubuhnya hanya melemah tak berdaya.


"Darahku memang selamat dari para vampir itu. Tetapi aku terkurung di sini. Gimana caranya aku menembus lingkaran sihir yang dibuat Erlina?"


"Alden, apa kamu bisa mendengarku? Aku terkurung di sini. Sendirian, di penjara bawah tanah ini." Floretta menggumam dalam hati, berharap Alden bisa menemukan keberadaannya.


Napas Floretta terasa semakin berat. Racun dari bunga Atropa belladona itu semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. Pandangannya mulai kabur.


"Air ... Aku butuh air ..."

__ADS_1


Floretta menggumam pelan, sembari mencari jalan keluar dari penjara bawah tanah tersebut. Dia menyalakan senter laser yang diam-diam dibawanya sebagai senjata. Cahaya laser berwarna biru itu dia arahkan ke segala penjuru dinding, untuk menemukan jalan keluar. Barangkali ada pintu rahasia di sana. Wanita itu tak berani memegangnya langsung, takut ada jebakan.


Langkahnya mulai tertatih. Dadanya semakin sesak. Bibirnya terasa kelu membutuhkan siraman air.


"Alden, Kak Raven, tolong aku. Kalian mendengarku, kan? Aku berada di penjara bawah tanah," batin Floretta berkali-kali.


Bruk! Floretta pun kembali ambruk di lantai, saat seseorang memanggil namanya.


"Flo ... Floretta. Bangunlah. Aku ada di sini menolongmu."


"Siapa?" Floretta membuka matanya perlahan. Samar-samar terlihat sosok kecil berwarna abu-abu gelap, berjalan di permukaan lantai mendekatinya.


"Gufo?" Floretta heran, melihat burung hantu teman mengobrolnya di dunia manusia datang menolongnya. "Ah, aku pasti berhalusinasi karena pengaruh racun ini," batinnya pasrah.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2