
"Floretta, jangan lakukan itu!"
Sebuah kilatan cahaya bagai petir, merobos masuk melalui pintu laboratorium yang tertutup. Seluruh benda yang terkena cahaya biru menyala itu pun terbakar dan meleleh. Pintu laboratorium sontak terbuka dan memperlihatkan sosok pria berbaju serba hitam, yang menyeringai lebar.
"Pa-pangeran?" ucap Floretta dan Edmund bersamaan.
Sebuah jarum dan kapas beralkohol yang dipegang oleh Edmund terlepas dari genggamannya. Floretta bisa melihat tangan kiri Edmund sedikit melepuh, terkena percikan cahaya biru yang mirip kembang api itu.
"Jangan ada yang coba-coba kabur! Atau salah satu dari kalian akan mati," ancam Raven dengan mata berapi-api.
"Kenapa? Kamu takut semua kebohongan kalian selama ini terbongkar? Aku cuma mau menyelamatkan manusia ini, agar tak menjadi korban selanjutnya," balas Edmund dengan suara melengking.
"Jangan membantahku!" Suara geraman itu berubah menjadi bentakan keras. Memberi perintah sembari menahan amarah.
Bruak!!!
Raven kembali mengeluarkan sinar biru dari tangan kanannya. Edmund berusaha membalasnya, tetapi tangannya yang terluka membuat sasarannya selalu meleset.
"Kau berusaha melawanku?"
Raven bergerak dengan cepat kenarah Floretta dan Edmund Grey. Kaki kirinya naik, dan menendang tubuh Edmund hingga terpental jauh.
"Aaaahh!"
Floretta menjerit kencang dengan wajah pucat pasi, ketika melihat kejadian di sampingnya. Lututnya gemetar kuat, tak mampu lagi menopang tubuhnya.
__ADS_1
Raven menghentakkan kaki dengan kuat di lantai, sebelum Edmund sempat bangkit. Cahaya biru menjalar di lantai. Namun kali ini bukan melelehkan sekitarnya, melainkan membeku. Edmund dan Floretta pun terjebak di sana, karena kaki mereka tak mampu bergerak.
"Flo, kamu salah paham. Semua yang kamu baca itu bukanlah segalanya. Aku akan jelaskan semuanya, asal kau mau menurut padaku," bisik Raven dengan lirih, di telinga Floretta.
"Tidak! Kalian semua pembohong! Aku bahkan nggak tahu lagi, siapa yang harus aku percayai."
Floretta menjerit dengan nada ketakutan bercampur putus asa. Dia merasa sebuah kekuatan yang tak kasat mata, dan membuat tubuhnya melayang di udara. Wanita itu telah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, saat tubuhnya melayang semakin tinggi di udara.
"Pa-nge-ran."
Rasanya Floretta mau pingsan, ketika tubuhnya terseret hampir keluar dari pintu. Seakan tak terjadi apa pun, Raven masih menatap Edmund yang membeku di lantai laboratorium.
"Aku akan melepaskanmu kali ini. Tapi jaga semua rahasia Floretta, sampai dewan penasihat istana mengumumkannya secara resmi. Aku masih menghormatimu sebagai sahabat kecilku."
"Tapi, aku tegaskan sekali lagi. Kalau kau melanggar janji, maka seluruh keluargamu akan bernasib sama dengan Keluarga Dandelion," ancam Raven Black.
"Grrrhhh!" Edmund menggeram pelan tanpa membantah.
"Flo, ayo kita pergi."
Bisikan Raven di telinga sang putri, membuat wanita itu terlelap dan lunglai. Raven dengan sigap menangkapnya.
...🦇🦇🦇...
Empat orang pria berjalan dengan tegas ke hadapan Raven Black. Mereka lalu menjatuhkan tubuhnya di hadapan lelaki itu, hingga berada dalam posisi berlutut di lantai. Floretta yang baru saja terjaga, terheran-heran melihat pemandangan itu. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuhnya kaku bagai dikendalikan sihir yang tak terlihat.
__ADS_1
"Ini semua salah kami, Yang Mulia. Putri Floretta mencoba melarikan diri dan Yang Mulia Raja terluka parah, karena keteledoran kami yang tak mampu menjaganya. Kami siap menerima hukuman."
Leon Hazel mengucapkan permintaan maaf, mewakili ketiga temannya.
Lelaki yang berkulit pucat itu diam saja. Matanya yang berwarna merah menyala, menatap para pengawal dengan nanar dan sorot mata tajam. Floretta dapat melihat dengan jelas, keempat pria yang tengah berlutut itu menggigil ketakutan.
Diam itu lebih mengerikan daripada sebuah bentakan. Begitulah pikiran mereka semua.
Langkah kaki tegas Raven, menuju ke sebuah sofa hitam di ruangan itu. Sorot matanya yang masih berwarna merah menyala itu memandang dengan intens dan serius ke arah dinding putih di sebelah kanan mereka.
"Aku nggak marah sama kalian. Sejak awal ini adalah salahku," ucap Raven. Nada suaranya telah berubah menjadi datar dan rendah. Wajahnya pun tampak sedih.
"Hah? Ini beneran? Seorang Pangeran Raven meminta maaf pada para pengawal?" batin para pengawal yang saling berpandangan.
"Flo, asal kamu tahu. Alden benar-benar tulus menyayangimu. Aku punya buktinya," ucap pria itu lagi. "Dan aku janji akan mengatakan semuanya padamu, kan? Inilah cerita yang sebenarnya," imbuh Raven sambil menatap adik iparnya dengan sendu.
Pria itu menarik napas cukup dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Tangannya mengepal erat. Raven mengumpulkan keberaniannya, untuk mengungkapkan rahasia besar yang disimpannya sejak kecil.
"Aku dulu dikucilkan karena dianggap buas dan berbahaya. Aku juga merasa, ayah dan ibuku lebih menyayangi Alden. Semakin dewasa, aku takut tahta akan turun ke Alden."
Raven menjeda kalimatnya sejenak. Dia mengatur napasnya yang terasa sesak. Matanya pun tampak berkaca-kaca.
"Aku pun melakukan hal licik untuk merebut hati ayahku dan tetua istana. Kalian tahu apa yang aku lakukan? Membunuh Aldric Blue dan Zinnia Blue, dibantu oleh Jade Green dan Olive Green," ungkap Raven dengan suara bergetar.
(Bersambung)
__ADS_1