
"Ehem! Mau ke mana? Bukankah kamu harus membantu pelayan lain menyiapkan makan siang?"
Edmund menghadang seorang pelayan, yang berjalan berjingkat-jingkat menuruni tangga. Sikap pelayan berseragam abu-abu itu sangat nencutigakan, karena matanya melirik ke kiri dan ke kanan, sembari melangkahkan kakinya.
"Duke Edmund?" Wanita berkulit cokelat eksotis itu berseru kaget. Matanya terbelalak, melihat Edmund Grey yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. "Aku pelayan di bagian ruang tamu istana, Duke," jawabnya.
"Ooh, ruang tamu istana." Suara Edmund mulai melunak. Dia pun membiarkan pelayan itu menuruni satu anak tangga. "Tapi pelayan di ruang tamu istana itu ada banyak. Kamu pelayan di ruang tamu yang mana?" tanya Edmund lagi.
"R-ruang Magnolia, Yang Mulia," jawab pelayan itu buru-buru pergi.
"Apa kamu nggak tahu? Pelayan di ruang Magnolia itu memiliki seragam berwarna merah muda dan ungu pucat. Seragam yang kamu pakai ini adalah seragam pelayan dapur."
Edmund berpindah dengan cepat, menghadang pelayan itu untuk pergi. Dia menyeringai lebar, dan menatap sang pelayan dengan tajam.
"Kamu bukan pelayan, kan? Apa kamu akan melaporkan pada keluarga Amethyst, kalau Yang Mulia Raja masih hidup dan akan diobati oleh Putri Floretta?" bisik Edmund di telinga wanita itu.
"Oh, jadi kamu mau menangkapku? Apa kamu berkhianat dari anggota dewan istana? Coba saja hentikan aku kalau bisa." Pelayan itu mengubah cara bicaranya menjadi non formal dan terdengar ketus.
Blarrr! Terlihat kepulan asap putih dan bubuk perak beterbangan dari lantai atas. Aroma harum pun menguar ke seluruh ruangan.
"Apa yang terjadi?" gumam Edmund dan pelayan itu bersamaan.
*
Seorang wanita dengan tubuh berkilauan cahaya dan rambut perak melayang di udara. Sayapnya yang putih dan halus, terkembang dengan sempurna. Gaunnya berubah menjadi berwarna perak.
__ADS_1
Kedua matanya terpejam. Alisnya yang melengkung sempurna, memiliki warna yang senads dengan rambutnya. Demikian juga bulu matanya yang lentik.
Bibirnya tampak mungil dengan warna merah muda, bagai bunga sakura yang mekar sempurna. Sangat kontras dengan kulit putihnya yang cerah. Aroma wangi dan segar menguar dari wanita berparas bidadari tersebut.
"Di-dia siapa?" tanya Raven, serta para anggota dewan penasehat istana di sana.
"Floretta Blue?" gumam Alden dengan lembut.
Kelopak mata wanita jelita itu terbuka. Sayapnya mengepak dua kali, membawa tubuhnya turun dan menjejak ke lantai. Debu perak berkilauan berjatuhan ke lantai kristal tersebut.
"Ah, Anda sudah sadar, Yang Mulia?" ucap wanita bersuara lembut dan anggun itu.
"Y-ya, ini aku. Tapi kamu kenapa?" tanya Alden dengan kening berkerut. Pria itu masih belum menyadari keberadaan sayap hitam di balik punggungnya.
"Tunggu! Dia Floretta? Ke-kenapa cantik banget?" Celetuk Raven.
"M-maksudku, seharusnya setelah membaca mantra buku itu dia berubah menjadi penyihir, kan? Tapi kenapa dia malah berubah menjadi malaikat?" Raven meralat kalimatnya, sebelum menerima bogem dari sang sadik.
"Yang Mulia, sejak awal aku menolak keberadaan Putri Floretta sebagai calon ratu kami, dan lebih memilih Duchees Erlina. Tetapi sedetik yang lalu aku berubah pikiran. Bagaimana kami bisa menolak Putri Floretta? Padahal Dewa saja sudah memberikan restunya," kata salah seorang dewan penasehat istana.
"Aku juga memiliki pemikiran yang sama. Wujud Putri Floretta yang seperti ini menunjukkan betapa bersih hatinya. Dia berhasil bertransformasi sebagai penyihir putih, bukan penyihir hitam atau merah," timpal dewan penasehat istana lainnya.
"Penyihir putih? Aku jadi teringat seseorang?" gumam Raven sambil mengingat-ingat.
"Tentu saja Yang Mulia pernah mendengarnya. Mendiang Ratu Selene adalah pemilik penyihir putih yang terakhir dari dunia vampir. Sedangkan dari dunia manusia telah hilang berabad-abad yang lalu," jelas dewan penasehat istana itu lagi.
__ADS_1
Raven dan Alden tersentak kaget mendengarnya. Mereka baru tahu rahasia tentang ibu mereka, bahkan setelah wanita itu tiada.
"Ternyata memang benar. Aku nggak salah memilih seorang ratu," gumam Alden bangga.
"Aku nggak sebaik itu. Aku memiliki dendam yang besar pada kalian semua, termasuk paman dan bibiku. Aku juga masih mencurigai Alden hingga detik ini," sahut Floretta dalam hati.
"Tapi kalau dilihat dari tiara di kepalanya, ini bukan pertama kalinya Putri Floretta menggunakan sihir," celetuk salah seorang dewan penasehat istana.
"Eh? Masa?" Raven menatap sang putri dari ujung kepala hingga kaki.
"Tentu saja. Dia pernah melakukan Sihir Amore yang melegenda itu," sahut Alden.
"Serius?" Kaget semua orang di sana. Alden mengangguk dengan yakin.
"Tapi ada hal penting yang harus pastikan saat ini. Apa Yang Mulia Raja beneran baik-baik aja? Kita perlu memanggil petugas medis ke sini," kata dewan penasehat istana.
"Dadaku masih sedikit nyeri karena batu bulan itu. Tapi selebihnya baik-baik aja, kok," jawab Alden seraya mengusap dada kirinya.
"Oh, iya! Benar juga. Batu bulan masih berserakan di kamar raja. Tidak ada pelayan yang berani membereskannya," seru Raven.
"Hanya satu orang yang bisa membereskannya di sini," kata Alden sambil melirik ke arah sang istri. Sayap hitamnya mengepak sekali. "Ah, sayap?" gumam Alden heran. Sejak kecil, wujudnya dalam bentuk manusia tidak pernah memiliki sayap.
"Sayap itu muncul, setelah Floretta selesai mengobatimu," jelas Raven.
"Apa maksudnya ini?"
__ADS_1
"Yang Mulia memiliki sihir tertinggi alias penyihir agung, sama seperti Putri Floretta. Bahkan lebih tinggi dari keluarga Amethyst," jawab dewan penasehat istana.
(Bersambung)