
"Alden, gimana kabarmu , Nak? Bolehkah aku mencoba mengobatinya?"
"Bibi Jasmine? Bibi apa kabar? Kenapa jarang memberi kabar?" Alden tersenyum melihat kedatangan sang bibi di rumah sakit.
Sudah lebih dua tahun dia nggak bertemu dengan sang bibi. Wajah wanita itu tidak berubah sama sekali. Darah vampir yang mengalir di wajahnya, membuat wanita itu terlihat awet muda.
"Kabar Bibi baik-baik aja, kok. Sekarang lagi ada pekerjaan di Asia Tenggara. Lalu Bibi mendengar bahwa istrimu sakit, makanya Bibi datang," kata Jasmine White, adik dari Yang Mulia Ratu Selene Blanche.
"Terima kasih, Bi. Tapi Bibi tahu dari mana kalau Floretta lagi sakit?" ucap Alden bingung. "Apa mungkin Bibi memantau perkembangan kerajaan vampir dari internet?"
"Menurutmu?" balas Jasmine sambil memegang tangan Floretta. "Bibi memang susah memutuskan, untuk meninggalkan kerajaan vampir. Tetapi Bibi tidak lepas tangan begitu aja, terhadap para keponakan Bibi ini. Istrimu adalah anak keponakan Bibi juga."
"Terima kasih Bibi udah datang. Aku senang banget," kata Alden.
"Meskipun tak sehebat keluarga Amethyst, tetapi Bibi juga sedikit memguasai sihir penyembuhan. Apa kata dokter?" ujar wanita pemilik rambut berwaerna keperakan ini.
"Mereka sedikit ragu, karena racunnya sangat sulit dideteksi. Tetapi kemungkinan Floretta keracunan Botulinum Toxin atau Dimethylmercury. Mereka sudah berusaha mengeluarkan racunnya, tetapi Floretta nggak bangun juga," jelas Alden dengan wajah murung.
"Sepertinya ini Dimethylmercury. Karena efeknya sangat lambat, namun justru sangat berbahaya," ujar Jasmine.
"Lalu gimana, Bi? Apakah ada cara untuk menyembuhkannya?" kata Alden hampir putus asa.
"Aku akan mencobanya," ujar Jasmine.
Selama beberapa saat, wanita berusia empat puluh lima tahun itu memejamkan matanya, dan menggenggam kedua tangan Floretta.
"Astaga! I-ini?"
"Kenapa, Bi?" Alden panik, melihat reaksi sang Bibi yang berubah tiba-tiba. "Floretta nggak apa-apa, kan?"
"Kenapa kamu menikahi wanita seperti ini, Alden? Dia bisa berbahaya tinggal di kerajaan kita," ujar Jasmine dengan nada cukup tinggi.
"Maksud Bibi karena darah langkanya yang spesial?" tanya Alden.
__ADS_1
Jasmine White mengangguk. "Darahnya bisa menjadi incaran para vampir. Apalagi banyak yang nggak suka dengan posisinya sebagai calon ratu," ucapnya.
"Justru karena aku merasa bersalah, makanya membawa gadis itu ke kerajaan supaya bisa menjaga dan membahagiakannya. Tapi sekarang lihatlah, aku malah membuatnya semakin terluka," ujar Alden sedih. "Ku rasa Bibi benar, membawanya ke istana hanya memperburuk keadaannya."
"Dia wanita spesial, sedikit berbeda dari manusia pada umumnya. Manusia biasa pasti sudah meninggal hanya dalam beberapa hari. Tetapi dia masih bisa bertahan sejauh ini, itu udah luar biasa," kata Jasmine.
"Tapi jika kita terlambat mengobatinya, dia pun tidak akan bisa bertahan lagi," sambung Jasmine.
"Apa kita masih bisa menyelamatkannya?" tanya Alden. Wajahnya terlihat sangat sayu. Lingkar matanya sudah melebihi lingkar hitam yang dimiliki oleh panda.
"Kita bisa menyembuhkannya secara medis, dan kamu membantu mengeluarkan racunnya dari darah. Bibi akan membuat sihir penyembuhan untuknya," jelas Jasmine tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Floretta.
"Maksudnya mengeluarkan racun dari darah? A-aku ..."
" Ya, kamu menghisap darahnya, lalu dibuang. Sama seperti waktu kamu memberinya tanda dulu."
"Tapi Bibi kan tahu, kalau aku ..."
"Jangan membantah, Al. Bibi yakin, kamu pasti nggak akan alergi dengan darahnya yang spesial ini. Kamu pasti juga udah merasakannya, waktu pertama kali menghisapnya, kan?"
...🦇🦇🦇...
"Uhuk! Uhuk! Dadaku sesak banget. Uhuk! Uhuk!"
"Kamu udah bangun, Nak? Semua mengkhawatirkan kamu, lho. Bahkan Raven sampai memintaku untuk datang ke sini dan membantu Alden mengobatimu."
Floretta mengerjapkan matanya berkali-kali. Namun tubuhnya masih sangat lemah untuk bergerak. Matanya yang sayu, menangkap bayangan wanita yang tidak asing, tapi juga nggak dikenalnya.
Wajahnya terlihat sangat memesona, bagaikan Putri Bangsawan Eropa yang terdapat di film-film. Rambutnya berwarna keperakan, terurai rapi sepanjang punggung. Matanya berwarna hazel, dengan bulu mata yang lentik.
"Siapa dia?" batin Floretta penasaran. "Aku ada di mana sekarang?" pikirnya lagi.
"Oh, kita belum pernah bertemu. Kamu pasti bingung sekarang. Kamu pasti bingung," kata wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
Floretta hanya mengangguk lemah, dan berusaha mengukir senyum di wajahnya yang pucat.
"Perkenalkan. Namaku Jasmine White. Sekarang kamu berada di rumah sakit. Alden sedang berada di bawah sebentar, untuk bertemu dengan dokter," ucap wanita itu.
Sama seperti wajahnya, suaranya juga terdengar sangat lembut dan menenangkan. Dia pasti seorang bangsawan kelas tinggi.
"T-tunggu! Jasmine White? Aku sering mendengar namanya. Dia adalah pemilik sihir penyembuhan terkuat nomor dua di kerajaan vampir. Artinya dia ..."
"Maaf, aku nggak langsung mengenali Anda, Yang Mulia Putri Jasmine White," ucap Floretta dengan sangat lirih.
"Nggak apa-apa, sayangku. Wajar kalau kamu nggak mengenalku. Kita kan baru pertama kali bertemu," jawab Jasmine. "Terus, panggil aku dengan sebutan Bibi saja. Karena aku udah memutuskan untuk keluar dari kerajaan," pinta wanita cantik itu.
"Baik, Bibi."
Floretta tak menyangka, akan bertemu dengan wanita spesial ini. Jasmine White alias Jasmine Blanche adalah adik satu-satunya dari Yang Mulia Ratu Selene Blanche. Selain kemampuan sihir yang hebat, dia juga memiliki pengaruh yang besar di kerajaan. Dia termasuk ke dalam keluarga bangsawan terkuat kedua, setelah keluarga Black.
Namun karena hal itu pula, Jasmine memilih pergi dari kerajaan, setelah menyelesaikan pendidikannya di dunia vampir. Dia mengganti nama belakangnya menjadi White, dan tinggal di dunia manusia, demi bisa menjaga dua keponakannya dari jauh.
Karena jika dia tetap berada di istana, maka mungkin saja dia nggak akan hidup sampai sekarang. Keluarga bangsawan lainnya, terutama Amethyst dan Grey, sangat ingin menggulingkan posisinya sebagai calon pemegang tahta nomor tiga, setelah Alden Black dan Raven Black.
"Dibandingkan dengannya, aku nggak ada apa-apanya. Pantas saja seluruh rakyat kerajaan vampir membenciku. Para bangsawan di kerajaan mereka semua memiliki kualitas tinggi.
"Jangan berpikir terlalu berat, Flo. Istirahat saja sampai tubuhmu pulih. Sebentar lagi Alden pasti datang," kata Jasmine, melihat kening Floretta berkerut.
"Baik, Bibi," jawab Floretta.
Walaupun begitu, kepala Floretta tak bisa berhenti berpikir. "Ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Tapi nggak tahu harus memulai dari mana. Apa benar Kak Raven yang menyuruh Bibi untuk mengobatiku? Bukankah dia yang sering ingin membunuhku?" Floretta hanya bisa mengucapkan pertanyaan itu dalam hati.
"Ah, aku tahu. Pasti semua ini hanya mimpi. Atau jangan-jangan, aku sudah mati," pikiran Floretta semakin liar.
Floretta lalu memegang tangan dan kakinya. Benar sekali, seluruh tubuhnya terasa dingin. Tak terasa denyut nadi dan degup jantungnya. Lalu yang lebih mengerikan lagi, kulit dan ujung kukunya telah membiru.
"Jadi aku beneran udah mati?"
__ADS_1
(Bersambung)