Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 65. Rahasia Kematian Orang Tua Floretta


__ADS_3

"Wah, lihat! Siapa ini pelayan baru ini?"


Erlina tersenyum sinis memandang Floretta yang berjalan di koridor istana, sambil membawa setumpuk berkas untuk ditandatangani raja.


"Ini pemandangan yang sangat menarik, Erlina. Bukankah dia cocok banget menggunakan seragam kumuh itu?" Rose turut menimpali dan tertawa mengejek.


"Selamat sore Duchees Erlina dan Marchioness Rose." Floretta menundukkan sedikit kepalanya, lalu kembali berjalan tanpa merasa sakit hati dengan ejekan kedua putri bangsawan itu.


"Huh, sombong banget, sih. Padahal cuma pelayan. Tanganku jadi gatal ingin mengerjainya," kata Rose. Dia merasa kesal karena diabaikan begitu saja oleh Floretta.


"Jangan, Rose. Sekarang dia lagi bekerja. Kalau ada apa-apa, nanti kita akan berususan dengan Yang Mulia Pangeran Raven." Erlina mencegah Rose menggunakan sihirnya.


"Ah, benar juga. Aku hampir aja gegabah," kata Rose.


"Tapi, aku punya sebuah berita penting untuknya. Floretta, kamu masih mendengarku, kan?" ucap Erlina pada sang putri, yang jaraknya sekitar sepuluh langkah dari mereka.


"Maaf, Duchees. Seperti yang kamu bilang tadi, aku lagi sibuk bekerja. Kita mengobrol lain kali saja," balas Floretta mengelak dari kedua wanita vampir itu.


"Yakin kamu nggak mau dengar dulu? Meskipun ini tentang kematian kedua orang tuamu, Zinnia Blue dan Aldric Blue?" ujar Erlina memancing Floretta untuk berhenti.


Ternyata usaha Erlina berhasil. Floretta menghentikan langkahnya.


"Kenapa semua orang di dunia ini menyebut nama mereka berdua, sih? Padahal aku sama sekali nggak ada hubungannya dengan kedua orang itu, meskipun nama belakang kami sama."

__ADS_1


"A-apa? Nggak mungkin? Aku pasti nggak salah," balas Erlina mulai ragu.


"Ya, itu benar. Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah mereka, yang selalu kalian sebut-sebut itu," jawab Floretta. "Lebih tepatnya aku lupa dengan wajah kedua orang tuaku," batin Floretta sedih.


Suara Floretta tercekat di tenggorokan. Hatinya terasa sangat pedih, menyangkal bahwa kedua nama yang disebut Erlina bukanlah orang tuanya. Tetapi Floretta terpaksa melakukannya, karena mengingat pesan dari Alden bahwa tidak boleh mengungkap identitas aslinya di kerajaan ini.


Walau awalnya marah, tetapi saat ini Floretta sadar. Bahwa larangan itu pasti demi melindungi dirinya di sini. Namun di sisi lainnya, dia penasaran dengan kematian kedua orang tuanya tersebut. Bukankah ayah dan ibunya meninggal karena penyakit langka?


"Aku nggak percaya," sela Rose. "Aku udah mencari identitasmu di dunia manusia. Aku bahkan udah bertemu dengan Violetta," sambungnya.


Pupil mata Floretta langsung membesar, mendengar hal itu. "D-dia udah ketemu sama Kak Vio? Ada identitasku beneran udah terbongkar? Jangan-jangan dia udah cerita ke Kak Vio, kalo aku menikah dengan vampir?" Floretta mendadak galau.


"Aku jadi penasaran, gimana perasaanmu menikah dan bekerja dengan seseorang yang telah membunuh kedua orang tuamu?" bisik Erlina sambil memamerkan deretan giginya yang tajam.


"Hah! Sekarang kau mulai penasaran, kan? Kamu pasti pernah mendengar, kalau Pangeran Raven membunuh manusia yang memiliki darah sangat langka." Erlina berjalan memutari Floretta, sambil bercerita.


"Hal itu sengaja dilakukannya, demi mempertahankan namanya sebagai calon pewaris tahta. Alden membantu snag kakak, tapi sayangnya yang dihukum cuma Raven. Dan kamu pasti udah bisa menebak, kalau yang dibunuh adalah kedua orang tuamu, kan?" sambung mantan tunangan Alden tersebut.


"Kalau kamu penasaran, kamu bisa membacanya di deep website kerajaan, atau catatan kriminal kerajaan vampir yang dipegang oleh kementerian hukum dan pertahanan," kata Rose menambahkan.


"I-itu bohong, kan? Untuk apa Alden menikahiku, yang orang tuanya telah mereka bunuh? Apa aku akan dijadikan tumbal selanjutnya?" pikir Floretta resah.


Setelah diingat-ingat lagi, kematian ayah dan ibunya memang cukup janggal. Mereka berdua tampak sehat, dan tidak memiliki riwayat penyakit apa pun. Namun setelah mengunjungi paman dan bibinya di kota, yakni Jade Green dan Olive Green, ayah dan ibu Floretta mendadak sakit lalu meninggal dunia.

__ADS_1


Pemakaman mereka pun cukup tertutup, tanpa dihadiri oleh para kerabat dan teman-teman orang tua Floretta. Alasannya, agar bibit penyakit yang tersapat pada mendiang ayah dan ibu Floretta tidak menyebar ke mana pun.


Erlina dan Rose tertawa senang, melihat kegelisahan di wajah sang putri dari dunia manusia tersebut.


"Besok adalah perayaan hari ulang tahun raja. Apa kau sanggup melihat mereka meminum darah manusia, seperti yang dilakukan pada kedua orang tuamu dulu?"


"Haaah, pantas saja kamu belum kembali ke ruanganku. Rupanya tersangkut di sini?" Raven tiba-tiba muncul di hadapan ketiga wanita itu.


"Maaf, Pangeran," jawab Floretta sangat gugup.


"Erlina, Rose, apa kalian nggak punya kerjaan, sampai berkeliaran di istana pada jam segini?" tegur Raven.


"Kami sedang ada kerjaan, kok. Kami bertugas mengecek dekorasi untuk acara besok. Kalau gitu pergi dulu, Pangeran


Ayo, Rose," ucap Erlina terburu-buru.


"A-aku juga pergi dulu, Pangeran." Floretta menghindari bertatapan mata dengan sang pangeran.


"Tunggu, Flo." Tanpa sadar, Raven menggenggam tangan sang putri. "Lain kali kalau mereka mengganggumu, bilang padaku. Gimana pun juga aku ini kan atasanmu. Kalau kamu diganggu, pekerjaanku kan juga bakal terhambat," kata Raven.


"I-iya, aku akan mengingatnya." Floretta buru-buru menarik tangannya, lalu segera pergi dari sana.


Raven memandangi punggung Floretta, hingga menghilang di balik dinding. "Akhirnya Floretta juga mendengar gosip itu. Apa dia akan mempercayainya?" gumam Raven dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2