Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 81. Terlambat


__ADS_3

Deg!


"Kenapa firasatku tiba-tiba nggak enak?"


Alden yang sedang menandatangi sejumlah berkas penghargaan untuk siswa berprestasi, mendadak menghentikan gerakan penanya. Dadanya terasa sesak dan berat. Telinganya berdering, seperti mendengar getaran ultrasonik dari dalam kastil.


Bola matanya yang biru kehijauan sontak melirik ke arah kastil di belakangnya. Namun sia-sia saja. Jarak antara tempat dia berada saat ini, dan pintu masuk ke dalam kastil berjarak sekitar tiga puluh meter. Halaman kastil dipenuhi oleh para pelajar dengan berbagai kegiatan.


Crang!


"Hah! Kaca jam tangannya pecah! Pasti terjadi sesuatu pada Floretta."


Mendadak, kaca jam tangan Alden pecah. Itu adalah sinyal bahwa sang putri sedang dalam bahaya besar. Hati Alden semakin was-was melihatnya.


"Aku tahu para menteri dan dewan penasehat istana pasti akan marah, kalau aku meninggalkan pekerjaan lagi. Tetapi memastikan istriku selamat, adalah tanggung jawab utamaku."


Alden menjentikkan jarinya dengan pelan, dan menghilang secara mendadak dari tempat itu. Dia melakukan teleportasi, ke tempat aroma Floretta berada.


"Y-yang mulia?" seru para pengawal yang mendadak kehilangan sang raja di hadapan mata mereka.


...🦇🦇🦇...


Brak! Brak!

__ADS_1


"Yang Mulia! Anda nggak apa-apa?"


Beberapa pengawal berkumpul di depan pintu kamar Floretta sembari berusaha mendobrak pintu yang terkunci dari dalam. Bala bantuan terus bertambah, mendorong pintu kayu dari pohon oak itu supaya terbuka.


Almond Sienna tampak memandang para pengawal dan tentara kerajaan itu dengan khawatir. Tadi, beberapa saat setelah Almond berpisah dengan Floretta, mereka mendengar suara heboh dari dalam kamar sang putri diikuti oleh aroma tak sedap yang menyebar ke seluruh lorong.


Ketika Almond berbalik untuk melihat keadaan sang putri, dia justru menemukan Lily terbaring bersimbah darah di lantai. Dua buah anak panah menusuk punggungnya. Sementara kamar sang putri tertutup rapat dan mengeluarkan aroma tak sedap.


"Ah, andai aja aku bisa sihir, pasti aku bisa membuka pintu ini dengan mudah. Lagi-lagi aku hanya bisa menonton kekacauan di hadapanku."


Almond merasa sedih, karena nggak bisa membuka pintu kamar yang sepertinya terkunci oleh mantra sihir itu. Para tentara dan pengawal telah membawa mesin gergaji elektrik untuk membuka paksa pintu tersebut, namun hasilnya tetap gagal.


"Di mana para pejabat istana? Kenapa tidak ada yang datang, padahal aku sudah mengirimkan sinyal bahaya? Apa ini dilakukan dengan sengaja?" pikir Almond resah.


"Minggir semua! Biar aku yang membukanya!"


Aroma tak sedap yang menyeruak ke segala penjuru berasal dari bangkai tikus yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Sepertinya sengaja diletakkan di sana, untuk mengacaukan penciuman para vampir.


"Almond, apa ada jalan keluar lain selain dari sini?" tanya Alden memastikan.


"Nggak ada, Yang Mulia. Kamar ini hanya memiliki satu akses keluar masuk untuk mempermudah pengawasan," jawab Almond dengan gugup.


"Ah, sialan! Aku terlambat! Kayaknya ada sekelompok vampir yang udah merencanakannya dengan matang. Aku bahkan harus berpindah tempat beberapa kali, karena mereka meletakkan aroma Floretta di ruang yang berbeda-beda," gumam Alden dalam hati.

__ADS_1


"Leon! Brayne! Pimpin pasukan untuk mencari keberadaan sang putri. Bagi menjadi beberapa tim yang memiliki kekuatan sihir!" Perintah Alden pada pengawalnya.


"Baik, Yang Mulia."


"Orange, sampaikan pesan pada Pangeran Raven untuk menggantikan tugasku sementara waktu di sini. Supaya nggak ada yang menyadari bahwa sang putri telah menghilang."


Alden memberikan perintah langsung pada sekretaris kerajaan yang mendampinginya.


"Siap, Yang Mulia."


"Lalu kalian semua para prajurit dan pengawal kerajaan, bentuk pasukan khusus untuk menjada kastil ini secara berlapis. Aku akan mengunjungi klinik kastil untuk memastikan keadaan Lily," kata Alden lagi.


"Lalu saya, Yang Mulia?" tanya Almond dengan ragu dan takut.


"Kamu kembali lah ke tengah acara. Sampaikan pada dewan penasehat kerajaan bahwa seauatu telah terjadi pada sang putri. Aku akan memberikan pengawal tambahan untukmu dan suamimu," jawab Alden.


"Baik, Yang Mulia," jawab Almond sambil menundukkan kepalanya.


Dalam satu kedipan mata, Alden pun berpindah ke klinik kastil. Kening Alden bertaut, melihat Lily dan dua orang pengawal yang terbaring di ranjang klinik. Tubuh mereka penuh perban, dengan wajah pucat pasi karena kehilangan banyak darah.


"Apa yang terjadi? Kenapa semuanya bisa terluka seperti ini?" gumam Alden merasa sedih. "Di mana Floretta sekarang? Dia masih hidup, kan? Aku nggak bisa merasakan aura tubuhnya lagi."


Alden merasa sangat cemas. Setiap manusia memiliki aura yang berbeda-beda. Tidak seperti para vampir yang hanya memiliki aura berwarna abu-abu dan hitam. Ketika Floretta diculik oleh para vampir dulu, dia masih bisa merasakan aura Floretta meskipun cukup lemah.

__ADS_1


"Jangan pergi dulu, Flo. Tunggu aku. Aku pasti akan menjemputmu dalam keadaan hidup," tekad Alden tanpa putus asa.


(Bersambung)


__ADS_2