
"Apa benar, aku cuma perlu melakukan hal ini?" tanya Floretta dengan suara bergetar.
Floretta duduk di hadapan Alden yang terbaring lemah. Wanita itu tidak bisa mengelak dari permintaan Raven dan para tetua vampir yang terlanjur marah padanya. Floretta harus bertanggung jawab, atas kekacauan yang telah dibuatnya
"Iya, benar. Tuan Putri hanya perlu membaca kalimat yang tertulis di buku ini, sambil mengusapkan tangan ke bagian yang terluka," ucap salah satu dewan penasehat istana.
"Tapi ..."
"Yang Mulia Putri jangan khawatir. Proses ini nggak berbahaya. Dan kalau pun gagal ... Setidaknya kita sudah mencobanya," kata dewan penasehat istana itu lagi.
"Maaf, Tuanku. Bukan itu masalahnya. Tapi ..."
"Ah, Yang Mulia takut kehilangan identitas sebagai manusia? Itu nggak seburuk yang kita kira, kok."
"Ya, itu juga termasuk yang bikin aku khawatir. Tapi masalah terbesarnya, aku nggak bisa membaca tulisan aneh ini," kata Floretta sambil menunduk malu.
"Astaga!" Semua orang di ruangan itu menepuk jidat.
"Udah jelas kamu gak bisa membacanya. Ini kan tulisan kuno kerajaan vampir," kata Raven yang baru aja menyadarinya.
"Jadi gimana, dong?" tanya Floretta bingung.
"Begini saja. Aku akan menuliskannya ulang dalam tulisan kita, supaya kamu bisa membacanya dengan benar," kata Raven. "Kita harus segera menyembuhkan raja, sebelum pihak oposisi menyerang kerajaan," sambungnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
"Бурхан минь, хүч чадлаа харуул. Манай хааны доторх сарны чулуунаас ид шидийн энергийг зайлуул. Түүний дотор урсах Хар овгийн цус Миний өгсөн ариун цус. Муу ид шидийг цэвэр ариун ид шид болгон хувирга."
Floretta membaca kalimat per kalimat yang telah disalin oleh Raven pada selembar kertas. Suaranya terdengar berat dan bergetar. Tangannya yang halus mengusap area luka di bagian dada dan lengan dengan sangat lembut.
"Su-sudah," ucap Floretta lirih.
"Kenapa nggak terjadi apa-apa? Apa kamu sudah membacanya dengan benar?" tanya Raven dengan kening berkerut.
"A-aku rasa sudah membacanya d-dengan baik," jawab Floretta gugup. Dia takut hati ini hidupnya berakhir sebagai santapan makan malam para vampir.
"Coba ulangi lagi, Yang Mulia. Lebih fokus lagi," kata salah satu dewan penasehat istana.
Wanit bermata biru laut itu menutup kelopak matanya. Dia kemudian menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Aku nggak boleh begini. Lari dan bersembunyi tanpa melakukan apa pun. Lalu menyesal di kemudian hari. Aku mengerti rasanya ditinggalkan. Apalagi seluruh kerajaan yang sangat mencintai pria ini. Baik jahat atau baik, aku harus tetap menyelamatkan pria ini.
"Flo? Apa ada masalah?" Raven menatap sang adik ipar dengan rasa khawatir, karena melihat wanita itu tak kunjung mengucapkan mantranya.
Wanita itu tak menjawab pertanyaan sang pangeran. Kepalnya memutar kembali ingatan seekor burung hantu yang selalu mendengarkan ceritanya setiap malam. Pria tampan yang selalu melindunginya, bahkan sampai rela dihina bangsanya sendiri.
"Бурхан минь, хүч чадлаа харуул. Манай хааны доторх сарны чулуунаас ид шидийн энергийг зайлуул. Түүний дотор урсах Хар овгийн цус Миний өгсөн ариун цус. Муу ид шидийг цэвэр ариун ид шид болгон хувирга."
__ADS_1
Floretta kembali mengucapkan mantra dari buku tua itu. Kali ini suaranya cukup lantang. Tangan kanannya mengusap bagian dada pria itu. Sedetik kemudian, suasana kembali hening. Tidak terjadi apa pun.
"Kenapa nggak berhasil? Bukankah Yang Mulia berdarah murni dari keluarga Blue dan belum 'bercampur' dengan sang raja?" Protes seorang penasehat istana tak sabaran.
"Tunggu dulu! Bukan nggak terjadi apa-apa. Tetapi belum."
Raven menunjuk ke arah jari sang pangeran yang sedikit bergerak. Raja vampir itu kemudian membuka kelopak matanya perlahan. Mata lelaki itu masih terpejam rapat, ketika tubuhnya terangkat ke udara.
Sepasang sayap muncul di balik punggung pria tampan bertubuh atletis itu. Sayap hitam yang berkilau bagai tersiram debu berlian itu mengepak tiga kali, sebelum akhirnya terlipat rapi di belakang punggung berkulit pucat dan berotot itu.
Kelopak mata Alden akhirnya terbuka. Sayap hitamnya yang lebar masih ada. Lelaki bermata biru kristal itu terdiam sembari memandangi orang-orang di sekitarnya.
"Hei, bocah. Kau udah bangun? Gimana keadaanmu sekarang? Hampir aja aku mengajukan diri sebagai raja." Raven melemparkan pertanyaan pada sang adik, yang sudah sadar.
"Aku baik-baik aja. Tapi gimana keadaan Floretta? Dia nggak terluka, kan?" Bukannya merasa marah atau kesakitan, Alden justru mencari keberadaan sang istri.
"Hah? Kamu ngelantur atau masih belum sadar? Kan Floretta di si ... ni ..."
Raven hampir saja menggantung kalimatnya, tatkala kedua matanya melihat seorang wanita dengan tubuh berkilauan cahaya dan rambut perak melayang di udara. Sayapnya yang putih dan halus, terkembang dengan sempurna. Gaunnya berubah menjadi berwarna perak.
"Di-dia siapa?" tanya Raven dan para pria di sana bersamaan.
(Bersambung)
__ADS_1