Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 60. Ruangan Misterius


__ADS_3

"Perpustakaan? Kenapa dia membawaku ke sini? Apa dia mau membunuhku di sini, lalu menjadikan kulitku sebagai sampul buku?"


Kepala Floretta semakin dipenuhi oleh beragam pertanyaan, setelah mereka memasuki sebuah perpustakaan dengan koleksi buku-buku tua di setiap raknya. Dindingnya yang tidak diplester, serta ruangan yang dudominasi oleh perabotan antik, membuat Floretta seakan melakukan perjalanan ke masa lalu tiga ratus atau empat ratus tahun yang lalu.


"Kau mikir apa, sih? Wajahmu sampai kaku kayak manekin gitu?" tegur Raven yang menoleh ke belakang, untuk melihat Floretta.


"Eh, anu ... Nggak, kok. Aku nggak berpikiran macam-macam," jawab Floretta dengan suara tercekat di tenggorokan.


Raven tertawa melihatnya. Jelas sekali bahwa wanita itu merasa sangat tegang dan ketakutan.


"Dia kembali tertawa. Apa rumor yang dikatakan para pelayan itu cuma untuk menakut-nakutiku saja? Katanya Pangeran Raven jarang sekali tersenyum, apalagi tertawa," batin Floretta bingung.


"Ini perpustakaan pribadiku, salah satu tempat favoritku untuk menyendiri. Dulu ibuku sering membacakan buku untuk kami berdua di sini," jelas Raven.


"Ah, begitu, ya?" gumam Floretta sambil melihat-lihat setiap sudut perpustakaan tersebut.


Ruangan yang berukuran sedang itu terlihat sangat cantik dan masih tertata rapi. Tidak terasa udara pengap sedikit pun, meski di sini tidak ada jendela dan mesin pengatur udara.


"Semua benda di tempat ini masih sama susunannya, seperti yanh ditata ibuku dulu. Bahkan semua perabotannya pun sama.


Jemari Raven menyentuh sandaran kursi yang terbuat dari kayu oak, lalu menujuk arah deretan foto-foto sang Ratu Vampir, Selene Blanche. Ratu vampir itu terlihat sangat cantik bak malaikat, meskipun tanpa gaun mewah dan tiara di atas kepalanya.


"Makanya tempat ini sangat terlarang untuk didatangi siapa pun. Hanya aku dan Alden yang boleh memasukinya. Setiap hari, akulah yang merawat tempat ini tanpa pelayan," imbuh Raven dengan nada agak tinggi.


"Terus, kenapa Yang Mulia mengajakku ke sini?" ujar Floretta bingung.


Raven berbalik badan sambil melangkahkan kaki mendekati Floretta, hingga wanita itu terdesak di antara dinding dan sang pangeran.


"Karena mungkin aja ini terakhir kalinya kamu datang ke tempat ini."


Sikap ramah yang tadi ditunjukkan oleh Raven tadi, lenyap seketika. Kini sang pangeran vampir menunjukkan wajah buasnya, dengan sepasang taring yang tajam, dan mata merah menyala.


Deg! Jantung Floretta hampir saja melompat ke lantai, melihat perubahan sikap sang vampir yang tiba-tiba.

__ADS_1


"T-ternyata benar, dia datang ke sini untuk menghabisiku," batin Floretta dengan lutut lemas. Wanita itu mencari-cari HP-nya untuk meminta bantuan secepatnya.


"HP-mu aku simpan di ruang makan. Lagipula nggak ada seorang pun yang tahu jalan ke tempat ini, kecuali Alden dan kepala pelayan yang sudah pensiun," kata Raven dengan suara rendah, dan menyeringai lebar.


"Ampun, Pangeran. Jangan lukai aku," kata Floretta dengan gemetar.


"Aku tahu, kamu adalah anak kandung dari Zinnia Blue dan Aldric Blue. Jangan coba-coba membohongiku lagi, Blue," bisik Raven di telinga Floretta.


"Uh, aku harus bagaimana?" pikir Floretta resah.


"Apa kamu bersekongkol dengan Alden, untuk semakin menjatuhkanku? Apa nggak cukup dia naik merebut tahtaku dan menjadi seorang raja?" kata Raven membentak Floretta


"A-aku sama sekali nggak tahu soal itu. Kami baru saling mengenal, saat dia melamarku di pernikahan Kak Violetta," jawab Floretta dengan lirih.


"Bohong! Dari data yang aku dapat, kalian berteman baik waktu masih SD," balas Raven sambil berdecih kesal.


"Aku beneran, Kak. Sampai sekarang aku juga nggak tahu, apa alasan Alden membawaku ke sini," kata Floretta meyakinkan sang kakak ipar.


Gigi taring Raven hilang kembali. Dia lalu duduk di salah satu kursi sofa yang dipenuhi ornamen ukiran kayu.


"G-gimana dia bisa mengatakan hal mengerikan kayak gitu sambil tersenyum?" Floretta menelan ludahnya, untuk mengurangi rasa takut.


"Lagipula kau lolos beberapa ujian yang aku berikan kemarin. Sebagai pangeran, aku nggak bisa ingkar janji begitu saja," ucap Raven.


"Ternyata dia gentle juga," batin Floretta kagum. Meski demikian, dia bingung gimana caranya melepaskan diri dari kemelut ini.


"Jadi sekarang, jelaskan padaku kenapa aku harus membiarkanmu hidup dan menjadi ratu di sini. Kalau alasanmu hanya ingin menemani Alden, aku nggak bisa terima," perintah Raven.


"Jangan takut Flo. Aku harus membuatnya yakin, kalau aku berguna untuk kerajaan ini," gumam Floretta pada dirinya sendiri.


"Aku tahu, gimana sakitnya saat keberadaan kita nggak dianggap. Meskipun sudah berusaha," ucap Floretta lirih.


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


"Aku tahu, pangeran sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seorang raja yang agung. Bahkan nilai akademis pangeran di pendidikan militer jauh lebih tinggi dibandingkan Alden," jelas Floretta.


"Nggak usah sok tahu. Kau ini nggak tau apa-apa tentangku," bantah Raven.


"Kalau memang Yang Mulia sangat ingin menjadi raja, kenapa nggak dari dulu Yang Mulia memusnahkan Alden? Ada banyak kesempatan untuk membunuhnya tanpa jejak, lalu naik me jadi raja menggantikannya." Floretta menjeda kalimatnya sejenak, untuk mengatur napasnya.


"Tapi Yang Mulia nggak melakukan itu semua, kan? Yang Mulia justru berusaha menjadi raja dengan cara lain. Jadi aku menganggap, bahwa Yang Mulia tidak sekejam dan sejahat yang mereka kira," kata Floretta lagi.


Raven tertawa mendengar kalimat pujian itu. "Apa kau tau, sudaj ada berapa banyak vampir dan manusia yang aku bunuh? Dan kau masih mengatakan kalau aku nggak sekejam itu?" ucap Raven.


"Yang Mulia hanya butuh seseorang yang bisa dipercaya. Aku nggak tahu seperti apa keadaan istana ini dulu. Tetapi aku yakin, saat itu pasti ada kesalahpahaman sampai Yang Mulia dianggap pangeran yang kejam," kata Floretta lagi.


"Jadi menurutmu aku pantas jadi raja? Lalu Alden mau kau kemanakan?" tanya Raven.


"Aku nggak bisa memutuskan hal seberat itu sendirian. Tetapi aku percaya, Yang Mulia punya sisi baik yang gak pernah dilihat oleh orang lain," kata Floretta.


"Oh, aku paham maksudmu. Jadi kamu mau cari muka padaku, dengan memuji-mujiku, lalu menusukku dari belakang, kan?" ujar Raven.


"Aku tahu, keluarga Blue adalah keluarga terpandang yang memiliki pendidikan tinggi. Tapi kamu nggak dibesarkan oleh keluarga mereka. Jadi aku nggak yakin, kamu punya kemampuan yang sama," cibir Raven.


"Jadi apa lagi yang harus aku lakukan, agar pangeran percaya?" ucap Floretta hampir putus asa. Apakah dia akan benar-benar berakhir hari ini?


"Kau mungkin nggak bisa menjawab semua keinginanku, tetapi kamu pasti bisa memenuhi kebutuhanku."


Srak! Raven membuka kemejanya lalu melemparkannya sembarang ke arah kursi. Dadanya yang bidang pun terpampang jelas. Kulitnya sangat putih dan pucat, lebih pucat dari yang Floretta kira.


"A-apa yang pangeran lakukan?"


Floretta mundur menjauhi Alden, dan bergerak ke arah pintu. Namun, pintu kayu tua itu sudah duluan dikunci oleh Raven yang licik.


"Kalau yang satu ini, kau pasti bisa melakukannya, kan?" Raven menghimpit tubuh Floretta ke dinding, hingga dadanya yang bidang, menyentuh bagian lembut di balik baju Floretta.


"Jangan, Pangeran. Aku nggak mau melakukannya!" teriak Floretta sambil meronta.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2