Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 71. Wanita Spesial


__ADS_3

"Ini, Yang Mulia. Sudah selesai semua," ucap Floretta sambil meletalkan hasil kerjanya di meja kerja Raven Black.


"Terima kasih. Biar aku cek dulu," ucap Raven tanpa menoleh.


"Ugh, badanku masih nggak kuat. Rasanya pusing banget. Aku nggak bisa berdiri terlalu lama," kata Floretta dalam hati.


"Duduklah. Aku nggak mau diomelin Alden, karena membua istrinya pingsan," ucap Raven tanpa menoleh.


"Eh? Dia bisa mengerti isi pikiranku?" pikir Floretta, sambil berjalan ke arah kursi di depan meja Raven.


"Aku bukannya membaca pikiranmu, tetapi siapa pun pasti bisa menebaknya kalau melihat wajahmu yang pucat dan lemah itu," ucap Raven sambil memeriksa pekerjaan Floretta.


"Fix, dia bisa membaca pikiranku," gumam Floretta dalam hati.


"Pekerjaanmu masih banyak yang salah. Banyak data yang terlewat," kata Raven beberapa saat kemudian.


"Kalau begitu akan aku perbaiki lagi, Yang Mulia. Akan aku pastikan kali ini nggak akan salah," ucap Floretta.


"Tidak usah," balas Raven dengan cepat.


"Eh? Gawat! Dia pasti sangat marah padaku," ujar Floretta dalam hati.


"Aku nggak marah padamu. Dari awal aku udah tahu akan banyak yang salah. Biarkan pegawai istana yang memperbaikinya," kata Raven.


Walaupun dia bilang tidak marah pada Floretta, tetapi sepertinya wajahnya mengatakan hal yang berbeda.


"Ja-jadi untuk apa Yang Mulia menyuruhku mengerjakannya?" tanya Floretta bingung bercampur kesal.


"Sejak awal aku sudah bilang, kamu harus bertanggung jawab karena udah bikin pekerjaan istana menumpuk. Tapi aku memaklumi hasil kerjamu karena baru saja sembuh," jawab Raven. "Dan aku ingin melihat, apa kamu benar-benar serius pada ucapanmu waktu itu?" imbuhnya.


"U-ucapanku?" Floretta menggali ingatannya, mengingat-ingat kembali apa yang telah diucapkannya pada sang pangeran kala itu.


"Kalau kamu ingin mendapat pengakuan sebagai calon ratu di sini, jalanmu masih sangat panjang. Tapi setidaknya, kamu nggak seburuk yang aku kira," kata Raven.


"Eh? Dia memujiku lagi?"

__ADS_1


Floretta kembali teringat ucapan Aden beberapa waktu lalu, yang mengatakan sang pangeran menyukainya. Wanita itu pun semakin canggung bertatapan dengan sang pangeran.


"Satu hal yang perlu kamu ingat. Walaupun Alden bilang nggak butuh istri lagi, tapi dia bisa saja terpaksa melakukannya, kalau kamu nggak memenuhi kualifikasi sebagai calon ratu. Alden nggak akan bisa menolak keputusan dewan penasihat istana itu."


"A-apa dia bilang? Jadi aku harus benar-benar memenuhi kualifikasi sebagai calon ratu, supaya nggak dilengserkan?" batin Floretta menjerit.


"Itu aja yang mau aku bilang. Kembalilah ke kamarmu. Hadiahmu hari ini akan diantar pelayan ke kamar. Tapi jangan lupa cek dulu supaya nggak terkena racun seperti kemarin," perintah Raven.


"Apa Yang Mulia masih membenci manusia?" tanya Floretta tiba-tiba.


Kedua mata Raven terbelalak, mendengar pertanyaan yang sensitif itu.


"Aku nggak perlu menjawabnya di sini. Yang jelas para manusia adalah sumber makanan bagi para vampir. Jadi, berhati-hatilah dengan lehermu," ucap Raven sambil menatap Floretta dengan tajam.


"Uh!" Floretta reflek menutup lehernya dengan telapak tangan.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran. Jangan sampai darahmu mengering sebelum sempat menjadi ratu," perintah Raven.


"Ba-baik, Yang Mulia."


"Haaah, ujian ratu keparat! Bikin pusing kepala saja. Apa aku harus berubah jadi orang yang kejam seperti para bangsawan itu, supaya bisa bertahan dan diterima di sini?"


"Berpura-pura menjadi orang lain, agar mereka percaya bahawa aku nggak selemah yang mereka kira?"


Floretta menggerutu dalam hati, sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya.


"Tapi sepertinya sekarang aku bisa sedikit bernapas lega, karena Pangeran Raven nggak terlalu membenciku seperti dulu," batin Floretta lagi.


Pertarunganku memang masih panjang, dan sampai sekarang aku belum bisa mendapatkan dukungan dari bangsawan mana pun untuk naik menjadi calon ratu."


"Tetapi apa pun yang terjadi, aku nggak akan menyerah. Aku udah sampai sejauh ini, nggak akan mundur lagi," tekadnya dalam hati.


...🦇🦇🦇...


"Kenapa aku membenci manusia?" Raven mengulang pertanyaan Floretta tadi.

__ADS_1


"Aku nggak membenci manusia, tetapi membenci semua orang di sekitarku. Ini semua gara-gara kedua orang itu. Yang nggak pernah menganggapku ada."


Raven berdiri di tepi jendela, sambil menatap salju yang mulai menipis. Rahangnya terlihat mengeras, dan matanya berkilat-kilat menahan emosi.


Otaknya memutar kembali memori kelam saat usianya masih sangat belia. Insting berburunya jauh lebih tinggi dari para vampir lainnya, hingga seekor burung camar pun tak luput dari sasarannya.


Karena hal itulah kedua orang tuanya, Yang Mulia Raja Adellard Black dan Yang Mulia Ratu Selene Blanche menganggapnya sebagai monster berbahaya. Puncak semua tragedi adalah ketika Pangeran Raven diisukan mengambil darah manusia secara ilegal, dan gelarnya sebagai putra mahkota dicopot.


"Bahkan sampai mereka berdua meninggal, aku nggak pernah diakui sebagai putra pertama mereka. Semua orang percaya pada mereka, karena mereka adalah ratu dan raja agung yang bijaksana. Memangnya apa yang salah pada diriku yang menyukai darah? Aku kan seorang vampir," batin Raven dengan dada memburu.


"Mereka berdua hanya menyayangi yang mereka sukai. Anak yang patuh dan tak gila darah. Lalu mereka meninggalkan yang mereka anggap buruk dan bersikap seperti monster."


"Aku benar-benar membencinya. Aku ingin menghancurkannya. Ku pikir menghancurkan setiap orang yang takut padaku, akan membuatku senang dan balas dendamku terbalas."


Raven semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Luka lama yang begitu membekas dalam hatinya, dan membuatnya menjadi vampir berhati dingin, kembali memenuhi hatinya yang terlanjur beku.


"Tetapi pada akhirnya tidak pernah menghilang. Justru dendamku semakin parah. Namun di saat keadaan semakin memburuk, wanita itu justru datang dan menganggapku bangsawan vampir yang terhormat. Hanya dia wanita yang menganggapku sebagai keluarga, terutama saat kami makan malam bersama," ucap Raven pada dirinya sendiri.


Tampaknya Raven benar-benar jatuh hati pada sang putri yang berasal dari dunia manusia itu. Sikapnya pada Floretta, sangat berbeda dengan sikapnya dengan para gadis cantik dari bangsa vampir, yang pernah mendekatinya dulu.


"Apakah aku tidak boleh jatuh cinta, pada istri adikku sendiri?"


*


"Apa kalian udah dengar kabar dari Kastil Ecarlatte? Kondisi Floretta sudah membaik, bahkan sekarang dia sudah bekerja bersama Pangeran Raven," ujar Russel di kantor dewan istana.


"Eh? Apa itu masuk akal? Bukannya dari pemeriksaan terakhir organ tubuhnya banyak yang sudah hampir mati? Manusia yang seperti itu, nggak bisa diobati oleh dokter dan ilmu sihir biasa." Edmund rupanya baru mendengar berita itu.


"Gimana ini, Erlina? Bukankah kamu bilang, kalau racun itu nggak ada penawarnya?" tanya Amber Geranium, teman Erlina.


"Sepertinya Floretta nggak disembuhkan oleh dokter pribadi raja atau pun tabib istana. Tetapi karena darahnya yang istimewa, makanya dia mampu bertahan," jawab Erlina dengan gigi gemeretak. Aku juga curiga, ada seseorang yang memiliki sihir tingkat tinggi membantunya sembuh lebih cepat."


"Maksudmu? Siapa yang mau membantu menyembuhkan manusia itu?" tanya Daisy Krimson.


"Tentu saja bangsawan tertinggi setelah royal family, yaitu Jasmine Blanche."

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2