
“Makanlah, Flo. Jangan hiraukan aku,” ujar Raven dengan suara lembut.
Floretta terkejut mendengar suara lembut pria itu. Ini pertama kalinya Raven bersikap baik padanya.
“I-ini acara makan malam bersama, atau ujian skripsi, sih? Kenapa rasanya aku dipelototi dua pria dari tadi? Rasanya tegang banget.”
Rasanya Floretta berada di dalam ujian praktek tata krama, dengan dua orang juri yang akan menilai, bagaimana cara dia makan dengan anggun ala putri raja.
“Kenapa, Flo? Udah kenyang?” Alden menyadari bahwa sang istri salah tingkah diperhatikan seperti itu.
“Apa para manusia memang makannya sedikit seperti ini?” ujar Raven ikut menimpali. “Padahal aku udah menyiapkan banyak menu spesial untukmu,” imbuh pria itu lagi.
“Bukan begitu kok, Yang Mulia. Aku hanya sungkan, karena Yang Mulia tidak ikut memakannya,” kilah Floretta sembari menyelipkan rambutnya ke balik telinga.
“Sudah ku bilang, jangan hiraukan aku. Kamu kan udah tahu, makanan kita berbeda,” sahut Raven dengan santai.
Raven Black mengusap permukaan gelas kristalnya secara pelan, dengan menggunakan jari telunjuknya. Gerakannya terlihat biasa, namun sesungguhnya memiliki sihir yang luar biasa.
Gerakan itu menjaga agar darah di dalam gelas itu tidak mengeluarkan aroma besi yang terlalu tajam dan membuat Floretta mual.
Jujur saja, Raven sangat penasaran dengan aroma darah Floretta yang unik. Aroma itu sangat mirip dengan aroma darah keluarga Blue yang telah punah beberapa belas tahun lalu. Aromanya sangat wangi dan menggugah selera.
“Blue, kau pasti putri dari Zinnia Blue dan Aldric Blue, kan? Jangan bohongi aku lagi,” batin Raven sambil menikmati cairan merah kental dari gelasnya. Sesekali pria itu menghirup udara dalam-dalam, untuk memastikan bahwa penciumannya tidak salah.
“Meskipun aku tak begitu ingat wajah mereka, tetapi kau mewarisi beberapa kebiasaan pasangan suami istri itu. Dan gen dari mereka berdua, mengalir kuat di dalam darahmu,” pikir Raven lagi.
Lima menit telah berlalu. Makan malam yang super tegang ini masih terus berlangsung. Sedikit sekali yang mereka bicarakan, bahkan hampir tidak ada. Makan malam keluarga yang penuh kehangatan seperti harapan Floretta pun, hampir tidak tercapai.
Kilau cahaya lampu yang menggantung di atas mereka, memantulkan sinar di gelas kristal bening mereka. Namun bukan itu yang dilihat oleh Floretta. Bayangan dari pria kejam dan dingin di ujung sana, terlihat sangat kesepian di mata Floretta. Tidak lagi ganas seperti yang biasaya dia lihat.
__ADS_1
“Jadi, ada apa sebenarnya kakak mengajak kami makan malam bersama?” tanya Alden, memecah keheningan.
“Ah, ku kira kalian nggak akan bertanya. Apa seaneh itu ya aku mengajak kalian makan bersama?” ujar Raven sambil tertawa kecil.
Pria itu mengambil botol wine yang dibawa oleh Alden tadi, lalu menuangkan isinya ke dalam gelas kosong.
“Aku lagi mempertimbangkan, untuk memberi dukungan pada Floretta sebagai calon ratu,” ujar Raven.
“Apa? Yang benar?” seru Alden tak percaya.
“Hei, hei, dengarkan aku dulu. Aku bukan memberi dukungan, tapi masih mempertimbangkannya,” ucap Raven memperjelas kalimatnya.
“Ya tapi tetap saja, itu berita yang sangat bagus. Dengan begitu, Floretta bisa naik menjadi ratu lebih mudah,” sahut Alden dengan wajah sumringah.
“Tapi sebelum aku memberikan dukungan, Floretta harus mengikuti berbagai tes dulu. Surat resminya akan aku keluarkan besok pagi,” ucap Raven setelah meneguk wine dari gelasnya.
...🦇🦇🦇...
Floretta mengernyitkan keningnya. Pelayan itu bukanlah Lily yang biasa melayaninya. Wanita berusia tiga puluhan bernama Marry itu mengatakan, jika pelayan pribadi Floretta mendadak pulang ke kampung halaman, karena ibunya sakit keras.
Ah, Floretta mendadak kesepian. Padahal malam ini dia sedang butuh teman curhat.
Floretta kemudian berendam di dalam air yang telah diberi ekstrak bunga mawar dan vanilla yang menennangkan, membuat semua syaraf-syarafnya rileks.
“Hmm, tumben pakai aroma vanilla segala. Apa karena pelayan lain yang mengurusnya, jadi pelayanannya juga berbeda?” pikir Floretta bingung.
Hampir seluruh tubunya terbenam di bawah permukaan air. Bahunya yang polos terlihat sedikit di atas permukaan air.
Setelah puas berendam, Floretta pun membasuh tubuhnya dengan air dingin. Setelah itu dia lalu mengambil sebuah bath robe, lalu memakainya. Tubuhnya kini terasa lebih segar dan rileks.
__ADS_1
Namun, langkah kaki Floretta mendadak terhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Indra penglihatannya menangkap sebuah benda asing di atas tempat tidur. Sehelai kain tipis berwarna merah terletak di atas sepreinya yang berwarna putih bersih.
Pupil matanya seketika melebar sempurna, kala menyadari bahwa lembaran kain itu adalah sebuah baju tidur terbuat dari renda halus yang tembus pandang.
“Sebuah lingerie? Ulah siapa ini?” Pikir Floretta keheranan. “Ah, pasti pelayan baru itu tidak tahu, kalau aku tidak pernah mengenakan hal seperti ini di malam hari,” batinnya.
Floretta berjalan ke sisi lemarinya yang sangat besar. Namun semua lemari itu terkunci rapat.
“Apa-apaan ini? Kenapa tumben sekali lemariku dikunci seperti ini?” gumam Floretta bingung. “Nggak, pokoknya aku nggak akan pernah menggunakan pakaian haram itu,” gerutu Floretta sembari mencari akal untuk membuka lemari tersebut.
Namun sayang, semua usahanya sia-sia. Pintu-pintu lemari yang berisi gaun dan pakaian tidurnya terkunci sangat rapat, bagaikan dilekatkan menggunakan paku. Semua kunci yang dia temukan di laci, tidak ada yang cocok.
“Tuhan, tolonglah … Semoga yang terakhir ini bisa dibuka,” mohonnya putus asa.
Tubuhnya mulai merasa kedinginan, karena bath robe sepanjang pangkal paha itu tidak mampu menutupi tubuh mungilnya. Bahkan dadanya saja tidak bisa tertutup seluruhnya.
Tapi dia harus bagaimana? Antara Lingerie dan bath robe, tidak ada satu pun yang layak untuk dibawa tidur.
“Masa aku harus mencopot sehelai gorden untuk baju tidurku malam ini, sih? Lagian para pelayan pada ke mana, sih? Kenapa dari tadi aku telepon nggak ada yang mengangkatnya?” gumam Floretta kesal.
“Ah, hampir aja lupa. Kan masih ada satu lemari lagi di sana.”
Floretta melompat kecil, menuju sebuah lemari tua, dengan ukiran yang unik. Wanita itu berseru riang, kala pintu lemari itu dapat dibuka dengan sangat mudah. Namun, senyuman di wajah wanita itu lenyap seketika, saat melihat pakaian yang tergantung di dalam sana.
“Lingerie lagi? Lalu aku harus bagaimana?” seru Floretta kesal. Sang putri yang biasanya bersikap anggun dan elegan itu pun, membanting pintu lemari dengan keras.
“Ya kalau gitu pakai saja. Toh nggak ada siapa-siapa di sini selain kita berdua.”
“Astaga! Hantu!” Floretta menjerit kuat, saat mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di belakangnya.
__ADS_1
(Bersambung)