Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 42. Merajuk


__ADS_3

"Dasar manusia sialan! Berani beraninya makhluk lemah seperti dia mengejek kita!" Russel menggebrak meja, untuk meluapkan emosinya.


Setelah Floretta dan Alden keluar dari ruang rapat, para anggota dewan itu hanya bisa mengumpat, sambil menatap surat pembatalan pernikahan yang sudah menjadi serpihan kertas kecil. Susat yang sudah dirancang dan dibuat susah payah oleh Daisy itu, kini hanyalah seonggok sampah yang nggak berguna.


"Benar! Dia merendahkan kita dengan tetap maju menjadi ratu, tetapi dia sendiri nggak sadar kalau level ras mereka jauh di bawah kita," sambung Daisy sambil mendengus kesal.


"Kok bisa sih Alden memihak wanita busuk itu? Apa mereka memiliki perjanjian mutualisme yang nggak kita ketahui?" ujar wanita bangsawan dari keluarga Krimson itu lagi.


Edmund sang ketua dewan istana memijat telinganya yang sakit, karena suara menggelegar dari para bangsawan itu.


"Hei, Edmund. Harusnya sejak awal kita langsung membunuhnya saja. Kalau seperti ini pasti bakal lebih susah untuk menyingkirkannya dari sini," ujar Russel dengan mata merah menyala.


"Jangan gegabah! Kalau kita melakukan kekerasan untuk melenyapkannya, bisa-bisa kita mendapat masalah yang lebih besar," jawab Edmund dengan nada datar dan ekspresi yang cukup santai.


"Novac, kenapa kau dari tadi diam aja, sih? Harusnya kamu yang lebih marah dibandingkan kita semua, karena adikmu sudah dikhianati oleh keluarga Black," ucap Russel pada Novac, yang sejak awal pertemuan hanya duduk diam.


"Kalian pikir aku nggak marah?" sahut Novac Amethyst, sambil mengubah posisi duduknya. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk karena menatap layar HP, kini dia angkat dan memperlihatkan kesan angkuh.

__ADS_1


"Aku jauh lebih marah daripada kalian semua. Tetapi aku juga tahu sifat adikku itu seperti apa. Dia pasti nggak akan tinggal diam, ketika miliknya direbut oleh orang lain," sambung putra pertama dari keluarga Amethyst tersebut.


"Kau juga, Edmund! Kenapa jadi ketua nggak tegas banget, sih! Harusnya kau menahan mereka pergi tadi, agar bisa membuat keputusan dengan cepat," protes Daisy pula.


Edmund hanya tersenyum kecil, mendengar dirinya diprotes seperti itu. "Kalian merasa nggak ada yang aneh?" gumam Edmund sambil menuang minuman ke dalam gelas. Tenggorokannya terasa kering, karena berteriak di depan Floretta tadi.


"Aneh? Apa maksudmu? Apa Alden dan manusia busuk itu memang punya perjanjian saling menguntungkan seperti pernikahan kontrak?" ucap Russel penasaran.


"Heeei, buka itu maksudku." Edmund melambaikan tangannya di depan wajah. "Seharusnya Raven bisa saja membunuhnya kapan saja. Bahkan saat Alden dinas ke luar negeri kemarin. Tetapi kenapa dia nggak melakukannya?" sambung pria itu.


"Eh, benar juga. Jangankan manusia, pelayan yang mengaggunya aja sudah dia musnahkan tanpa jejak," balas Daisy. Kelopak matanya yang memiliki bulu mata lentik terbuka lebar. "Dia seakan nggak peduli dengan keberadaan manusia itu di sini. Ada apa sebenarnya?" gumam wanita itu lagi.


Floretta berjalan canggung di sisi sang suami. Dia seperti anak kecil yang baru aja ketahuan melanggar aturan salah oleh orang tuanya. Sepanjang lorong menuju ke Kastil Ecarlatte, mereka hanya saling bungkam. Hanya suara langkah kaki yang terdengar menggema hingga ke ujung lorong.


"Kebab buatanmu enak. Aku suka," celetuk Alden tiba-tiba.


"Oh? Kamu udah memakannya? Aku pikir benda itu udah pindah ke dalam tong sampah," balas Floretta sambil mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


"Floretta, kamu marah padaku soal tadi malam?" Alden melangkahkan kakinya dengan cepat, lalu meraih lengan wanita itu untuk mencegahnya pergi.


"Nggak, tuh!" balas Floretta dengan cepat.


"Hm, Yang Mulia. Sepertinya aku harus pamit dulu. Ada hal lain yang harus aku kerjakan," ujar Leon yang merasa tak enak, melihat pertengkaran suami istri itu.


"Jangan pergi! Tetaplah di sini!" perintah Floretta dan Alden dengan kompak.


"Huuffft! Untuk hal yang kayak gini aja, baru deh mereka kompak," batin Leon sambil menghela napas panjang. Pengawal itu memang gak pergi dari sini. Dia hanya menjaga jarak cukup jauh, di belakang pasangan suami istri tersebut.


"Floretta, maaf tadi malam aku nggak makan bersamamu. Aku juga nggak tahu, kalau kamu menyiapkan kebab untukku," ujar Alden dengan nada lembut.


"Nggak perlu minta maaf. Aku tahu raja itu sangat sibuk!" Meskipun kalimatnya seolah-olah memahami Alden, tetap saja nada bicara dan raut wajahnya masih terlihat jutek pada Alden.


"Tadi malam itu kami membicarakan soal posisi menteri pendidikan. Erlina kan sudah selesai pendidikan di luar negeri. Dia juga punya banyak prestasi. Penasehat kerajaan bilang, kalau dia cocok untuk menjadi menteri pendidikan selanjutnya."


Alden terus berusaha menjelaskan duduk perkaranya pada Floretta. Namun semua itu adalah usaha yang sia-sia. Floretta tetap tidak senang mendengarnya.

__ADS_1


"Iya, aku tahu kok dia wanita yang sangat berkelas. Jangankan menjadi menteri, menjadi ratu pun dia sangat cocok," balas Floretta lagi.


(Bersambung)


__ADS_2