Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 64. Sihir Ajaib Sang Putri


__ADS_3

"Apa? Dia jadi pelayan? Hahaha ...dari semua berita yang kudengar dari istana ini adalah berita yang paling menyenangkan."


Novac memegang perutnya yang sakit karena tertawa terbahak-bahak. Jemarinya mengusap air mata, yang keluar saat dia tertawa lebar.


"Sekarang si raja cacat itu pasti bingung. Bagaimana caranya mengalahkan Kakak sendiri," sambung Russel pula.


"Ya, begitulah yang aku dengar, saat berkunjung ke istana tadi," ucap Erlina setelah meneguk teh mawar dari dalam cangkirnya.


"Aku nggak sabar menunggu perang saudara antara mereka berdua, lalu kita tinggal merebut tahta mereka." Kali ini Edmund Brown yang akan bicara.


"Erlina, jadi gimana? Kamu nggak membiarkan manusia tengil itu jadi ratu kita, kan?" tanya Daisy penasaran.


"Ya nggak, lah. Masa aku mengalah dari bangsa rendahan itu?" balas Erlina dengan cepat. "Lagipula aku sudah terlanjur jatuh cinta sama vampir cacat yang nggak bisa meminum darah manusia itu," gumamnya dalam hati.


"Benar! Kita harus mengusir manusia itu dari sini. Jangan biarkan seorang manusia menguasai kerajaan kita," ujar Russel bersemangat.


"Apa kalian udah bertemu dengan Violetta Green? Aku nggak mau berpangku tangan sama Pangeran Raven. Dia nggak bisa ku percaya," sambungnya lagi.


Erlina Amethyst pada kedua temannya, Rose Fuchsia dan Amber Geranium. Mereka adalah bangsawan kelas tiga, yang bergelar Marchioness.


"Sudah, dia terlihat cantik tapi juga mata duitan. Suaminya adalah pegawai di perusahaan milik Alden," jawab Rose Fuchsia.


"Hmm? Baguslah. Itu artinya kita bisa menggali informasi dengan mudah. Kita tinggal menawarkan barang-barang mewah padanya," ucap Putri keluarga Amethyst itu dengan senang.


"Jadi sebenarnya dia itu keluarga Blue, atau keluarga Green?" tanya Novac yang masih penasaran dengan identitas asli Floretta.


"Kayaknya dia bukan dari keluarga Green, deh. Karena aroma darahnya sangat memuakkan. Ku rasa Alden sengaja melakukan itu, agar kita bisa menerima keberadaan Floretta di sini. Karena keluarga Blue itu adalah kalangan terhormat di dunia manusia" sela Daisy sok tahu.


"Sayangnya itu semua salah," celetuk Marchioness Amber Geranium. "Floretta adalah anak satu-satunya dari Zinnia Blue


dan Aldric Blue," ungkapnya.


"Apa? Ma-maksudmu kedua orang itu? Yang dulu bikin kehebohan di kerajaan kita?" seru Novac dan para vampir lainnya terkejut.


Amber dan Rose pun kompak mengangguk.


"Nggak mungkin. Darahnya kan ..."

__ADS_1


"Aroma darahnya sangat wangi. Berbeda saat awal dia datang ke sini," jelas Amber.


"Astaga! Kalau itu memang benar, kenapa Alden membawa perempuan itu ke istana ini? Apa dia sengaja ingin mengejek Pangeran Raven? Penciuman pria itu pasti nggak bisa ditipu, kan?" ujar Russel Krimson.


"Entahlah, aku nggak tahu. Aku malah lebih penasaran, apa yang akan terjadi sama perayaan hari ulang tahun raja besok," balas Amber.


"Ini menarik," gumam Erlina menyeringai kecil. "Apa kalian punya bukti, kalau dia memang keturunan dari dua manusia itu?" tanya Erlina.


"Kami punya salinan akte kelahiran yang asli, serta DNA mereka," jawab Rose sambil berbisik.


"Benarkah? Aku jadi penasaran, gimana reaksinya kalau tahu fakta mencengangkan ini," gumam Erlina lagi.


...🦇🦇🦇...


"Ini hadiah untukmu. Kerjamu hari ini sangat bagus," ujar Raven sambil membuka kancing kemejanya yang paling atas.


Floretta tersenyum kecil, ketika melihat Aeblekage atau Denmark Apple Cake yang dihidangkan oleh sang pangeran. Hidangan manis berbahan dasar apel ini, adalah salah satu makanan favorit mendiang ibunya.


Namun satu detik berikutnya, dia menatap Raven dengan ragu. Kedua bola matanya melirik tajam, ke arah kakak iparnya tersebut.


Floretta meringis salah tingkah. Satu sisi, perutnya terasa lapar sekali, karena belum mengisi perut sejak sarapan tadi pagi. Namun di sisi lainnya, dia juga takut terjebak oleh kebaikan Raven yang terlihat memggoda.


"Janji?" ulang Floretta.


"Ya, janji pada diriku sen.. Ah, maksudnya janji pada raja tengil itu."


Raven buru-buru memperbaiki kalimatnya, tapi Floretta sudah terlanjur menangkapnya.


"Ternyata benar, kan? Pangeran itu nggak sejahat yang dipikirkan orang," kata Floretta sambil tertawa kecil.


"Huh! Maksudmu apa, sih? Jelas-jelas aku ini vampir yang mengerikan," gumam Raven, seperti mengomeli Floretta. "Sudah ku bilang, kan? Jangan percaya pada siapa pun di kerajaan ini. Kamu terlalu mudah lalai," sambungnya.


"Hmm? Baiklah. Kalau gitu, gimana kalau kita membagi kue ini lalu makan bersama-sama?"


Floretta membagi dua cemilan manis dengan toping saus hazelnut itu, untuk diberikan pada sang pangeran.


"A-aku kurang suka makanan manis," tolak Raven dengan cepat.

__ADS_1


"Oh, ya? Gimana kalau cuma segini." Floretta memotong lagi kue apel itu, hingga menjadi satu per lima bagian. Cukup kecil untuk di makan sendirian.


"Tapi..."


"Ah, pangeran rupanya bisa bersikap manja seperti ini juga, ya?" goda Floretta sembari mengedipkan matanya.


Wanita itu mengambil secuil kue tersebut, lalu memasukkannya ke dalam gelas berisi alkohol. Tidak ada reaksi yang muncul dari kue maupun alkohol tersebut. Langkah terakhir, dia kemudian memasukkan sendok perak ke dalam gelas, lagi-lagi tidak terjadi apa pun di sana.


"Sudah kubilang, kan? Tidak ada racun di sana," gumam Raven sedikit kesal.


"Bukannya tadi pangeran sendiri yang bilang? Kalau aku nggak boleh percaya sama siapa pun di kerajaan ini. Lalu pangeran juga nggak mau makan kue bersamaku, apa aku nggak boleh curiga sedikit saja?" balas Floretta.


"Gawat! Dia terlalu menggemaskan. Sekarang aku mengerti, kenapa Alden memilih wanita ini," gumam Raven dalam hati.


"Pangeran? Apa kata-kataku tadi menyinggung perasaan pangeran?" tanya Floretta merasa bersalah, ketika melihat Raven terdiam cukup lama.


"Eh, nggak kok. Kau harus pertahankan sifatmu itu," kata Raven.


"Siap, Yang Mulia. Kalau gitu aku makan kuenya dulu, ya. Pangeran juga harus coba sepotong. Ini enak banget, lho," cerocos Floretta dengan ceriwis.


Floretta pun menggigit kue apel itu dengan giginya. Wanita bermata biru itu sangat menyukai teksturnya yang sangat lembut dan lezat saat dicicipi. Ah, matanya sangat berkaca-kaca, saat menikmati kue itu.


Sejak tadi semua gestur Floretta tidak luput dari perhatian Raven. Termasuk ketika bibir merah ranum wanita itu tersenyum, namun matanya yang biru tampak mengembun menahan haru. Pipinya yang chubby juga terlihat penuh oleh kue apel yang sedang dikunyahnya. Manis sekali.


Tanpa sadar, Raven pun ikut tersenyum bahagia. Dia merasakan kehangatan yang sudah lama nggak dia dapatkan. Seakan Floretta memiliki sihir yang mampu membuat orang bahagia.


"Nggak disangka, wanita mungil ini jago dalam perpajakan dan pembukuan uang. Padahal menyusun anggaran negara itu bukan masalah kecil. Aku nggak percaya dia cuma tamatan SMP," batin Raven sambil senyum-senyum sendiri.


"Astaga! Apa yang udah aku lakukan. Dia itu istri dari adikku." Raven menepuk pipinya, menyadarkan dirinya sendiri. Floretta sampai memandangnya dengan aneh.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Floretta dengan kedua pipi penuh.


"Oh, a-ada serangga tadi," kilah Raven. "Makanlah, jangan pedulikan aku," imbuhnya.


"Pangeran juga makan, dong. Kita kan kerja bersama-sama tadi," pinta Floretta.


Raven pun mengambil sepotong kecil Aeblekage, lalu mengunyahnya.

__ADS_1


"Sepertinya aku menemukan satu alasan lagi, kenapa Alden membawanya ke sini. Wanita ini terlalu baik untuk ditelantarkan. Maafkan aku, udah memisahkanmu dari ibumu, Flo," batin Raven dalam hati.


(Bersambung)


__ADS_2