Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 93. Benda Terkutuk


__ADS_3

"Sekarang kita sedang dalam masalah besar. Keadaan Alden sekarang ..."


Raven menjeda kalimatnya untuk mengambil napas. Tangan kanannya bergerak menekan sebuah tombol remote. Dinding putih di sebelah mereka bergerak, memperlihatkan ruangan yang lebih besar lagi.


Tapi bukan itu yang ingin ditunjukkan oleh Raven. Seorang pria yang tengah terbaring di sebuah tempat tidur, dengan luka memar dan perban di beberapa tubuhnya. Pria yang biasanya tampil gagah itu, kini tampak lemah memejamkan matanya dengan rapat.


"Tombak mainan yang kau lemparkan padanya memiliki batu bulan di ujungnya. Itu adalah senjata rahasia untuk membunuh kami para vampir." Raven melirik tajam ke arah sang putri. "Sekarang raja kita sedang dalam masa kritis," imbuh pria itu dengan lemah.


Floretta tidak bereaksi apa pun melihat pemandangan memilukan itu. Dia ragu untuk mempercayai para vampir itu.


"Serpihan seujung kuku saja bisa menewaskan satu desa, apalagi sebongkah batu bulan berukuran bola tenis yang kamu lemparkan itu. Kalau dia bukan keturunan Black, tubuhnya pasti sudah hancur berkeping-keping," ucap Raven dengan nada pilu.


Floretta memutar bola matanya ke arah jendela. Dia berusaha menghindari tatapan mata sang kakak ipar. "A-aku hanya berusaha menyelamatkan diri, karena dia berusaha melukaiku," ucapnya membela diri.


"Kamu salah paham, Flo. Dia bisa saja membunuhmu hanya dengan sebuah jentikan, sebelum kamu melemparkan tombak mainan itu padanya. Tapi melihat dari bekas kerusakan di dalam kamar, Alden hanya mengeluarkan sedikit kekuatannya," ujar Raven.


"Maaf menyela, Yang Mulia. Bukankah ini terlihat aneh? Kenapa tiba-tiba di kamar tombak dengan batu bulan?" celetuk Leon yang sehari-hari bertugas menjaga kamar raja dan sang putri.


"Aku juga sudah menyelidiki itu. Dan ternyata, beberapa jam yang lalu diam-diam ada pergantian pelayan. Ku rasa, para pelayan itu adalah orang-orang suruhan keluarga Amethyst. Hanya mereka yang bisa mengendalikan batu bulan, sebelum jadi senjata," jawab Raven.


"Jadi kita harus bagaimana, Yang Mulia?" tanya Leon lagi.


"Aku sudah menyampaikan kabar ini pada dewan penasehat istana. Ini sebenarnya bagai pisau bermata dua. Pihak oposisi yang melawan Alden, pasti bakalan memanfaatkan keadaan ini untuk merebut tahta," kata Raven dengan raut wajah sedih.


"Kekacauan apa yang telah aku perbuat di kerajaan ini? Apa benar, kalau Alden nggak membunuh kedua orang tuaku, dan malah aku yang hampir membunuhnya?" pikir Floretta.

__ADS_1


Tanpa disadari, keningnya membuat kerutan cukup dalam, dan ujung bibir melengkung ke bawah. Hati kecilnya merasa sangat bersalah, karena telah melukai orang yang telah membawanya keluar dari keluarga Green.


"Kenapa kita nggak mencoba untuk memberikan darahku pada Alden? Siapa tahu bisa membantu menyembuhkannya, seperti yang telah kulakukan untuk Lily," usul Floretta dengan lirih. Dia terpaksa membuka rahasia terbesarnya di depan Raven dan para pengawal, demi kesembuhan sang raja vampir.


"Flo, kasus Lily dan kasus Alden jauh berbeda." Raven tidak terkejut mendengar kalimat Floretta barusan. Artinya dia sudah tahu, apa yang terjadi pada Lily Ivory sang pelayan.


"Para dokter dan tabib istana saja bingung bagaimana menyembuhkannya. Selama berabad-abad, belum diketahui cara menyembuhkan luka akibat batu bulan. Keluarga besar ibuku juga meninggal karena benda terkutuk itu. Kecuali ..."


Raven mendadak menghentikan kalimatnya. Dia membuka kelopak matanya lebar-lebar, dan menatap Floretta dengan tajam. "Flo, kamu manusia berdarah murni, kan?" tanya pria bermata tajam itu.


"I-iya," Floretta mengakui identitasnya.


"Dan kamu masih suci?" tanya Raven lagi.


"Umm, i-ya mungkin," jawab Floretta dengan wajah memerah.


"A-apa maksud Pangeran?" tanya Floretta resah.


"Aku akan diskusikan hal ini pada dewan penasehat istana. Ku harap mereka punya jawabannya," ucap Raven seraya bangkit dari kursi.


"Tunggu, Pangeran! Apa maksudnya aku bukan manusia lagi?" seru Floretta.


Namun sang pangeran telah menghilang dari hadapannya, den meninggalkannya bersama empat orang pengawal.


...🦇🦇🦇...

__ADS_1


"Black sialan! Padahal sedikit lagi rencanaku berhasil. Tapi dia malah datang menggagalkannya. Padahal aku sudah berencana memberi hadiah sebuah mansion untuk Floretta di dunia manusia."


Edmund berjalan menuju ke ruang kerjanya sambik mengomel. Langkahnya yang begitu tegas, menggetarkan lantai di sekitarnya. Tupai-tupai dan para kelinci berlari menjauh, mendengar hentakan kaki pria berambut keperakan itu.


"Kenapa kita harus merahasiakan rencana ini dari Edmund?"


Suara Daisy yang terdengar nyaring, membuat langkah Edmund berhenti. "Rencana apa?" gumam Edmund pada dirinya sendiri. Dia pun menajamkan telinganya.


Pria yang memiliki wujud hewan berupa kelelawar itu memang memiliki pendengaran yang lebih tajam dari vampir lainnya.


"Sssttt! Kecilkan suaramu, Daisy. Jangan sampai orang luar mendengarnya," tegur Erlina.


"Benar, Daisy. Kita harus mengubah rencana. Kalau Edmund berhasil menumbangkan raja dan pangeran, maka dia yang akan dipilih rakyat menjadi raja. Padahal kita menginginkan Novac menjadi raja," ujar Russel.


"Apa-apaan mereka? Kenapa aku baru dengar rencana ini? Bukankah Erlina yang ingin menjadi ratu?" gumam Edmund geram.


"Untunglah, rencanamu kali ini berhasil. Batu bulan itu pasti sudah membunuh Alden. Kita tinggal menunggu kabar duka, lalu bergerak secepatnya menduduki kerajaan. Mau berapa lama lagi kita dikuasai oleh keluarga Black?" kata Novac dengan bangga.


"Batu bulan? Keluarga Amethyst masih menyimpan benda laknat itu?" geram Edmund.


"Haaah, kakak jangan lupa dengan janji kakak setelah naik tahta nanti. Padahal aku sudah mengorbankan cinta pertamaku demi kakak," kata Erlina.


"Huh? Bukannya kau mau melakukan ini karena balas dendam pada Alden, yang udah mencampakkanmu demi seorang manusia?" balas Novac.


"Ck, rupanya dia bisa menebaknya," umpat Erlina dalam hati. "Yaaah, pokoknya aku udah banyak berkorban. Padahal aku sangat ingin jadi ratu. Kakak jangan lupakan hal itu," kata Erlina lagi.

__ADS_1


"Bangsat! Mereka berkhianat rupanya," umpat Edmund. "Lihat saja, aku nggak akan tumbang begitu saja."


(Bersambung)


__ADS_2