Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 37. Mantan Tunangan Raja


__ADS_3

“Ini baru satu hadiah. Aku masih punya hadiah lain untukmu,” ujar Alden bersemangat.


“Masih ada lagi?” seru Floretta terkejut. Kucing putih dalam pelukan Floretta melompat turun, karena terkejut mendengar suara Floretta yang melengking tinggi.


“Iya, ini hadiahnya.” Alden menunjuk pada seorang wanita paruh yang memasuki ruangan.


“Bu Magenta? I-ini hadiah terbaik, Yang Mulia.”


Wajah Floretta tampak sumringah, melihat kedatangan pelayan senior itu. Meskipun dia tahu wanita itu adalah seorang vampir, namun kebaikan hatinya membuat Floretta kembali merasakan kasih sayang dari seorang ibu.


“Iya, Yang Mulia Putri. Tetapi sayangnya bukan aku hadiah yang dimaksud oleh Yang Mulia Raja, melainkan snack dan buah-buahan dari dunia manusia ini,” ujar Bu Magenta. Kedua tangannya menenteng beberapa plastik yang penuh dengan makanan.


“O-oh, begitu, ya?” gumam Floretta dengan wajah memerah karena malu.


“Aku tahu, kamu sering menahan lapar. Karena makanan di sini nggak cocok untukmu,” ujar Alden. “Kalau kurang, aku bisa meminta kepala dapur untuk memesan banyak makanan dari dunia manusia,” sambung pria itu.


“Terima kasih, Yang Mulia. Tetapi ku rasa itu sudah cukup untuk beberapa minggu ke depan,” jawab Floretta dengan nada lembut.


...🦇🦇🦇...


Floretta duduk termenung menghadap ke jendela. Selama musim dingin di sini, pemandangan yang dia lihat hanyalah hujan salju. Tetapi itu jauh lebih baik, daripada melihat tatapan para vampir, yang selalu berbisik menggosipkannya.


“Pillow? Dari mana asalmu? Apa kamu nggak sedih berpisah dengan orang tua dan saudara-saudaramu?” Floretta berbicara, sembari mengusap bulu halus dari hewan manja itu.


“Meaw.” Kucing bernama Pillow itu, hanya mengeong pelan, lalu kembali tidur di pangkuan Floretta.

__ADS_1


“Hmm, benar juga. Apalagi yang aku galau-kan? Alden begitu menyayangiku, meski dia sendiri diremehkan oleh para pelayan karena membawa manusia ke sini. Seharusnya itu sudah cukup, untuk membuatku bertahan di sini, kan?”


Floretta menghela napas panjang. Tidak mudah bagi seorang manusia, untuk tinggal di tengah kerajaan vampir seperti ini. Tetapi selama berada di sini, Alden selalu berusaha untuk membuatnya nyaman.


“Kalau aku menandatangani surat pembatalan pernikahan, lalu pergi dari sini, Alden pasti akan merasa sangat sedih. Padahal dia sudah mengorbankan banyak hal untuk menikahiku,” batin Floretta.


Langit semakin gelap. Musim dingin tanpa kehadiran matahari, semakin membuat istana vampir itu tampak kelam. Udara dingin yang menyelimuti seluruh kastil Ecarlatte, membuat suasana di sana begitu muram dan berkabut.


Kira-kira seperti apa ya keadaan di dunia manusia saat ini? Apakah tampak gelap dan suram seperti ini juga?


Growll! Perut ramping Floretta berbunyi minta diisi.


“Ah, benar juga. Sebentar lagi saatnya makan malam. Aku harus bersap-siap menemani Alden makan. Tapi sepertinya masih sempat untuk memasak sesuatu. Alden sangat menyukai kebab, kan?”


Floretta memindahkan kucing dalam pangkuannya ke atas kursi. Dia lalu sibuk mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas di kamarnya. Tangan kecilnya tampak lincah meramu bumbu, untuk membuat hidangan khas Turki tersebut. Dapur pribadinya yang mungil itu pun penuh bau makanan, yang membuat air liur mengalir deras.


Tak berhenti sampai di situ, Floretta kemudian mengguyur tubuhnya dengan air. Dia lalu memilih gaun terbaik untuk makan malam, lalu meminta Lily mendandaninya secantik mungkin.


Beberapa saat kemudian.


“Maaf Floretta, malam ini kamu terpaksa makan sendiri. Aku ada janji lain,” ujar Alden, ketika mereka berpapasan di lorong istana.


“Oh, janji lain?” Floretta sedikit kecewa. Padahal dia sudah membuat menu special untuk sang suami, dan berdandan sangat cantik.


Pria di hadapannya itu juga terlihat sangat rapi, dengan setelan jas lengkap, jam tangan mahal, dan wangi parfum yang lembut.

__ADS_1


“Iya, kita bertemu lagi besok pagi, ya,” ujar Alden seraya buru-buru pergi.


“Tunggu, Yang Mulia. Apa kamu akan menerima tamu? Apa aku harus ikut mendampingimu?” tanya Floretta. Sejak tinggal di kerajaan, Floretta belum pernah terlibat pada kegiatan istana.


“Tidak perlu. Kamu makan malam, lalu istirahat saja di kamar,” tolak Alden dengan tegas.


“Yang Mulia, Duchees Erlina telah sampai,” ucap salah seorang asisten pada sang raja vampir.


“Begitukah? Suruh dia tunggu sebentar. Aku akan segera ke sana,” jawab Alden.


“Pergi menemui mantan tunanganmu?” Floretta menarik ujung jas sang suami, untuk menahannya pergi menemui sang mantan.


Lelaki bermata biru itu melirik sekilas pada wanita cantik di sebelahnya. Nada cemburu yang begitu terdengar dari intonasi suaranya, membuat Alden sedikit gusar.


“Iya, menemui mantan tunanganku,” jawab Alden. Baru kali ini, dia melihat ekspresi tajam penuh rasa cemburu dari sang istri.


“Kalau begitu aku harus ikut, dong. Aku dan dia belum pernah ketemu, kan?” ucap Floretta sedikit memaksa.


“Sepertinya nggak bisa, Flo. Erlina pasti merasa nggak nyaman bertemu denganmu saat ini. Aku harus menjelaskan semuanya pada gadis itu.” Alden kembali menolak permintaan sang istri.


Floretta mendengus kesal.


“Kamu makanlah duluan. Nanti aku akan menemuimu, setelah Erlina pulang,” bujuk Alden lagi.


“Nggak usah! Aku udah ngantuk, jadi pasti akan tidur cepat,” tolak Floretta. Wanita itu lalu berbalik badan, dan meninggalkan Alden di lorong istana.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2