
"Ngiiiing!"
"Uh, kenapa kalung ini nengeluarkan alarm bahaya? Apa Marchioness Almond Sienna hendak membunuhku di sini?"
Floretta mundur beberapa langkah dari wanita bergaun merah maroon itu. Mudah saja bagi Floretta mencurigai vampir itu. Sebelum ke kamar, mereka melalui lorong-lorong panjang bagaikan labirin. Itu adalah tempat yang paling aman untuk melakukan kejahatan, karena secara tidak langsung, Floretta memasuki sarang penyamun.
Alden pun pasti tidak bisa berbuat banyak jika hal itu beneran terjadi, karena sebagian sembilan puluh sembilan persen penduduk kerajaan vampir menolak kehadiran Floretta, apalagi sampai menjadi ratu mereka.
"Yang Mulia? Anda kenapa? Pintunya ada di sini. Yang di sana itu kamar pelayan," ucap Almond Sienna dengan wajah bingung.
Bukan hanya Almond, Lily sang pelayan pribadi Floretta pun memandangi sang putri dengan wajah bingung. Mereka nggak bisa mendengar alarm itu. Alarm tersebut secara khusus dirancang oleh Alden, pada frekuensi gelombang suara yang hanya bisa didengar oleh manusia.
"Hm, aneh. Kok suara alarmnya melemah, waktu aku bergerak menjauhi Almond?" pikir Floretta bingung.
__ADS_1
Tetapi sesaat kemudian di pun sadar. Nggak mungkin seorang Marchioness membunuh dengan tangannya sendiri. Pasti dia menyuruh seseorang yang lebih berpengalaman.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Gimana kalau mereka membunuhku menggunakan sihir?" ucap Floretta dalam hati. Dia mencari-cari HP-nya untuk mengabari Alden. "Nggak ada sinyal? Kenapa di tengah kastil bisa nggak ada sinyal? Aaaarrrgh, menyebalkan! Kenapa aku harus menderita hari ini, sih?" umpat Floretta.
"Maaf, suasana kastil ini terlalu kelam, ya? Apa Yang Mulia ingin aku temani di sini?" ucap Almond menawarkan dirinya.
"Oh, nggak perlu. Aku maklum, kok. Lagian aku ingin mandi dan istirahat di kamar," ucap Floretta sambil mengukir senyum di wajahnya. Dia nggak mau terlalu memperhatikan rasa cemasnya pada para vampir itu.
"Baiklah. Nanti akan aku minta para pelayan menyiapkan air untuk mandi," kata Almond.
"Ahaha, maksudnya nggak perlu. Aku mandi pakai air biasa aja. Aku cuma mau cepat istirahat, karena terlalu capek di perjalanan," ucap Floretta memperjelas kalimatnya tadi. Telinganya terasa sakit, karena masih mendengar suara alarm yang cukup kuat.
"Baik, Yang Mulia. Kalau begitu kami permisi dulu. Selamat beristirahat," ujar Almond lalu membungkukkan tubuhnya sedikit, untuk memberi hormat pada Floretta.
__ADS_1
...🦇🦇🦇...
Bruk!
"Ah, akhirnya aku bisa sendirian juga."
Floretta merebahkan tubuhnya di kasur. Netranya yang biru langit, menatap langit-langit berwarna putih dengan corak hijau seperti di padang rumput. Ruangan berukuran empat kali lima meter itu cukup kecil, jika disebut sebagai kamar untuk raja dan ratu.
Perabotan di sini pada umumnya terbuat dari kayu dengan warna aslinya. Umurnya diperkirakan sudah lebih dari tiga ratus tahun, jika dilihat dari model dan jenis ukirannya. Selain itu tidak ada hal yang istimewa di sini. Tidak ada yang unik dan mewah untuk melayani seorang pemimpin nomor satu di negeri vampir itu.
"Apa benar ini kamar untuk raja? Jangan-jangan mereka menyembunyikan aku di sini, sebelum membunuhku." Baru saja hendak beristirahat, kepala Floretta kembali terasa berat memikirkan banyak hal.
"Tapi Alden pasti tahu kalau alarmku berbunyi, kan? Dia pasti nggak akan membiarkanku dibunuh oleh para vampir, kan?" Floretta semakin berpikir terlalu banyak. "Ah, entahlah. Untung sebelum pergi aku sempat meminta Lily membawakan benda itu untuk berjaga-jaga," gumamnya lagi.
__ADS_1
Bruak! Tiba-tiba kamar Floretta didobrak oleh orang tidak dikenal, lalu menodongkan anak panah padanya.
(Bersambung)