
"Apa maksudnya ini, Al? Jadi benar kamu dan Kak Raven membunuh kedua orang tuaku?" Floretta menyambut kedatangan Alden dengan sebuah omelan, dan memotong kalimat pria itu.
"Apa maksudmu?" Alden terkejut mendengar ucapan sang istri. Sebungkus makanan yang dia bawa untuk Floretta terjatuh ke lantai.
Ini! Semua sudah ada di sini! Ini catatan kriminal kalian, kan?" Wanita itu melemparkan buku hitam ke hadapan Alden. "Kalian membunuh kedua orang tuaku untuk mengambil darahnya, lalu dikembalikan lagi ke dunia manusia dalam bentuk mayat?"
Air mata Floretta mengucur deras. Dia nggak percaya, bahwa suami dan kakak iparnya telah berbuat keji terhadap kedua orang tuanya. Kedua putra bangsawan vampir itu telah membuatnya menjadi yatim piatu sejak kecil.
"Dari mana kamu dapatkan buku itu?" tanya Alden dengan alis bertaut serta bibir melengkung ke bawah.
"Entahlah! Yang jelas semuanya sudah tertulis di sini dengan jelas," sahut wanita itu dengan ketus.
"Flo, kamu salah paham. Kejadiannya gak seperti itu," ucap Alden mencoba menjelaskan duduk perkaranya.
"Terus maksudmu putusan hakim kerajaan yang tertulis di sini itu bohong, dan cuma prank? Kalian membuatku yatim piatu, dan percaya kalau kedua orang tuaku meninggal karena sakit," sindir Floretta nggak percaya. "Kamu pembohong dan aku mau kita cerai!" pinta Floretta setengah memaksa.
"Jangan seperti itu, Flo. Dengarkan aku dulu. Kalau aku membunuh kedua orang tuamu, untuk apa aku membawamu ke sini?" Alden menjulurkan tangannya, hendak nenggenggam tangan sang putri.
"Jangan sentuh aku!" Floretta menepis tangan Alden. "Kamu pasti membawaku dan memanjakanku di sini sebagai sapi potong, yang sewaktu-waktu bisa kamu bunuh dan diambil darahnya," ucap Floretta lagi.
"Kapan aku begitu? Aku sangat menyayangimu. Aku ..."
"Kau pikir aku bakal percaya lagi sama omonganmu? Ternyata semua yang dibilang oleh Erlina dan anggota dewan istana itu benar. Kau punya maksud tersembunyi denganku. Aku tunggu surat cerai darimu secepatnya!"
__ADS_1
Setelah puas meluapkan amarahnya, Floretta melangkahkan kaki menuju ke pintu kamar. Dia muak melihat vampir tampan yang berpura-pura baik itu.
"Nggak akan ku biarkan kau pergi dari sini!"
Suara Alden terdengar lebih berat dan menggelegar. Seberkas cahaya merah meluncur cepat, menutup pintu kamar.
"Kembali ke tempatmu, Floretta! Jangan membantah!" Bentak pria itu lagi.
Floretta sontak menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dia terkejut melihat bola mata Alden berwarna merah menyala. Kedua pasang taringnya begitu tajam dan warna kulitnya putih pucat. Floretta baru pertama kali melihat wujud suaminya mengerikan seperti itu.
"Nggak! Kalau tetap berada di sini aku bisa mati. Lebih baik mati terbunuh karena berusaha melarikan diri, daripada mati karena menjadi sapi perah mereka," pikir Floretta dalam hati.
Manusia itu lalu kembali memutar badannya dan berlari menuju pintu. Dia mengabaikan perintah Alden dan menyelamatkan diri.
"Uh!"
Floretta yang masih setengah sadar itu meringis kesakitan. Dia mengangkat kepalanya, dan melirik ke arah raja vampir yang berdiri sejauh sepuluh hasta darinya.
"Sudah ku bilang, kan? Jangan kabur dariku. Kau akan aman bersamaku di sini," ucap Alden dengan suara berat yang mengerikan.
"Inikah wujud aslimu, Yang Mulia? Ayo lawan aku! Aku pasti akan membuatmu mengeluarkan semua sifat aslimu."
Meski seluruh tubuhnya terasa sakit, wanita berusia dua puluh tahun tersebut tetap berusaha berdiri. Dia meraih sebuah tombak mainan yang terdapat di dinding dan menodongkannya ke arah sang raja vampir.
__ADS_1
"Floretta! Turunkan benda itu!" Teriak Alden hingga kaca dan benda-benda kristal di sekitar mereka retak.
"Nggak! Ini pembalasanku karena telah membunuh kedua orang tuaku! Aku nggak akan mati, sebelum rasa sakit hatiku terbayarkan."
Tanpa di sadari sang putri, tubuhnya mengeluarkan cahaya biru tipis. Alden Black terbelalak melihatnya.
"Bahaya! Kalau seperti ini aku bisa terluka parah!" gumamnya menelan ludah.
Mata Floretta menatap Alden dengan tajam. Rahangnya mengeras. Langkah kakinya yang tergas, berayun mendekati sang raja.
"Ruangan ini sudah diberi pengamanan berlapis. Jadi orang-orang di luar termasuk para penjaga, tak bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam sini."
Alden memutar otaknya, agar Floretta menyerah. Dia berusaha membujuk sang istri tanpa melukai wanita itu. Alden juga mengubah wujudnya menjadi seperti biasa. Namun wanita itu tetap tak gentar. Jarak antara mereka pun tinggal terpaut dua hasta.
Ya, cukup dekat memang. Alden pun mengangkat kedua tangannya dan mengeluarkan sihir.
Duarrr! Sihir tersebut mengenai tepat di ujung tombak, yang diacungkan ke depan oleh Floretta. Tanpa menunggu kesempatan dua kali, Floretta pun melemparkan tombak mainan itu ke arah sang suami dan mengenai bagian dadanya.
Brak! Alden terhempas ke belakang, hingga punggungnya menabrak dinding. Jas lengkap yang digunakan oleh pria itu pun tampak basah, oleh cairan berwarna hitam kental.
Floretta ternganga melihatnya. "Kenapa rfeknya sekuat itu? Padahal aku hanya melemparkan tombak mainan padanya. Apa ini karena sihir miliknya?"
Floretta mundur perlahan, sebelum akhirnya mengambil langkah seribu. Dia meninggalkan raja vampir itu dalam keadaan terluka.
__ADS_1
(Bersambung)