
"Kenapa perasaanku masih nggak enak, ya? Kayaknya bukan karena suasana di kastil ini, deh."
Floretta tak bisa duduk tenang di kamar itu. Dia merasa seperti diawasi seseorang dari segala penjuru. Entah itu benar, atau hanya perasaannya, tapi dia merasa sangat terganggu.
"Kalau dipikir-pikir lagi, bisa aja bukan Marchioness Almond Sienna yang berniat membunuhku. Bisa aja dia berkomplotan dengan Erlina dan para anggota Dewan Istana untuk membunuhku. Pangeran Raven bilang, jangan percaya pada siapa pun di sini, kan?" pikir Floretta semakin waspada.
Bola matanya yang berwarna biru laut, menelisik seisi ruangan dengan teliti. Tak terlihat keanehan atau kejanggalan dari ruangan berusia ratusan tahun tersebut. Meski demikian degup jantungnya semakin meningkat. Floretta pun hanya berani duduk di tepi tempat tidur dan memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik aja.
"Alden pasti tahu kalau alarmku berbunyi, kan? Dia pasti nggak akan membiarkanku dibunuh oleh para vampir, kan?" Floretta semakin berpikir terlalu banyak. "Ah, entahlah. Untung sebelum pergi aku sempat meminta Lily membawakan benda itu untuk berjaga-jaga," gumamnya lagi.
Tadi sebelum melihat-lihat pameran sains dan teknologi, Floretta diam-diam menyuntikkan suatu cairan berwarna biru pekat ke pergelangan tangannya. Cairan yang diberikan oleh Lily jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun bagi Floretta, cairan itu merupakan senjata ampuh untuk melawan para vampir.
__ADS_1
Ngiiing! Telinga Floretta sakit, karena mendengar alarm yang begitu kuat. Darahnya dipompa dua kali lebih cepat.
Bruak! Tiba-tiba kamar Floretta didobrak oleh orang tidak dikenal. Makhluk itu terlihat cukup tinggi sekitar dua meter, dengan topeng berbentuk beruang di wajahnya. Sosok itu lalu menodongkan anak panah padanya.
"Siapa dia? Gimana bisa dia bisa lolos memasuki kastil dengan penjagaan ketat seperti ini?"
Napas Floretta tertahan saat sosok itu perlahan melangkahkan kaki memasuki kamar. Floretta semakin percaya, jika seseorang sengaja membawanya ke dalam kastil untuk menyerang dan membunuhnya. Akam tetapi Sang Putri dari dunia manusia itu belum melakukan tindakan apa pun selain tetap waspada.
"Duh, nggak ada jalan lain untuk melewatinya. Satu-satunya jalan untuk keluar adalah pintu kamar itu," gumam Floretta bingung. Dia berharap Alden sudah menerima sinyal bahaya, dan segera mengirimkan bala bantuan.
Pats!
__ADS_1
Sebuah anak panah melayang dari busurnya, dan memecahkan anting kiri milik Floretta. Walau pun tubuhnya tidak terluka, Floretta tetap merasa shock. Tubuhnya mulai gemetar, sementara sosok itu kembali mengambil sebuah anak panah dari punggungnya.
Pats!
Anak panah kembali melayang ke arah Floretta. Kali ini mengincar bagian dada, tepatnya di bagian jantung. Floretta pun mengelak dengan cepat ke arah kanan. Namun ... Bruk! Floretta justru ambruk ke lantai karena terpeleset.
Rupanya sosok itu sengaja mengecoh Floretta. Anak panah pertama mengandung minyak, yang akan berserakan ketika menabrak suatu benda keras. Sayangnya Floretta tak menyadari hal itu.
Sang calon ratu tersebut tersungkur di lantai, dengan siku lecet. Dia berusaha untuk bangkit, ketika beberapa orang berpakaian prajurit serba hitam itu memasuki ruangan dan menyergapnya.
Dalam hitungan detik, kaki dan tangan Floretta telah diborgol. Urat nadinya ditusuk dengan sebuah jarum suntik berisi cairan bening. Tak lama kemudian kesadaran manusia itu pun hilang.
__ADS_1
"Bawa dia ke penjara bawah tanah," perintah salah seorang di antara mereka.
(Bersambung)