
"Iya, aku tahu kok dia wanita yang sangat berkelas. Jangankan menjadi menteri, menjadi ratu pun dia sangat cocok," balas Floretta lagi.
Alden menghentikan langkah kakinya, dan menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih.
"Aku tahu aku salah, karena telah menolak makan malam bersamamu. Padahal kamu udah memasak untukku. Aku minta maaf," gumam Alden lirih.
"Tetapi di sisi lain aku senang." Pria tampan bermata biru itu mengangkat wajahnya, lalu menatap Floretta sambil tersenyum kecil.
"Kenapa senang?" balas sang tuan putri seraya mengerutkan keningnya.
"Karena kamu cemburu pada Erlina. Itu artinya kamu mulai menaruh perasaanku padaku. Dan kamu juga bertahan di sini, memperjuangkan hak kamu sebagai calon ratu," balas Alden sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Floretta langsung berbalik badan, dan berjalan mendahului sang raja tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Huh! Bisa-bisanya dia bilang seperti itu! Siapa yang cemburu, sih?" bantah Floretta dengan suara lirih, dan pipi yang memerah.
Langkah kaki Floretta sedikit melambat, karena tak mendengar suara sepatu Alden di belakangnya. "Dia nggak mau ngejar aku?" pikir Floretta semakin kesal.
Sementara itu Alden yang masih berdiri di belakang Floretta, memegang kepalanya yang mendadak sakit. Pandangannya memudar dan napasnya terasa sesak.
"Leon, kepalaku pusing banget," gumam Alden sambil bersandar ke dinding.
"Aku sudah memanggil tim medis ke sini, Yang Mulia," ujar Leon sambil menatap layar HP-nya. "Apa Yang Mulia ada menghisap darah manusia lagi saat dinas ke luar negeri kemarin?" sambung pria itu dengan berbisik
"Ya mau gimana lagi, pertemuan itu kan sangat penting. Aku harus menjaga image kerajaan kita," jawab Alden lirih.
"Apa? Jadi Alden tetap meminum darah manusia walaupun dia nggak bisa?" batin Floretta sedikit tersulut emosi. Meski jarak mereka terpaut sekitar sepuluh meter, rupanya Floretta masoh bisa mendengar obrolan para vampir itu.
Bruk!
"Yang Mulia!"
Terdengar suara sesuatu ambruk ke lantai, lalu teriakan panik dari Leon Hazel. Floretta yang tadinya ingin mengabaikan kejadian itu, akhirnya berbalik badan dan berlari ke arah sang suami.
__ADS_1
...🦇🦇🦇...
Seberkas cahaya redup masuk dari kaca jendela. Hujan salju yang turun selama berhari-hari sudah berhenti, menyisakan lapisan putih bersih di permukaan tanah.
"Hmm? Udah pagi rupanya?" Floretta mengedipkan matanya yang terasa silau, lalu membalikkan badannya.
"Gyaaa...! Apa-apaan ini? " Floretta menjerit kuat, melihat Alden terbaring hanya dengan baju kaos tipis di sebelahnya.
"Kenapa panik gitu, sih? Kita kan udah nikah?" ujar Alden dengan santai. Raja vampir berwajah rupawan itu menyisir rambut hitamnya dengan jari.
"Ke-kenapa Yang Mulia ada di sini? Ke-keluar dari sini sekarang juga," Floretta menjerit dan mengusir sang suami untuk segera keluar. Wanita itu juga meletakkan kedua telapak tangannya di depan wajah.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu ada di sini? Ini kan kamarku," balas Alden dengan tenang. "Lagian ngapain kamu nutupin wajahmu kayak gitu? Aku kan masih pakai baju lengkap," sambungnya lagi.
Floretta melongo mendengar jawaban Alden. Dia memutar bola matanya ke seluruh sudut ruangan. Lalu menundukkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Sial! Karena waktu itu kami sempat bertukar kamar, aku jadi terbiasa dengan suasana di kamar ini," batin Floretta penuh penyesalan.
"Aku udah dengar apa yang kamu lakukan kemarin." Alden mendekatkan wajahnya ke hadapan Floretta, sehingga wanita itu bergeser ke tepi tempat tidur dan nyaris jatuh.
"So-soal apa?" Floretta mengingat-ingat, apa saja yang dilakukannya kemarin.
"Ja-jadi kamu sebenarnya udah bangun dari tadi? Tapi kenapa kamu masih ada di sini?"
"Iya, aku terbangun pukul empat subuh dan melihat kamu tidur nyenyak. Aku jadi ragu untuk membangunkanmu. Dan karena aku masih mengantuk, setelah minum obat aku pun tidur lagi," jawab Alden sambil tersenyum nakal.
"Huh! Dasar modus!" umpat Floretta mendengus kesal.
"Kok modus, sih? Kita kan udah resmi menikah. Kamu juga udah bertemu dengan para anggota dewan? Jadi nggak ada salahnya kan kita bobok bareng?" Alden melingkarkan tangannya ke tubuh sang istri, untuk mencegah wanita itu kabur.
"Yang Mulia, tolong jangan begini," bisik Floretta merasa canggung.
"Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu tanpa izin, kok. Aku cuma mau bilang, makasih banget ya karena kamu udah bertahan di sini menemaniku," kata Alden dengan wajah memesona.
"Duh, jantungku. Ayo kompromi, dong. Aku tahu dia jauh lebih tampan dari para aktor Korea, tetapi jangan terperdaya sama akal liciknya itu," batin Floretta seraya mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Melihat sang istri mulai merasa nggak nyaman, Alden pun menjaga jarak dan kembali duduk ke tempatnya semula.
"Saat kamu datang ke istana ini, aku pikir kamu bakalan menyerah. Apalagi kamu berkali-kali berusaha kabur dari sini," ucap Alden dengan wajah serius.
"Tapi kamu malah bertahan meskipun sudah dua kali diberikan kesempatan untuk pergi dari sini. Kamu juga bertahan dari semua omongan buruk semua orang di sini," sambung Alden.
"Jangan salah paham. Aku ini hanya seorang manusia yang punya nafsu duniawi. Aku nggak mau hidup terlantar dalam kemiskinan seperti dulu lagi. Di sini aku sudah terbiasa manja, karena semua kebutuhan disiapkan oleh pelayan," jawab Floretta.
"Apa benar itu alasanmu? Aku masih nggak yakin. Bukankah kamu diberi kompensasi cukup besar kalau menyerahkan posisi calon ratu pada orang lain?" tanya Alsen dengan menatap kedua mata sang istri.
"Harta itu bisa saja habis sewaktu-waktu. Tetapi posisi calon ratu ini justru sangat menjanjikan. Aku bisa hidup mewah tanpa khawatir akan kekurangan harta," jawab Floretta dengan yakin.
Alden tertawa kecil mendengar jawaban Floretta. "Kamu nggak berbakat untuk berbohong, Floretta. Jujurlah padaku, kenapa kamu bertahan di sini, walau pun tahu bakalan menderita selamanya?" desak pria tampan itu.
Floretta semakin menundukkan wajahnya. Raut wajahnya berubah menjadi sedih.
"Selama ini aku hidup dengan mengikuti perintah orang, agar bisa tetap makan dan punya tempat tinggal. Tetapi sejak Alden muncul, aku mulai merasa memiliki teman dan punya tujuan hidup sendiri."
"Meskipun awalnya aku merasa dibohongi dan masih belum mengerti kenapa Alden memilihku, tetapi aku ingin mencoba jalan ini tanpa kabur dari kenyataan. Aku ingin menjadi seorang istri yang baik."
"Floretta? Kenapa bengong? Gak perlu dijawab kalau kamu merasa keberatan." Alden mengguncang tubuh sang istri yang tiba-tiba diam membeku.
"Eh? Aku melamun?" Floretta rupanya nggak sadar, kalau tadi dia berbicara sendiri di dalam hati.
"Pokoknya apa pun alasanmu. Aku tetap berterima kasih, kamu masih ada di sini sekarang. Kalau kamu sewaktu-waktu berubah pikiran, aku nggak akan menghalangimu pergi," ujar Alden dengan nada lembut.
Pria itu lalu merengkuh tubuh mungil Floretta, ke dalam pelukannya. Berbeda dari biasanya, wanita muda berusia sembilan belas tahun itu membiarkan pria itu menyentuhnya.
"Oh iya, aku baru ingat. Sejak menikah kita belum pernah melakukan 'ITU' kan? Apa kita lakukan sekarang aja? Mumpung suasananya lagi mendukung," bisik Alden di telinga Floretta.
Saat itu di luar istana, butiran salju mulai turun. Udara pagi itu semakin terasa sejuk.
Kedua mata Floretta mendadak terbuka lebar. Tangannya reflek mendorong tubuh Alden menjauh darinya.
"Tidak! Aku belum siap! Siapa pun, tolong aku!" Floretta menjerit sekuat tenaga dan melawan Alden yang memaksanya berbaring di kasur.
__ADS_1
"Hei, percuma kamu teriak. Ruangan ini kan bisa dibuat kedap suara, dan terkunci otomatis dari dalam. Hanya sidik jariku yang bisa membukanya," ucap Alden sambil tersenyum jahil.
(Bersambung)