Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 90. Berikan Darahmu


__ADS_3

Floretta berlari dengan langkah lebar dan gusar. Beberapa penjaga sedikit menundukkan kepalanya dengan hormat pada sang putri, tanpa tahu apa yang terjadi pada raja dan calon ratu mereka.


"Ke mana? Aku harus sembunyi di mana? Sebentar lagi seluruh istana pasti tahu, kalau aku telah membunuh raja mereka."


Floretta menyesal telah berbuat gegabah. Dia tidak ada sedikit pun berniat untuk melukai raja vampir itu. Namun yang terjadi justru berbeda. Tombak mainan yang hanya sepanjang setengah hasta itu justru membuat Alden terluka parah.


"Kalau aku membunuhnya, lalu apa bedanya aku dengan kedua putra Black itu?" batin Floretta dalam hati.


Dia terus berlari di lorong istana yang sepi tanpa tujuan. Langkahnya menggema ke seluruh ruangan yang berlantaikan kristal putih itu. Tanpa sadar, manusia itu telah melintasi bangunan yang tak pernah dia kunjungi.


"Wow! Luar biasa! Aku baru pertama kali lihat darah sesempurna ini. Padahal dia sudah susah payah menyamarkannya dengan racun dan makanan basi. Sudah jelas ini milik kasta tertinggi para manusia, keluarga Blue."


Edmund tersenyum puas dengan hasil laboratorium dari sampel darah yang dia bawa dari ruang bawah tanah itu. Sejak awal dia sudah tahu, kalau Floretta benar-benar keluarga Blue. Tetapi dia berpura-pura setuju dengan Novac dan yang lainnya, agar bisa mengambil keuntungan sendiri.


"Hmmm ... Aku mencium aromanya semakin kuat dan jelas. Perutku juga lapar. Apa ini karena aku terlalu banyak meminum darah manusia rendahan, ya? Aku harus segera mendapatkan wanita itu."


Edmund pun merapikan laboratorium istana itu dari sisa-sisa pekerjaan rahasianya. Selain ketua dewan istana, Edmund juga seorang kepala laboratorium istana. Jadi dia bisa melakukan penelitian kapan saja dengan mudah.


"Emh, kenapa aroma wangi darahnya semakin kuat, ya? Apa aku menumpahkannya di sekitar sini? Bisa bahaya kalau ada yang menciumnya juga." Edmund lalu keluar dari laboratorium itu untuk mengecek tetesan darah di sekitar pintu.


Bruk!


Edmund jatuh tersungkur, karena ditabrak oleh seorang wanita yang berlari kencang dari arah kiri. Wanita itu pun terjatuh dan melukai sikunya.

__ADS_1


"Putri Floretta?"


Edmund mengernyitkan keningnya, saat melihat wajah wanita bergaun kuning pucat yang menabraknya tadi. Perempuan berambut panjang itu juga tampak tak mengenakan alas kaki.


"Sedang apa Anda di sini, Yang Mulia?" tanya Edmund lagi.


"Maaf, aku buru-buru," jawab Floretta tanpa menoleh. Floretta berusaha berdiri, dan melangkah pergi. "Gawat! Aku ketahuan sama bangsawan ini," batinnya panik.


"Buru-buru pergi tanpa alas kaki? Mau apa Yang Mulia pergi ke laboratorium patologi?" Edmund semakin tidak mengerti dengan sikap tuan putri tersebut.


"Laboratorium?" ulang Floretta.


Manusia itu memperlambat langkahnya. Dia baru sadar kalau telah berada di tempat yang asing dan jalan buntu. Hanya ada satu pintu lagi di depan sana, itu pun terlihat suram dan sepi.


"Sialan! Aku harus pergi ke mana? Kalau balik arah, harus melalui cecunguk itu."


"Apa tawaranmu untuk mengembalikanku ke dunia manusia masih berlaku?" tanya Floretta sambil menundukkan kepala.


"Huh? Aku nggak salah dengar?" ucap Edmund sambil tersenyum tipis.


"Aku serius, Edmund. Apa tawaranmu masih berlaku?" tanya Floretta setengah memaksa. "Aku pasti udah gila, meminta bantuan sama musuh," batin Floretta, memarahi dirinya sendiri.


"Sudah ku bilang aku nggak akan menawarkannya dua kali. Jadi itu udah ngak berlaku lagi," jawab Edmund dengan angkuh. Ujung bibirnya sedikit naik, melukiskan senyuman licik di wajahnya.

__ADS_1


"Ku mohon, kembalikan aku ke dunia manusia. Aku akan berikan yang kamu inginkan sebagai balasannya," pinta Floretta penuh harap.


"Kamu serius? Kalau aku meminta nyawamu?" tanya Edmund sambil melirik nakal.


"Apa? Nggak, lah. Apa pun selain nyawa dan kesucianku," jelas Floretta lagi.


"Kamu sudah menikah selama empat bulan dan masih suci?" ejek Edmund sambil tertawa terbahak-bahak.


"Itu bukan urusanmu, Edmund. Jawab saja dengan cepat, kau akan membantuku atau nggak?" desak Floretta. Dia merasa telah banyak membuang waktu di sini.


"Kenapa kau sampai meminta bantuan begini? Kutebak, kamu pasti udah tahu apa yang dilakukan Black bersaudara pada keluarga Blue di masa lalu, kan?"


"Ha? Y-ya ... Begitulah." Floretta memutar bola matanya.


Penyatannya memang gak salah, tapi juga nggak benar. Sekarang ini Floretta ingin cepat-cepat kabur dari sini, karena telah melukai atau mungkin membunuh raja vampir. Jika seluruh istana tahu, bisa-bisa dia dibakar hidup-hidup.


"Kalau begitu berikan darahmu padaku, Nona Blue. Aku akan mengantarmu pulang ke dunia secepatnya," ucap Edmund sambil tersenyum tipis.


"Darah?" Floretta membelalakkan matanya.


"Hu'um. Anggap saja kau donor darah padaku. Nggak banyak, kok. Aku cuma butuh 350cc. Tapi kalau nggak mau ya sudah. Kau cari saja ..."


"Aku mau!" jawab Floretta dengan cepat. Dia nggak mempedulikan keadaannya, yang baru saja memberikan darahnya untuk Lily.

__ADS_1


"Deal! Kalau gitu ayo masuk ke sini. Kita lakukan sesegera mungkin." Edmund mengajak Floretta memasuki laboratorium.


(Bersambung)


__ADS_2