Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 22. Aku Siap Jadi Tumbal


__ADS_3

“Apakah raja vampir ini berkata jujur, atau seorang aktor professional sampai tujuannya terpenuhi?” batin Floretta.


“Sudahlah, jangan berpikir yang terlalu berat. Aku akan membuatkanmu sup hangat untuk makan,” kata Alden sambil beranjak dari sisi sang istri, yang tengah berbaring di tempat tidur.


Spontan Floretta meraih tangan sang suami dan menggenggamnya dengan erat. “Kenapa kamu repot-repot memberikanku hadiah pernikahan, jika kita nantinya bercerai?” tanya Floretta dengan suara lantang.


“Lalu gimana dengan ucapanmu di depan semua orang, yang terlanjur mengatakan aku calon ratu di sini?” sambung Floretta lagi.


“Dari awal niatku menikah denganmu bukan untuk menyakitimu. Aku ingin memberikan kehidupan yang layak padamu, walau pun kita bercerai nanti,” jawab Alden dengan nada datar. Namun ujung alisnya terlihat sedikit turun, seperti menunjukkan ekspresi sedih.


“Lalu soal calon ratu, sekali lagi aku nggak bisa memaksamu untuk mengikuti kehendakku. Kamu boleh memilih jalan hidupmu sendiri. Dan jika kamu ingin kembali, aku akan menerimamu dengan senang hati,” sambung sang raja.


Floretta melepaskan genggaman tangannya secara perlahan. Dadanya berdesir mendengar kalimat sang suami. Hatinya yang semula merasa benci pada Alden, perlahan berubah menjadi rasa bersalah.


"Ah, kenapa aku polos banget, sih? Raja kan sudah memiliki tunangan. Jika aku pergi dari istana, udah pasti dia akan menikah dengan wanita itu."


Tanpa sadar Floretta kembali cemburu pada tunangan raja, yang belum pernah dilihatnya itu.


"Tapi meskipun kamu pergi dari sini, aku tetap nggak berniat menikahi tunangan yang dipilihkan oleh anggota dewan untukku," ucap Alden.


"Ohok!" Floretta mendadak tersedak mendengar kalimat sang raja barusan. "Apa dia bisa membaca isi pikiranku?" pikir Floretta penasaran.


"Tapi kalau aku boleh berharap, kamu tetap berada di sini mendampingiku," ucap Alden dengan lirih. Kedua matanya tampak sayu dan memelas.

__ADS_1


“Kenapa kamu begitu baik padaku, Al? Apa benar kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Floretta penasaran.


“Iya, kita pernah bertemu dan berteman baik. Kita pernah satu sekolah dulu,” jawab Alden.


“Satu sekolah? Mana mungkin! Seingatku nggak pernah punya teman ganteng kayak kamu di sekolah dulu,” bantah Floretta.


Seulas senyum terukir di wajah Alden. “Aku ganteng?” ucapnya sambil menahan tawa.


“Ah, itu …” Floretta mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ketika menyadari kalimatnya barusan. “Bukan itu fokusnya, Al. Tetapi aku beneran nggak punya teman bernama Alden Black,” sambung Floretta.


“Kamu adalah adik kelasku, yang selalu membantuku ketika dibully. Tetapi beberapa bulan kemudian kamu pindah sekolah. Aku yang bodoh ini terus mencarimu, tanpa tahu kamu telah berganti nama menjadi Floretta Green,” ungkap Alden.


“Eh? Benarkah? Memangnya siapa orang yang berani membully calon raja vampir ini?” ujar Floretta hampir tertawa mendengarnya. Tapi kemudian dia menahannya karena masih ingin bernapas sampai esok hari.


“Nggak, kok. Justru aku merasa prihatin pada orang yang udah membully-mu. Mereka pasti kena mental, jika tahu siapa yang mereka bully sebenarnya,” ujar Floretta tanpa bisa menyembunyikan rasa gelinya.


Aneh aja mendengar seorang raja vampir yang menakutkan itu pernah dibully.


“Aku juga berpikir gitu. Andai saja aku menemukan mereka, pasti sudah aku cabik-cabik tubuhnya,” ucap Alden dengan geram.


“Duh, itu terdengar kejam,” balas Floretta pura-pura takut.


“Ah, sudahlah. Jangan dipikirkan lagi. Aku hanya bercanda, kok. Sebaiknya kamu makan saja. Ini sudah hampir tengah malam. Aku akan ke dapur sebentar dan membuatkan sup untukmu,” ucap Alden.

__ADS_1


Grep! Floretta menarik ujung kemeja Alden untuk melarang pria itu pergi.


“Kamu rupanya hobi menarik kemeja dari belakang, ya?” ucap Alden. “Ada apa lagi? Kamu nggak mau makan sup? Ingin dimasakin apa?” tanya pria itu dengan wajah sangat manis.


Ini nih yang bikin Floretta sulit berpaling dari Alden. Sikap pria itu yang selalu memanjakan dirinya, dan wajahnya yang nyaris sempurna membuat Floretta merasa nyaman.


“Aku siap mati di tanganmu, Yang Mulia. Asalkan kamu memberikan persembahan terbaik untukku terakhir kalinya,” kata Floretta dengan suara gemetar.


“Persembahan? Apa maksudmu?” Alden membalikkan tubuhnya, lalu duduk di sebelah Floretta.


“Kamu udah memberiku kebahagian, dan merasakan kasih sayang walau hanya sesaat. Sebagai gantinya aku bersedia menjadi tumbalmu dan menyerahkan darahku untuk hari H nanti,” jelas wanita yang berstatus calon ratu tersebut.


“Aku masih nggak mengerti maksudmu, Floretta,” balas Alden dengan kening semakin berkerut.


“Bukankah kamu melarangku untuk keluar daan bertemu dengan siapa pun sampai hari H? Apalagi kalau bukan untuk dijadikan persembahan? Bukankah hari ulang tahunmu tinggal sebelas hari lagi? Dan saat itu istana akan membagikan darah manusia secara gratis, kan?”


“Jadi itu alasanmu melarikan diri dari istana?” tanya Alden. Floretta pun mengangguk.


“Maaf aku membuatmu salah paham, Flo. Tetapi aku nggak pernah ingin menjadikanmu tumbal,” kata Alden dengan nada sangat rendah.


“Terus kenapa? Apa yang kamu maksud dengan rencana besar di hari H tersebut?” Floretta mendesak Alden untuk buka suara.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2