
"Kak, apa-apaan ini? Kenapa Flo dijadikan pelayan? Alden menemui sang kakak dengan wajah memerah dan emosi yang meluap.
"Sudah kuduga. Kamu pasti datang ke sini untuk menemuiku."
Raven tersenyum sinis pada Alden. Pria itu tampak baru bangun dari tidur. Rambut hitamnya yang pekat masih terlihat acak-acakan. Baju kaos putih dan celana kain masih melekat di tubuhnya yang atletis.
Tangannya memegang sebuah gelas berisi darah yang kental dan beraroma kuat. Sepertinya itu darah kuda, atau mungkin darah lembu.
"Kak, jangan bercanda. Dia itu istri raja. Bagaimana mungkin dia menjadi seorang pelayan?" Alden semakin kesal, melihat Raven tak menanggapi ucapannya dengan serius.
"Aku nggak bercanda, kok. Dulu dia kan seorang pelayan. Jadi dia harus memulai dari sana, sebelum mengikuti ujian lainnya," jawab Raven setelah nenyesap darah di dalam gelas hingga habis.
"Jadi itu latihan yang kakak maksud?" Alden membuang napasnya dengan kasar. "Ini penghinaan namanya, kak," umpatnya.
"Penghinaan?" Raven tertawa kecil mendengar jawaban sang adik. "Apa kamu nggak pernah baca buku ujian calon ratu? Ini sudah sesuai dengan undang-undang yang berlaku," imbuh sang pangeran.
__ADS_1
"Undang-undang mana? Jangan mengada-ada," balas Alden tak percaya.
"Coba aja kamu buka undang-undang Kerajaan, pasal 356, ayat 3. Bagi para calon ratu yang bukan dari keluarga bangsawan, harus mengikuti pelatihan calon ratu sesuai dengan kelas sosialnya,"ucap Raven dengan sangat jelas.
Alden buru-buru membuka klausa pasal yang disebutkan sang kakak tadi. Kedua matanya membulat besar, tatkala membacanya. Semua yang dikatakan Raven memang benar, dan undang-undang tersebut telah disahkan oleh kakek mereka, seratus dua puluh tahun yang lalu.
"Tapi aku tetap nggak setuju. Floretta itu bukanlah dari kalangan bawah, apalagi pelayan." Alden tetap menolak tegas keputusan Raven.
"Kenapa? Karena Floretta berasal dari keluarga Blue? Kau pikir aku nggak tahu, kalau orang tua wanita itu bernama Zinnia Blue dan Aldric Blue?"
Suara Raven terdengar sangat rendah dan bernada datar. Tetapi terasa sangat mengintimidasi.
"Aku jadi penasaran, kenapa kau bawa putri keluarga Blue itu masuk ke dalam kerajaan kita? Bahkan kau mau menjadikannya seorang ratu. Apa kau mau membalas dendam padaku?" ucap Raven dengan wajah mengerikan.
"Ini bukan soal siapa keluarganya. Tetapi aku menentang keputusan kakak, yang sangat merendahkan posisiku sebagai raja." Alden akhirnya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Lalu kau mau apa? Membatalkan Floretta sebagai calon ratu?" tanya Raven dengan tatapan menusuk. Bahunya bergerak naik turun, seiring hembusan napasnya yang kasar.
"Aku ingin kakak membatalkan keputusan ini. Floretta nggak akan aku izinkan menjadi pelayan. Tarik lagi keputusan kakak itu dari website kerajaan," perintah Alden.
"Aku nggak bisa melakukannya. Keputusan ini udah disetujui oleh Dewan Penasehat Istana dan Anggota Dewan Kerajaan," jawab Raven.
"Sialan!" umpat Alden. Dia merasa sangat kecolongan dari para bangsawan lainnya. "Tapi tetap saja. Aku ini raja. Aku yang berhak mengatur sini. Keputusan tertinggi ada di tanganku," kata Alden terus bersikeras.
"Tapi aku kakaknya raja. Secara kekeluargaan, kedudukanku lebih tinggi darimu. Lagipula, aku bertindak berdasarkan hukum yang berlaku," balas Raven sambil menyeringai lebar.
"Uh!" Alden menghembuskan napas kesal beberapa kali.
"Sudahlah, ikuti saja. Toh, nggak ada ruginya untuk Floretta. Dengan cara itu, dia bisa lebih memahami seluk beluk istana," ucap Raven membujuk sang adik, yang juga seorang raja di kerajaan vampir ini.
"Kalau kamu menarik keputusan itu hanya demi melindungi seorang wanita, kamu bakalan ditertawakan oleh semua orang. Karena akan dianggap sebagai raja yang gak becus, dan menggunakan kekuasaan untuk keputusan pribadi," jelas putra pertama keluarga Black tersebut.
__ADS_1
"Sialan! Mereka menjebakku dengan cara ini rupanya," ujar Alden kesal.
(Bersambung)