
"Floretta!"
Alden berlari di koridor istana dengan wajah cemas. Para penghuni istana yang berpapasan dengannya, memandang dengan heran.
"Yang Mulia! Tunggu dulu!" Leon berlari mengikuti sang raja di belakangnya. "Aku tahu Yang Mulia khawatir dengan keadaan Putri Floretta. Tapi ..."
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Seorang wanita keluar mengintip dari pintu kamar, untuk melihat apa yang terjadi.
"Floretta! Kamu udah sadar?" Alden langsung memeluk sang istri dengan erat. Hatinya benar-benar merasa lega, karena wanita kesayangannya itu baik-baik saja. "Syukurlah kamu nggak kenapa-kenapa. Aku langsung ke sini walau cuaca cukup buruk," imbuhnya.
"Uh, sesak. Kalau gini bisa-bisa aku mati karenamu, Al," ucap Floretta yang berada dalam dekapan sang suami. Lehernya yang masih terdapat bekas gigitan, kembali merasa sakit.
"Ah, maaf." Alden langsung merenggangkan pelukannya dengan wajah memerah bak tomat masak.
"Haaah, aku bilang juga apa. Yang Mulia Putri Floretta baik-baik aja. Beliau udah bangun sebelum Yang Mulia datang," ucap Leon sambil tertawa geli, melihat tingkah sang raja vampir itu.
__ADS_1
"Leon! Mau aku kirim ke medan perang?" ancam Alden yang merasa malu. Dia sebenarnya tidak benar-benar marah, tapi hanya malu mengingat sikap kekanakannya tadi.
"Ehem! Tidak, Yang Mulia. Maafkan aku," jawab Leon sambil tersenyum geli.
"Syukurlah kau baik-baik aja. Kukira aku akan kehilangan dirimu tadi." Nada bicara Alden telah berubah kembali menjadi sedia kala.
"Mana mungkin aku mati. Umurku baru sembilan belas tahun. Belum punya anak cucu, dan belum sempat menemani orang yang aku sayangi," ucap Floretta lirih.
Alden membelalakkan matanya. Ujung bibir dan alisnya sedikit turun. Hatinya trenyuh mendengar kalimat sang istri. Kalimat sederhana itu, mampu menunjukkan perasaan Floretta sesungguhnya.
"Aku akan menemuinya. Biar dia nggak mengganggu dan melukaimu lagi," ujar Alden sambil membuat senyum di wajahnya.
"Uh, i-iya, sih. Tapi tetap aja. Ini udah keterlaluan," ujar Alden dengan nada kesal.
Floretta meminta para pengawal dan pelayan meninggalkan mereka berdua, dengan isyarat tangan.
"Pangeran Ravin mengajakku ke perpustakaan rahasia. Tempat favorit Yang Mulia Ratu Selene," kata Floretta setelah para pelayan pergi.
__ADS_1
"Perpustakaan rahasia? Tempat penyimpanan koleksi buku-buku tua?" tanya Alden tak percaya. Floretta mengangguk kuat.
"Melalui lorong sempit di bangunan tua?" Alden masih belum yakin.
Floretta mengangguk dengan yakin. "Melalui lorong tua dan menuruni beberapa anak tangga. Apa itu hal yang buruk? Atau baik?" tanya Floretta penasaran.
Alden tak lantas menjawab pertanyaan sang istri. Dia hanya tersenyum, lalu menarik selimut menutupi tubuh Floretta.
"Tidurlah, aku akan menemanimu," ucap Alden dengan lembut.
Floretta mendengus kesal, melihat Alden yang tidak terbuka padanya.
"Mana mungkin aku bisa tertidur, kalau kamu menatapku seperti itu?" protes Floretta, mentupi rasa kecewanya.
"Huh, ya sudah? Aku akan berbalik badan, sambil mengecek email," ujar Alden mengalah.
Floretta melirik ke arah Alden dengan kening berkerut. "Dia menghawatirkanku sampai kayak gini. Padahal dia pasti juga sibuk hari ini," gumam Floretta sedih. "Dia seperti ini, apa aku masih harus meragukannya?"
__ADS_1
"Apa aku beneran cuma pembuat masalah di sini?" ujar Floretta dalam hati.
(Bersambung)