
"Al, kita lagi butuh darah murni? Kenapa nggak pakai darahku aja? Aku pemilik darah murni, kan?" ucap Floretta ketika Alden selesai berbicara di telepon.
Alden membalikkan tubuhnya, dan menatap sang istri dengan nanar. "Darahmu? Aku udah susah payah menutup identitasmu selama ini, dan kamu mau membukanya dengan mudah? Mereka pasti akan tahu, aku mendapatkan darah itu dari mana."
Nada suara Alden terdengar marah. Dengus napasnya yang kasar terdengar dengan jelas. Sekali lagi, dia menatap sang istri dengan tajam. Berharap bahwa wanita itu akan segera mengalah.
"Dulu kamu bilang akan membuka identitasku kalau keadaan sudah aman, kan? Tapi sampai saat ini kerajaan kita nggak pernah aman. Secara perlahan identitasku juga pasti akan terbongkar. Ku rasa ini saat yang tepat untuk mengungkapkan identitasku sebenarnya."
Dugaan Alden salah. Wanita pemilik darah murni itu tetap berani melawannya.
"Kamu tahu resiko apa yang bakalan kamu hadapi, kalau membuka siapa dirimu sebenarnya?" tanya Alden sambil menyeringai tajam.
"Aku akan diburu semua vampir di sini, kan?" balas Floretta dengan tegas dan berani.
"Dan kamu masih mau mengorbankan dirimu hanya demi beberapa mililiter darah?" ucap Alden lagi.
"Jadi maksudmu aku harus mengalah, dan membiarkan Lily meninggal? Dia memang seorang pelayan, tapi nyawa-nya sama berharganya dengan kita," balas Floretta gak mau kalah.
"Flo, apa kamu tahu seberapa keras aku melindungimu sampai hari ini? Sekarang bahkan Kak Raven ikut membantuku."
Nada suara Alden mulai turun. Kedua alisnya bertaut dan ujungnya sedikit turun. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan sang istri.
"Lalu kamu akan mengorbankan Lily? Padahal nanti saat menjadi ratu, aku akan tetap membuka siapa diriku, kan? Jadi untuk apa lagi kita berbohong?" Floretta terus meyakinkan Alden, untuk menyelamatkan Lily.
"Kalau aku kehilangan dirimu gara-gara hal ini, aku akan menyesal seumur hidup. Aku pasti akan menyalahkan diriku terus menerus," kata Alden dengan wajah sayu.
Floretta mengangkat wajahnya, lalu menatap mata sang raja vampir dengan tajam. Aku udah bertemu dengan vampir paling kejam di kerajaan ini, kan?" bisik Floretta sambil menyentuh pipi Alden dengan jemari mungilnya.
"Maksudmu Kak Raven?" tanya Alden menebak-nebak.
__ADS_1
Floretta mengangguk. "Dan aku sampai sekarang masih bernapas, kan?" ucapnya sambil menyunggungkan senyuman kecil di wajahnya.
Alden menghela napas panjang. Tangannya mengacak rambut hitamnya yang lebat.
"Baiklah, kita gunakan darahmu untuk mengobati Lily. Tetapi aku nggak akan membuka identitasmu. Waktunya masih belum tepat," kata Alden beberapa saat kemudian.
"Beneran? Kamu nggak bohong, kan?" kata Floretta dengan mata berbinar. Wajahnya tersenyum senang.
"Iya. Semoga aja Lilac bisa dipercaya menjaga rahasia ini," kata Alden dengan ragu. Dia lalu mengambil HP-nya dan menelepon sang dokter.
"Lilac, batalkan rapatnya. Aku akan membawakan obat untuk Lily," ucap pria itu di telepon.
"Eh? Secepat itu? Dari mana Yang Mulia mendapatkan darah murni?" ucap Lilac heran.
"Nanti aku jelaskan. Jangan izinkan siapa pun memasuki lantai enam, termasuk petugas medis. Sekarang siapkan dulu peralatan untuk mengambil darah. Kita juga butuh proses pemurnian darah, untuk mensterilkan darah ini dari racun atropa belladona," jelas Alden.
"Eh? Yang Mulia mau membawakan obat untuk Lily, atau membawa racun?" Lilac bingung mendengarnya.
...🦇🦇🦇...
"Eh? Yang Mulia Putri?" Lilac ternganga melihat 'obat' yang dibawakan oleh sang raja.
"Iya. Makanya kalian berdua harus tutup mulut soal ini. Kalau berita ini tersebar, siap-siap aja hukuman yang akan menjemput kalian," ancam Alden, pada dokter Lilac dan seorang perawat yang membantunya.
"Tentu, Yang Mulia. Kami akan bekerja sebaik mungkin," jawab Lilac dengan menundukkan sedikit tubuhnya. "Kalau gitu, kami akan membawa Yang Mulia Putri ke ruang hematologi dulu," kata sang dokter.
Floretta hanya tersenyum tipis. Dia merasa tegang dan kaku. Ini pertama kalinya dia akan mendonorkan darah. Bahkan, di dunia manusia pun dia belum pernah melakukannya.
"Jangan takut, Yang Mulia. Ini mirip seperti transfusi darah seperti biasanya. Tapi sebelum itu, kita harus mengecek kondisi darah Yang Mulia dulu," ucap Lilac dengan lembut, seakan mengerti kekhawatiran Floretta. Dia lalu meminta sang putri untuk duduk di sebuah kursi roda.
__ADS_1
Alden menatap sang perawat yang mendorong kursi roda, hingga mereka menghilang di sebuah pintu. Alden memindai seluruh ruangan di lantai enam rumah sakit itu dengan kekuatannya. Dia nggak menemukan siapa pun di lantai itu selain mereka berempat.
Sebelum pergi ke rumah sakit, Alden juga meminta salah seorang petugas keamanan yang terpercaya untuk mengacaukan kinerja kamera pengawas, sehingga tidak dapat merekam aktivitas mereka di lantai tersebut.
"Semoga semuanya baik-baik aja," gumam Alden dalam hati.
Sementara itu di ruang hematologi, Lilac memeriksa keadaan darah Floretta di bawah sebuah mikroskop elektron. Ini sebenarnya pekerjaan seorang analis hematologi, tetapi dia terpaksa melakukannya sendirian, demi keamanan.
"Wah, luar biasa. Ini beneran darah murni? Bentuknya benar-benar sempurna. Saya baru pertama kali melihat darah yang sempurna seperti ini," gumam Lilac takjub, saat melihat bulir darah Floretta di balik kaca mikroskop.
"Padahal ini baru saja terkontaminasi dengan racun atropa belladona, tapi ternyata metabolismenya untuk memurnikan darah secara alami sangat cepat," celoteh Lilac.
Darah Rh-null yang di dunia manusia disebut dengan golden blood itu, tidak memiliki antigen layaknya golongan darah manusia pada umumnya. Hingga saat ini hasil riset para ahli menunjukkan, bahwa pemilik darah Rh-null ini hanya berjumlah sekitar empat puluh orang di seluruh dunia.
"Darah keluarga Blue memang terbukti luar biasa langka dan berharga. Padahal dua belas tahun lalu Pangeran Raven sudah mendapatkannya.Tapi karena ilegal ..." Lilac menghentikan kalimatnya di tengah-tengah. Dia terdengar menelan ludah, sambil mengambil sampel darah dari bawah mikroskop.
"Dua belas tahun lalu?" Floretta tersentak kaget dengan kalimat Lilac yang belum usai. "Apa yang terjadi pada keluarga Blue dua belas tahun lalu?"
Floretta mendesak Lilac untuk melanjutkan ceritanya. Sayangnya posisi Lilac saat ini sedang memunggungi Floretta, sehingga sang putri tak bisa melihat ekspresi wanita itu.
"Aaah, kita harus segera melakukan transfusi darah, Yang Mulia. Lily sedang menunggu kita saat ini," gumam dokter muda tersebut mengalihkan pembicaraan.
"Lilac ..." desak Floretta lagi.
"Saya akan memasang jarum, ya." Lilac memegang sebuah jarum berukuran cukup besar, dan menusuknya tepat di saluran vena.
Kening Floretta berkerut. Wanita itu lalu memejamkan matanya. Bukan sakit yang dia rasakan, melainkan rasa kantuk yang teramat berat.
"Apa ini? Kenapa aku ngantuk? Harusnya donor darah itu gak membuat kita tertidur, kan?" pikir Floretta bingung. Namun kelopak matanya kian berat. Perlahan dia pun terlelap sempurna.
__ADS_1
(Bersambung)