Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 46. Perintah Sang Pangeran


__ADS_3

Floretta tersenyum ceria, ketika memasuki perpustakaan kerajaan yang memiliki koleksi buku sangat lengkap. Dia selalu merasa energinya kembali penuh, ketika berada membaca buku.


Kelopak matanya terbuka lebar, melihat ratusan judul buku dari beragam genre. Kakinya melangkah perlahan di antara rak-rak buku yang berjejer rapi, dan mencari buku-buku novel romansa di bagian buku remaja. Dia bahkan tak terlihat lagi oleh payan pribadi yang menemaninya.


"Yang Mulia, rak-nya ada di paling belakang," ucap Lily mengingatkan, ketika menemukan keberadaan sang putri.


"Oh, iya. Aku ke sini bukan untuk bersenang-senang. Aku harus mencari beberapa literatur tentang ujian calon ratu." Floretta menepuk jidatnya sendiri. Dia menyesali sifatnya yang mudah sekali terbuai, oleh buku-buku yang seakan diminta untuk dibaca.


Wanita mungil itu langsung berlari di antara rak buku menuju ruangan paling belakang, untuk mencari buku-buku yang dia perlukan.


"Ngapain lagi kamu ke sini?" Suara bentakan dari belakang rak buku, membuat Floretta mengangkat kepalanya.


"Ah, di antara vampir sebanyak itu, kenapa harus bertemu sama dia, sih?" gumam Floretta bergidik ngeri.


Bulu kuduk Floretta semakin berdiri, kala melihat tatapan tajam dari pria itu, seperti seekor harimau lapar yang hendak menerkamnya.


"Selamat pagi, Yang Mulia," ucap Floretta menyapa sang pangeran, untuk mencairkan suasana.


"Aku nggak perlu ucapan salam darimu!" jawab Raven dengan ketus. "Jawab saja pertanyaanku, kenapa kamu masih ada di sini?" sambung pria itu dengan penuh penekanan.


"A-aku mencari buku-buku tentang calon ratu, Yang Mulia," ujar Floretta dengan gugup dan terbata-bata.

__ADS_1


"Haaah, rupanya kau ini bodoh sekali, ya," ujar Raven sambil menghela napas panjang. Dia lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding, dengan sebelah tangan menumpu ke rak buku.


"Aku tahu kamu ke sini untuk mencari buku tentang ujian calon ratu. Tapi yang aku tanyakan, kenapa kamu masih ada di kerajaan ini? Bukankah anggota dewan istana sudah mengusirmu?" kata Raven dengan suara agak tinggi.


"Aku kan sudah bilang? Aku akan tetap di sini, mendampingi Alden memimpin negeri ini," balas Floretta dengan sewot.


"Hah? Kau yakin bisa tahan tinggal di sini? Erlina sudah pulang, posisimu sebentar lagi akan digantikan oleh wanita itu. Mulai dari hal kecil seperti makan malam," ucap Raven sambil menyeringai lebar.


"Uh, sebel! Kenapa omongannya bener, sih? Hal itu udah dilakuin sama Alden tadi malam," batin Floretta.


"Lalu beberapa hari lagi adalah ulang tahun raja. Ada momen sakral di mana para vampir akan bersama-sama meminum darah manusia. Apa kamu sanggup melihatnya?" tanya Raven lagi.


Floretta semakin terbungkam. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua yang dikatakan kakak iparnya tersebut memang benar.


"Kalau sampai mereka tahu tentang dirimu, apalagi melahirkan anak yang setengah vampir, bisa dipastikan kerajaan ini akan menjadi incaran negara lain," sambung pria itu.


"Ah, jadi itu alasannya? Artinya keberadaanku di sini hanya membahayakan kerajaan ini?" Floretta mulai


"Sekarang kau sudah paham, kan? Kenapa aku menolak keras keberadaanmu di sini? Makanya jangan egois," kata Raven tanpa gurat senyum di wajahnya yang tampan.


"Maafkan aku, nggak pernah berpikir sampai ke sana," gumam Floretta lirih.

__ADS_1


"Sekarang aku lagi malas marah-marah padamu. Jadi kuberikan kamu waktu untuk berpikir dan pergi dari sini secepatnya," perintah Raven dengan tegas.


Floretta mengangkat kepalanya. "Gimana caranya aku pergi dari sini? Aku udah dua kali menolak kesempatan, untuk keluar dari kerajaan ini secara baik-baik," batin wanita itu sambil menatap wajah kakak iparnya penuh harap.


Raven mengalihkan pandangannya dari Floretta. Entah apa isi pikirannya saat ini, tetapi dia terlihat dengan jelas menghindari adik iparnya tersebut.


"Tapi sebelumnya aku mau tanya, apa kamu mengenal Zinnia Blue dan Aldric Blue?" tanya Raven.


Kali ini suaranya terdengar sangat lembut. Berbanding terbalik dengan sikapnya saat ini. Bahkan Floretta lun terkejut mendengarnya. Sang calon ratu itu juga tak menyangka, akan mendengar dua nama itu dari bibir sang pangeran.


"Jangan mengelak dariku, Floretta. Ayo jawab, kamu mengenal mereka berdua atau tidak? Atau jangan-jangan kamu adalah bagian dari keluarga mereka?" desak Raven.


Floretta berusaha mengendalikan degup jantungnya yang tidak karuan, lalu menjawab pertanyaan sang kakak ipar.


"A-aku nggak mengenalnya. Memangnya mereka siapa?" ujar Floretta se-natural mungkin.


"Yakin kamu nggak nengenal mereka? Bukankah nama belakangmu sama dengan mereka?" Raven semakin merendahkan suaranya. Namun tatapannya semakin menusuk.


"Ya, aku nggak kenal mereka. Bahkan belum pernah mendengar namanya," ujar Floretta dengan nada datar dan napas sedikit tertahan.


"Hhmmm, apa kecurigaanku itu salah, ya? Tapi aroma wanita ini ddngan kedua orang tadi memang jauh berbeda, sih," gumam Raven dalam hati.

__ADS_1


"A-aku permisi dulu, pangeran." Floretta buru-buru pergi dari sana, saat Raven tenggelam dalam pikirannya.


(Bersambung)


__ADS_2