Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 85. Misteri Darah Floretta


__ADS_3

"Ada kabar buruk dari Provinsi Barat Daya. Lily Ivory sang pelayan Yang Mulia Putri ..." Pelayan itu menghentikan kalimatnya di tengah-tengah.


"Dia kenapa? Lily baik-baik aja, kan?" Floretta berseru dan berlari mendekati pintu.


"Lily sedang kritis. Racun di dalam tubuhnya udah menyebar hingga ke jantung dan hati. Saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju ke ibukota," kata sang pelayan memberikan kabar.


"Astaga! Kurang ajae sekali mereka. Ini pasti ulah para anggota dewan istana itu kan?" Hati Floretta trenyuh mendengar kabar itu. Meski hanya seorang pelayan, Lily sudah dianggap sebagai sahabatnya sendiri.


"Sayang, tenanglah. Jangan panik dulu. Pikirkan juga kesehatanmu yang belim pulih," kata Alden mengusap punggung sang istri biar lebih tenang.


"Sayang, dia masih bisa diselamatkan, kan?" ucap Floretta penuh harap.


"Aku akan memerintahkan dokter terbaik kerajaan untuk merawatnya. Semoga dia baik-baik aja," kata Alden menenangkan sang istri. "Tapi kamu jangan keluar dulu sampai keadaan aman," ucap pria itu mengingatkan.


"Aku mengerti," jawab wanita itu dengan patuh.


"Dan kamu juga. Kalau sampai ada orang lain yang tahu sang putri ada di sini, maka tubuhmu akan berakhir sebagai makanan para serigala di hutan deadwood," ancam Alden pada sang pelayan.


"Ba-baik, Yang M-mulia," jawab sang pelayan dengan gugup.


"Flo, kamu harusnya berhati-hati. Jangan langsung lari dan menemui seseorang begitu saja. Apa kamu lupa kalau beberapa jam yang lalu kamu hampir terbunuh?" Alden mengomeli sang istri.


"Iya. Maafkan aku. Darahku langung naik, saat mendengar nama Lily," ucap Floretta menyesal.


"Flo, meskipun Lily itu hanya seorang pelayan, tapi nyawa-nya sama berharganya dengan para bangsawan. Aku nggak akan mengabaikannya gitu aja," kata Alden.


"Syukurlah kalau begitu. Pantas saja Yang Mulia Raja dan Ratu memilihmu untuk memimpin negeri ini," balas Floretta, merasa bangga pada suaminya.

__ADS_1


"Jadi menurutmu aku nggak pantas jadi raja?"


Sebuah suara muncul dari sisi jendela, bersamaan dengan kepulan asap hitam yang berubah menjadi sosok pria bertaring. Bajunya serba hitam, dengan mata merah menyala. Ini adalah sosok Raven ketika bertemu Floretta pertama kali.


"Kakak? Kok bisa ada di sini?" seru Alden terkejut.


"Jangan buang pelayan tadi ke hutan deadwood. Aku datang ke sini karena mencium bau busuk darah Floretta. Apalagi dengan sihir pelindung yang sangat lemah ini?" cibir Raven.


"Hah? Lemah? Aku membuat sihir ini dengan sekuat tenaga," protes Alden tak terima dihina seperti itu.


"Ya tapi kenyataannya memang gitu. Penyihir level satu pun pasti bisa menembusnya," balas Raven. "Flo, apa kamu baru aja minum racun? Bau darahmu nggak enak banget," ucap Raven dengan tatapan begitu tajam.


Floretta mengalihkan bola matanya ke arah lain. Ini kali pertama dia bertemu lagi dengan sang pangeran, setelah dia berhenti jadi pelayan pribadi Pangeran Raven.


"Nggak, kok. Aku nggak minum racun, cuma menyuntikkan sedikit aja," kata Floretta.


"Nah, itulah makanya aku datang ke sini. Aku nggak menyalahkan istrimu."


Raven berjalan ke sisi jendela dan melihat ke arah luar. Suasana di halaman istana tampak tenang seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan.


"Tapi kita harus waspada, para anggota dewan istana sudah mulai memasuki istana dan mengganti para pelayan diam-diam. Kalau kita lengah, mereka bisa menumbangkan kita kapan aja," ucap Raven beberapa saat kemudian.


...🦇🦇🦇...


"Keparat!"


Erlina mengumpat pelan. Gelas di tangannya pecah berkeping-keping.

__ADS_1


"Ada apa?" Novac terkejut mendengar sang adik yang biasa lemah lembut itu mengumpat. Sontak dia menoleh ke samping, dan meletakkan pena yang sedang dipegangnya.


"Seseorang berhasil menembus lingkaran sihir yang aku buat. Gak mungkin Alden Black menembusnya. Dia adalah vampir dengan sihir lemah," kata Erlina dengan geram. "Siapa yang melakukannya? Nggak mungkin Pangeran Raven, kan? Atau ada yang berkhianat di antara kita?"


"Berkhianat? Kenapa kamu berpikir kayak gitu?" tanya Novac.


"Karena hanya kita yang tahu, di mana manusia lemah itu disembunyikan. Aku juga merasa, seseorang telah menutup luka di tangannya diam-diam," kata Erlina lagi.


"Kau terlalu banyak menebak-nebak, Erlina. Dugaanmu tentang latar belakang keluarga itu juga salah, kan? Lebih baik kau melihat langsung ke sana," sergah Novac pada sang adik.


"Ck," Erlina berdecak kesal, karena sang kakak kembali mengungkit masalah itu. "Aku memiliki bukti yang lengkap, Kak," balas Erlina dengan nada tinggi.


"Haaah, terus kenapa aroma dan rasa darahnya seperti manusia kelas bawah? Bahkan keluarga Green sekali pun kalau diberi makanan berkualitas tinggi, tidak akan merubah rasa darahnya," ucap Novac mengungkapkan pendapatnya.


"Nah! Itu dia maksudku. Dulu waktu kita melakukan rapat dengannya, kita semua bisa mencium aroma darah murni darinya, kan?" balas Erlina dengan lantang.


"Ah, benar juga. Apa dia sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu, jadi rasa darahnya berubah lagi? Atau ..."


"Racun bunga Atropa belladona!"


Novac Amethyst dan Erlina Amethyst kompak berseru. Mereka lalu saling bertukar pandang dan berbicara dengan bahasa mata. Satu misteri telah terpecahkan.


"Apa kau masih menyimpan sampel darah wanita itu?" tanya Novac.


"Sepertinya masih ada di dalam botol kaca. Ah, aku harus cepat membawanya ke lab," kata Erlina. "Sekalian deh, aku mengecek keadaan penjara bawah tanah itu," gumamnya lagi.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2