Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 36. Membunuhmu (2)


__ADS_3

Raven menunjukkan taringnya yang tajam dan panjang. Kedua bola matanya yang indah, berubah menjadi merah menyala. Jemarinya mengeluarkan kuku panjang yang sangat mengerikan.


"Bukankah sudah ku bilang? Jangan dekat-dekat denganku lagi kalau masih ingin hidup? Ini kesempatan bagus untuk melenyapanmu, selagi Alden lagi dinas ke luar negeri."


Pria mendekatkan wajahnya ke arah Floretta. Giginya yang tajam, hampir saja menyentuh leher je jang milik wanita itu. Floretta mundur beberapa langkah, hingga dia terdesak ke tepi dinding di sudut ruangan.


Raven mencengkeram leher Floretta dengan jari kukunya, hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas dan meminta pertolongan.


"Kamu nggak akan bisa lari lagi dariku. Apa kau tahu? Perpustakaan ini daerah eksklusif, jadi hanya beberapa orang yang bebas keluar masuk di sini. Nggak akan ada yang dengar, sekali pun kamu meminta pertolongan.


"Sepertinya Anda sudah terlalu dekat dengan Putri Floretta, Yang Mulia. Lihatlah, Yang Mulia Putri Floretta terlihat sangat pucat karena ketakutan."


Suara seorang pria di belakang mereka, sukses membuat Raven melonggarkan cengkeraman tangannya di leher sang adik ipar.


"Hah, kau mengganggu saja. Padahal aku lagi asik menggoda manusia ini," gerutu Raven. Ggi taring dan kukunya yang tajam sudah tidak terlihat lagi.


"Huh? Jadi tadi dia bercanda, atau beneran mau membunuhku?" gumam Floretta dalam hati. Lututnya masih terasa sangat lemas, sementara detak jantungnya beramgsur normal.


"Ini sweaternya, Yang Mulia. Maaf aku datang terlambat," ucap Lily, sambil memberikan sweater berwarna cokelat muda pada Floretta.

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Tolong kembalikan bukunya, kalau udah selesai baca." Raven meninggalkan Floretta yang masih menggigil ketakutan di sudut ruangan.


...🦇🦇🦇...


Beberapa hari kemudian.


"Sayang, aku pulang." Alden menemui Floretta yang sedang bersantai di perpustakaan pribadinya.


"Yang Mulia," sahut Floretta.


Dia lalu menutup buku yang sedang dia baca, dan berjalan mendekati suaminya. Dia lalu menundukkan sedikit tubuhnya di hadapan sang suami, untuk memberi salam.


"Kamu pasti kesepian, kan? Ini, aku bawakan sesuatu untukmu," ujar Alden sambil tersenyum penuh rahasia.


Floretta mengerutkan keningnya. Dia tidak bisa menebak-nebak, hadiah yang dibawakan oleh sang suami. Apakah itu buku? Atau bahan makanan untuk dia masak sendiri?


"Ya. Tetapi sebagai imbalannya, kamu harus peluk aku dulu, dong. Masa suaminya pulang, kamu cuek aja," pinta Alden.


"Hah? Nggak jadi, ah. Mendingan aku nggak usah dapat hadiah," ujar Floretta menolak dengan tegas permintaan Alden.

__ADS_1


"Ih, kok gitu? Kenapa kamu masih belum mau bersentuhan denganku? Bukannya kamu udah bertemu dengan para anggota dewan secara resmi? Kita ini udah suami istri, lho." ucap Alden.


"Benar juga. Kami udah resmi menikah hampir sebulan. Tapi aku masih takut untuk disentuh. Gimana mau menjadi ratu, kalau disentuh suami aja aku masih takut?" pikir Floretta.


Wanita itu masih belum bercerita, tentang surat pembatalan pernikahan yang diberikan oleh para anggota dewan.


"Huh, ya udah deh kalau nggak mau. Aku nggak akan memaksa. Tetapi hadiahnya tetap untuk kamu, kok," ucap Alden.


Bersamaan dengan itu seorang pelayan memasuki ruangan, sembari menggendong sesuatu.


"Kucing?" gumam Floretta. Dia ragu bahwa hadiahnya adalah makhluk berbulu putih dan halus itu.


"Iya. Aku tahu kamu pecinta hewan. Jadi aku berpikir untuk mengadopsi seekor kucing untuk temanmu di sini agar nggak bosan. Semoga kamu suka."


"Terima kasih, Yang Mulia. Aku suka sekali."


Floretta kembali menundukkan tubuhnya dan menngangkat sedikit gaunnya untuk berterima kasih. Dia lalu menyambut kucing putih tersebut dengan wajah gembira.


"Ini baru satu hadiah. Aku masih punya banyak hadiah lagi untukmu," seru Alden bersemangat.

__ADS_1


"Masih ada lagi?" seru Floretta terkejut.


(Bersambung)


__ADS_2