Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 72. Akal Licik Erlina


__ADS_3

"Floretta mampu bertahan, karena darahnya yang istimewa. Aku juga curiga, ada seseorang yang memiliki sihir tingkat tinggi membantunya sembuh lebih cepat," jawab Erlina dengan gigi gemeretak.


"Maksudmu? Siapa yang mau membantu menyembuhkan manusia itu? Aku yakin semua orang di kerajaan ini ingin dia mati," tanya Daisy Krimson.


"Tentu saja bangsawan tertinggi setelah royal family, yaitu Jasmine Blanche."


"Ah, benar juga. Jasmine Blanche, wanita tua yang memilih pergi dari istana," gumam Novac.


"Dasar keparat! Kalau dia nggak datang menyembuhkan wanita itu, Floretta tidak akan mampu bertahan dengan racun di dalam tubuhnya itu," umpat Edmund. Kedua tangannya menggebrak meja untuk melampiaskan emosinya.


"Kenapa dia masih mencampuri urusan kerajaan? Bukankah dia sudah nggak mau lagi terlibat dengan urusan politik di kerajaan ini? Dia bahkan sudah mengganti namanya menjadi Jasmine White, kan?" tanya Russel.


"Aku juga nggak tahu. Tapi kemungkinan besar, dia nggak mau dinasti keluarga Black tersisihkan dari kerajaan ini," ucap Erlina.


"Lalu kenapa juga pangeran dingin itu tak melakukan apa pun untuk mencegahnya? Apakah dia mulai menyukai manusia?" tanya Rose Fuchsia.


"Mana mungkin. Raven itu sangat membenci manusia. Gara-gara manusia itulah gelar putra mahkotanya dicopot," balas Russel.


"Apa rencanamu selanjutnya, Erlina?" tanya Novac pada adiknya tersebut.


"Kalau dia nggak bisa diracun, artinya kita harus memanfaatkan darahnya yang spesial itu. Tapi itu nanti, setelah mereka mulai lengah dan merasa nyaman," kata Erlina sambil tersenyum sinis.


...🦇🦇🦇...


"Aku ingin menemui pangeran."


"Maaf, Duke Edmund. Yang Mulia Pangeran Raven saat ini sedang tidak ingin diganggu," kata salah seorang pengawal yang sedang berjaga.


"Kau nggak dengar perintahku? Aku ingin menemui pangeran," bentak Edmund.


"Tapi, Duke. Yang Mulia Pangeran Raven sedang tidak mau menerima siapa pun saat ini." Pengawal itu tetap melarang Edmund untuk menemui Raven.


"Ah, sialan! Bikin aku emosi saja," gerutu Edmund gak sabaran. "Keluarlah Pangeran Raven! Kita harus bicara!" teriak Edmund dari depan pintu.


"Jangan begini, Duke. Seisi lorong bisa mendengarnya nanti. Ku mohon tinggalkan tenpat ini, sebelum Yang Mulia Pangeran Raven marah," pinta pengawal itu.


"Aku nggak peduli! Dia harus bicara denganku sekarang!" teriak Edmund dengan lantang.

__ADS_1


"Hei, kecilkan suaramu! Meskipun waktu kecil dulu kita pernah bermain bersama, tapi kedudukanku tetap lebih tinggi darimu." Raven mendadak muncul di balik pintu, mengejutkan Edmund dan sang pengawal.


"Kalau gitu biarkan aku masuk," pinta Edmund.


Raven lalu membuka pintu lebih lebar lagi, dan meminta pengawal untuk meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang mau kau bicarakan, Edmund?" tanya Raven sambil melengos kesal. Kelihatan banget dia terpaksa menerima tamu di malam ini.


"Dasar keparat! Ini semua gara-gara kamu! Manusia itu nggak akan sembuh, kalau kamu melarang Putri Jasmine untuk datang ke sini." Edmund menumpahkan uneg-unegnya.


"Oh, jadi itu masalahnya?" Raven menyilangkan kakinya, dan menaikkan dagunya dengan angkuh. "Tapi kamu salah, tuh. Bibiku nggak ada datang ke sini, tuh," sambungnya lagi.


"Eh? Apa? Itu nggak mungkin," kata Edmund.


"Kalau nggak percaya silakan periksa sendiri lalu lintas penerbangan. Kamu nggak akan menemukan nama Jasmine White atau Jasmine Blanche di sana. Apalagi jalan darat, Bibiku sudah pasti akan membuat berita besar, kalau dia benar-benar datang," kata Raven.


"Ah, benar juga. Di sembunyikan seperti apa pun, kedatangan Putri Kerajaan yang telah pergi hampir sepuluh tahun pasti akan menimbulkan kehebohan," pikir Edmund.


"Apa jangan-jangan Floretta yang dibawa keluar dari dunia vampir? Tapi itu lebih nggak mungkin lagi, karena manusia mana pun yang sedang sakit, gak akan bisa bertahan setelah keluar dari dunia ini," pikir Edmund lagi.


"Jadi nggak ada yang mau kau bicarakan lagi, kan? Kalau begitu pergilah, aku ingin makan malam darah rusa segar." Tanpa basa-basi, Raven langsung mengusir Edmund dari ruangannya.


Pupil mata Raven membesar, mendengar kalimat terakhir Edmund. "Apa perasaanku terlihat begitu jelas, sampai semua orang bisa menebaknya?" pikir Raven cemas.


"Kenapa kau diam? Ucapanku benar, kan?" kata Edmund sambil menyeringai lebar.


"Itu bukan urusanmu. Dan manusia itu sembuh bukan gara-gara aku," ucap Raven.


"Dengarkan aku, bangs*t! Sebaiknya kau mengingat janji kita pada leluhur, untuk menjaga kemurnian darah vampir di kerajaan ini," kata Edmund penuh penekanan.


"Adikmu itu sudah cacat, karena tak bisa meminum darah manusia. Apa kau ingin memperlemah kerajaan kita, dengan melahirkan anak berdarah manusia vampir?" Cibir Edmund sambil berdiri dari kursinya.


"Lalu kenapa kalian semua diam saja, saat aku dikucilkan dan disebut vampir buas, hah?" bentak Raven. "Asal kau tahu, ya. Gimana pun juga aku akan mempertahankan posisi keluarga Black sebagai royal family," ucap sang pangeran dengan mata berapi-api.


*


"Floretta, dari mana saja kamu? Gimana keadaanmu hari ini?"

__ADS_1


Alden menemui floretta di dalam kamarnya. Wanita itu baru saja selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya.


"Salam, Yang Mulia. Keadaanku baik-baik aja. Aku baru saja dari Kastil Pangeran Raven. Membantu pekerjaan beliau yang menumpuk karena kita pergi liburan cukup lama," balas Floretta.


"Apa dia mengganggumu lagi?" tanya Alden.


"Emm, nggak sih," jawab Floreta sambil memutar bola matanya. Dia kembali teringat dengan sikap Pangeran Raven yang seakan menggodanya.


"Ini untukmu." Alden memberikan sebuah surat pada Floretta.


"Surat? Apa sekarang masih zamannya surat-suratan?" ucap Floretta sambil menerima surat itu.


"Ini dari Bibi Olive. Karena dia kesulitan untuk menghubungi jadi dia menitipkan surat padaku," jawab Alden.


Floretta pun membuka surat tersebut. Keningnya membuat kerutan cukup dalam, saat membaca surat itu.


"Apa yang ditulisnya, Flo?" tanya Alden.


Bibi bilang bahwa mereka kesulitan membayar hutang pada Tuan Cyano," kata Floretta. "Mereka meminta bantuanku untuk membayar hutangnya, atau menjual rumah itu," imbuhnya.


"Ah, menyebalkan. Setelah menikah pun mereka masih ingin memanfaatkanmu, ya," kata Alden berdecih kesal.


"Itulah gunanya mereka menikahkan ku pada laki-laki kaya raya," balas Floretta sambil tertawa kecil.


"Jadi apa keputusanmu?" tanya Alden.


"Biarkan saja mereka menjual rumah itu. Kalau aku membantu mereka, besok pasti mereka akan meminta lagi," kata Floretta.


"Tapi bukankah rumah itu peninggalan kedua orang tuamu?" ucap Alden. "Kamu nggak sedih merelakan rumah itu berpindah tangan kepada orang lain?"


"Nanti aku akan membelinya lagi dengan harga dua kali lipat lebih tinggi," ucap Floretta sambil tersenyum jahil.


"Hm, cerdas kamu. Orang seperti itu harus diberi pelajaran," kata Alden memuji sang istri.


"Dan aku butuh uangmu untuk membeli rumah itu lagi," imbuhnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku selalu siap membantumu, sayang," ucap Alden sambil mengecup kening istrinya. "Jadi kapan kita akan melakukan malam pertama?"

__ADS_1


Alden mendadak melontarkan pertanyaan yang tak terduga.


(Bersambung)


__ADS_2