Pelayan Simpanan Raja Vampir

Pelayan Simpanan Raja Vampir
Bab 58. Rencana Licik Sang Pangeran


__ADS_3

Tik! Tik! Tik!


Suara jarum jam yang berputar terdengar sangat jelas di ruangan yang penuh dengan hiasan kepala binatang ini. Aroma darah yang sangat kuat menusuk ke dalam hidung, hingga membuat mual satu-satunya manusia di istana tersebut. Suasana semakin mencekam, tatkala beberapa ekor anjing peliharaan istana melolong panjang, bersamaan dengan temaramnya sinar bulan purnama.


“Sudah sepuluh menit aku berada di sini. Tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Apa aku harus menyapanya terlebih dahulu?” pikir Floretta resah.


Sofa empuk yang dilapis dengan kulit jaguar itu, semakin lama terasa semakin keras bagi Floretta. Peluhnya bercucuran di tengah udara dingin, yang hanya berada beberapa derajat di atas nol derajat celcius.


“Yang Mulia …”


“Aku nggak mengizinkanmu bicara,” ucap Raven dengan datar dan dingin.


Floretta terlonjak kaget dan langsung menundukkan kepalanya. “Oh, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa dia selalu bersikap seperti ini saat suamiku tidak ada di istana,” pikir Floretta semakin ketakutan.


Keringat dingin semakin membanjiri tubuhnya. Jemarinya terasa gemetar dan dadanya terasa sesak bagai dihimpit beban yang sangat besar.


Samar-samar di bawah sinar rembulan yang masuk melalui kaca jendela, Floretta bisa melihat wajah sang pangeran yang begitu mengerikan, dengan tatapannya bagai singa kelaparan.


Tak! Raven menepukkan telapak tangannya, dan dalam seketika ruangan tersebut langsung terang benderang.


“Kudengar kerjamu hari ini cukup bagus. Madam Cruella sampai kesal karena tidak bisa memarahimu.” Raven akhirnya membuka pembicaraan.


“Te-terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih juga sudah membelaku siang tadi,” jawab Floretta dengan gugup.


“Aku jadi memahami satu hal. Kamu sangat berbakat menjadi seorang pelayan,” sambung Raven sambil tertawa nakal.


“Uh, apa?” Raut wajah Floretta yang tadi sedikit senang mendengar pujian dari kakak iparnya, langsung berubah menjadi masam.


“Kenapa? Kau tak suka dengan pujian itu?” ujar Raven setelah meneguk darah dari dalam gelasnya. Floretta ingin muntah melihatnya.


“Seperti itulah di dalam istana. Seseorang yang memujimu, belum tentu di dalam hatinya dia memikirkan hal yang sama. Kalau kau ingin menjadi ratu, kau harus siap dengan segala situasi menyebalkan seperti itu,” ucap Raven lagi.

__ADS_1


“Ah, jadi tadi dia bukan memujiku, tetapi mengujiku?” gumam Floretta dalam hati.


“Tetapi pujianku tadi memang serius, kok. Kamu bekerja cukup rapi dan sangat teliti,” kata Raven setelah beberapa saat hening.


“Terima kasih, Yang Mulia. Apa ada hal lain yang perlu saya kerjakan?” tanya Floretta dengan sangat hati-hati. “Semoga dia nggak mengerjaiku lagi kali ini. Aku udah terlalu lelah dengan permintaannya. Aku ingin segera tidur,” batin wanita itu penuh harap.


“Hei, jangan khawatir. Aku nggak sekejam itu, kok. Pekerjaanmu hari ini udah selesai,” ucap Raven, seakan bisa membaca isi kepala Floretta. “Karena pekerjaanmu hari ini bagus, aku ingin memberimu hadiah.”


Raven menuangkan darah yang berwarna merah kehitaman ke dalam gelas, lalu menyodorkanya kepada Floretta. “Minumlah,” perintah Raven.


Belum apa-apa, Floretta sudah mual melihatnya. Bagaimana dia bisa meminum cairan berbau amis itu? Jangan-jangan itu darah manusia.


“Kenapa kau diam saja? Katanya ingin menjadi ratu di sini? Minumlah,” desak Raven. Meski nada bicaraya terkesan lembut, namun Floretta tetap saja gemetar dibuatnya.


“Mohon maaf, Yang Mulia. T-tapi aku tidak bisa meminum darah,” ucap Floretta dengan sangat lirih.


“Kau berani menentangku? Apa kau nggak pernah dengar, tentang para pelayan dan putri bangsawan yang melawanku? Mereka semua berakhir di bukit Deadwood,” ucap Raven.


“Apa yang akan aku lakukan? Aku tidak mungkin meminum cairan ini. Tapi kalau aku menolaknya, bisa-bisa dia langsung memenggal kepalaku.” Floretta merasa sangat resah, berhadapan dengan situasi ini.


Tangan Floretta bergerak perlahan, meraih gelas kristal berisi cairan merah itu. Dahinya berkerut, tatkala indra penciumannya menghirup aroma darah yang sangat memabukkan tersebut. Tiba-tiba tangan Floretta berhenti, saat permukaan gelas tersebut berjarak kurang dari tiga sentimeter dari bibirnya.


“Ah, sekarang aku mengerti. Daripada repot-repot membunuhku, lebih baik dia membuatku tidak betah berada di istana, dan lebih memilih membuatku mati kesakitan secara perlahan,” ucap Floretta dalam hati. “Tapi kalau perkiraanku salah, artinya dia sedang mengujiku,” batin Floretta lagi.


“Apalagi yang kau tunggu?” tanya Raven tak sabar.


“Aku mencium aroma aneh dari gelas ini, Yang Mulia. Apa Yang Mulia sudah mencoba ini sebelumnya?” tanya Floretta dengan dada berdebar.


“Kau tak lihat, tadi aku menghabiskan segelas darah?” balas Raven.


“Tetapi aku tak melihat Yang Mulia menuangkan darah dari dalam teko tersebut ke dalam gelas. Bisa jadi cairan ini dan cairan yang ada di dalm gelas Yang Mulia berbeda,” kata Floretta.

__ADS_1


“Hmm, cerdas juga dia,” gumam Raven dalam hati.


“Maaf, Yang Mulia. Ini terdengar tidak sopan. Tetapi darah ini tidak seperti bau darah biasanya. Ini sepertinya sudah dicampur dengan Glikosida sianogenik dari buah apricot,” ucap Floretta.


“Huh? Jadi kamu menuduhku memasukkan racun ke dalam sana? Itu cuma alasanmu agar tidak meminum darah, kan? Bagaimana seorang manusia sepertimu bisa membedakan bau darah?” kata Raven dengan mata berapi-api.


“Bukan begitu, Yang Mulia. Aku cukup lama bekerja di restoran, dan aku dibekali beberapa ilmu. Glikosida sianogenik adalah zat berbahaya yang secara alami terdapat pada beberapa tanaman. Aromanya seperti kacang almon yang pahit, namun tidak merubah warna,” ucap Floretta.


“Cih! Ternyata dia terlalu cerdas untuk dikelabui,” umpat Raven dalam hati.


Wanita itu bergerak menuju meja kerja Raven, lalu mengambil sebuah benda di sana.


“Mau ngapain kamu?” tanya Raven. “Cepat minum itu. Lalu kita akan tahu, apakah minuman itu dicampur dengan racun atau tidak,” desaknya.


“Perak bisa bereaksi saat terkena racun. Kalau darah ini memang sudah dicampur dengan racun, maka pena ini pasti akan menghitam … seperti ini,” ucap Floretta, sembari mencelupkan ujung pena tinta berbahan perak tersebut.


Tak seperti yang Floretta duga, Raven justru tertawa melihat sikapnya barusan.


“Sudah kuduga, kamu tak sebodoh yang aku kira,” ujar Raven sembari menepuk tangannya.


Kening Floretta berkerut melihatnya. “Ternyata benar, dia sedang mengujiku?” ujar Floretta dalam hati. Dia merasa sedikit lega, karena lolos dalam jebakan Raven kali ini. Apa jadinya kalau dia tadi langsung meminumnya?


“Satu hal lagi yang perlu kamu ingat, tidak ada seorang pun yang bisa kamu percaya di istana ini. Kalau kau lengah dan tidak tahu cara mengatasi hal-hal seperti tadi, kau akan cepat mati,” ujar Raven sambil tersenyum. Ini pertama kalinya Floretta melihat sang pangeran tersenyum manis.


“Baik, aku akan mengingat hal itu, Yang Mulia,” jawab Floretta.


“Karena kamu sudah lolos uji hari ini, aku akan menaikkan jabatanmu. Mulai besok, kamu akan jadi pelayan pribadiku. Kau nggak perlu bekerja di gudang lagi,” kata Raven.


“Astaga! Kenapa aku jadi malah semakin ngeri, ya?” batin Floretta. Senyuman manis sang pangeran, seakan menyimpan sejuta rencana untuk menjahili Floretta.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2