
Cahaya matahari mulai menerobos melalui celah gorden yang menutupi kaca jendela yang besar di kamar itu. Hujan pun telah berhenti setelah semalaman mengguyur dengan derasnya. Ruangan itu pun tidak lagi sepekat tadi malam.
Sita terbangun dari tidurnya dengan membuka separuh mata dan mendelik ke keisi ruang kamar. Hingga ia menoleh ke samping, ternyata Haris sudah tidak ada lagi di sana. Ia terbelalak seketika sambil menyingkap selimutnya.
Hah! Aku masih berpakaian lengkap? Semalam bukankah ... ? Ya Tuhan, lalu dimana Mas Haris? Bukankah aku sangat mendengar sekali semalam itu aku dan dia ... ? Aisshh!
Sita panik seketika. Semalam, ritual malam pengantin itu sangatlah nyata baginya. Bahkan ia merasakan sekali sakit di area sensitifnya saat pisang mengkel itu menerobos paksa masuk ke dalam palung terdalam miliknya.
Tetapi kenapa terasa aneh? Bahkan noda bekas bercak darah sekalipun tidak ada di sana. Apa dia hanya bermimpi, tapi tidak mungkin! Ada apa sebenarnya? Pikir Sita demikian.
Sita akhirnya turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Ia segera menyelesaikan mandinya dengan ekstra cepat, setelah itu ia pun memakai pakaiannya.
Ia membiarkan rambut yang di konde asal-asalan itu terpasang di kepalanya. Tak lupa, ponsel yang sebelumnya ia letakkan di atas nakas pun, diraihnya lalu keluar dari kamar.
Sita memejamkan kedua matanya sambil menarik napasnya dalam-dalam. Walau sebenarnya, detak pada jantungnya itu sangat cepat. Ia pun berusaha menetralkan nya.
Villa itu tampak sepi, Sita melihat jam besar yang terpasang di dinding ruang keluarga dan dapat terlihat di lantai dua itu telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia mempertegas langkahnya, mencari keberadaan kedua orangnya.
Langkahnya kemudian terhenti saat melihat Jundi melambaikan tangan pada sebuah mobil Sedan berwarna hitam yang baru saja meninggalkan halaman villa itu.
Siapa yang ada di dalam mobil itu? Kenapa wajah ayah tampak murung? Sebenarnya apa sih yang terjadi?
Sita bermonolog di dalam hatinya. Berusaha mencoba memahami kejadian yang ia alami dengan akal sehatnya. Apalagi soal semalam, ia menganggap hal itu adalah sebuah illusi yang sangat nyata.
Sentuhannya, suaranya. Ah! Sita benar-benar diluar kendalinya. Ia merasa frustasi, apalagi lampu yang mati salaman. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, laki-laki yang telah ber.ci.nta dengannya.
"Sedang apa kamu di sini, Sita?"
Sita melonjak kaget seraya memejamkan kedua matanya saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia pun menoleh.
"Ayah, sejak kapan di sini?" Sita malah balik bertanya. Jundi mengernyit mendengar pertanyaan yang Sita lontarkan.
__ADS_1
"Ayah habis antar suamimu tuh, kamu sih bangunnya siang banget." Jundi mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu itu.
"Mas Haris pergi?" tanya Sita memastikan. Jundi memberi anggukkan kepala seraya bergumam. "Ada pesan gak buat Sita? emangnya Mas Haris mau kemana sih, Yah?" Sita mencecar ayahnya. Kini dia benar-benar sangat penasaran.
"Pesan? Oh ... katanya pesannya ia taruh di atas buffet, gitu aja kok gak ada yang lain." Jawaban Jundi merasa Sita cukup kecewa. Ia kira, Haris akan menitipkan pesan lewat ayahnya. Tetapi dugaannya salah.
"Ya udah deh, Sita ke kamar lagi ya, Yah." Sita kemudian pergi dari hadapan ayahnya menuju kamarnya kembali.
Hari ini memang hari liburan terakhirnya di villa dan sore ini, dia beserta kedua orang tua dan keluarga besarnya yang lain kembali lagi ke Jakarta.
*****
Setibanya di kamar, buffet adalah target utamanya. Sita menutup pintunya kembali dan berjalan ke arahnya.
Tampak sebuah kotak ukuran sedang berwarna magenta dengan pita berwarna gold berdiri dengan cantiknya di sana. Saat telah dekat, ternyata bukan hanya kotak. Ada ponsel, kartu ATM, kunci mobil dan juga sebuah amplop berpita kan orange.
Sita mengambil amplopnya terlebih dulu, lalu ia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepinya. Ia mulai membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.
Dear Istriku,
Semalam itu nyata. Tetapi setelah kita selesai bermain, aku mendadak mendapat panggilan dari kantor. Aku merasa panik saat kamu pingsan. Aku pun meminta tolong kepada beberapa pelayan di villa untuk segera membereskan semuanya.
Tapi kamu jangan salah, aku yang telah memberikanmu pijatan khusus di area intimu supaya tidak sakit setelah kau terbangun. Aku juga yang telah memakaikan mu piyama itu. Hebat kan aku? hehe ...
Maaf, sekali lagi aku minta maaf kepadamu. Harusnya saat kamu terbangun, aku masih ada di sampingku. Sebab, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku di sana lama-lama.
Minggu depan, aku akan mengunjungimu kembali. Aku yang sedang berusaha mencintaimu.
Suamimu,
(TTD)
__ADS_1
Haris Lingga Barista
Air matanya seketika menetes setelah membaca surat dari Haris. Berarti kejadian semalam, itu memang nyata. Pikir Sita demikian.
Ia segera menyeka air matanya dan menaruh secarik kertas beserta amplopnya di atas tempat tidur. Lalu menghampiri sebuah kotak yang sejak tadi menyita perhatiannya.
Matanya terbelalak dengan sempurna saat mengetahui isi kotak tersebut.
"Wah, dress-nya cantik. Tapi kok seksi banget ya ... tunggu, apa ini?" Sita bermonolog lalu menemukan secarik kertas lagi dari dalam kotak tersebut.
Minggu depan, kamu harus sudah pindah ke apartment yang sudah aku persiapkan. Oh iya, sambut kedatanganku dengan dress itu ya. Jangan lupa loh!
Sita menarik kedua sudut bibirnya. Karena penasaran, Sita pun mencobanya lebih dulu sebelum di depan Haris nanti.
Ia segera pergi ke walk in closet. Sesaat kemudian, ia menatap heran dirinya sendiri dari pantulan cermin besar yang ada di hadapannya.
Seluruh tubuhnya terlihat, sebuah dress berwarna merah marun dan dengan dua buah tali berukuran kecil di pundaknya. Bukan hanya itu, bagian punggungnya pun ter-ekspose sangat indah.
Baru kali ini. ia melihat sisi positif yang ada pada dirinya sendiri. Dimana, tanpa sadar dia pun berkata, "Ternyata aku cantik juga pakai ini."
Mungkin mulai saat ini, Sita harus lebih memperhatikan dirinya sendiri. Apalagi sekarang dia telah bersuami. Merubah penampilan memang pilihan yang tepat untuk Sita saat ini.
Setelah cukup lama bercermin. Ia segera mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.
****
Jam, menit, dan detik tak terasa bergulir sangat cepat. Penghuni villa itu telah masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
Para pelayan pun telah berbaris di halaman villa untuk melakukan perpisahan dengan majikan mereka. Mobil pun akhirnya satu-per-satu meninggalkan halaman villa itu.
Demikian dengan Sita. Sepanjang perjalanan, ia menyalakan ponsel yang diberikan oleh Haris. Ponselnya sangat berbeda dengan yang Sita miliki. Tentunya pemberian Haris ini merupakan keluaran terbaru di zaman yang kian modern.
__ADS_1
Sejak lama, Jundi sebenarnya telah meminta Sita mengganti ponsel. Tetapi, tak kunjung di dengarkan oleh anak semata wayangnya itu. Sebab, Sita lebih senang berlama-lama di depan laptop, ketimbang ponselnya.
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...